Bagian 35 Aku menatap wajah Kaivan yang terlelap di sampingku saksama. Mengamati matanya yang terpejam, tarikan napasnya yang teratur, bibir kemerahan yang setengah terbuka, alis tebal yang melengkung damai, dan juga rambut acak-acakan yang terlihat seksi. Jika dalam keadaan seperti ini, Kaivan tampak seperti malaikat tanpa dosa. Kelebatan ingatan satu jam yang lalu membuat pipiku kembali merona. Aku tidak menyangka jika akan menyerah semudah ini pada Kaivan. Kata-kata manis yang terlontar dari bibirnya dan kecupan penuh gairah disekujur tubuhku membuatku tidak bisa menolak. Bahkan, rasa nyeri dilenganku pun tidak terasa, berganti gelenyar menyenangkan di seluruh tubuh. Jika ditanya apa aku menyesal, jawabannya adalah tidak. Karena aku sudah memberikan kehormatan yang selama in

