Bagian 36 Tertunduk, aku menyeka air mata yang terus saja luruh. Di sampingku, Alvira masih mengusap-usap punggungku menenangkan. Tapi rasanya dadaku sesak sekali, seperti dihimpit ribuan beton tak kasap mata. Mengambil napas dalam, aku mencoba untuk mengendalikan diri. Hal yang kutemukan pertama kali saat aku mendongak adalah wajah khawatir Adreno. Aku tersenyum pedih. Gara-gara perbuatan Petra, Adreno hampir saja kehilangan nyawa. Dan aku merasa sangat hancur sekarang. Seolah-olah hidupku sudah tidak ada gunanya lagi. Orang-orang yang selama ini aku percaya dan banggakan, ternyata malah mengecewakanku sampai sedalam ini. Aku memejamkan mata sejenak, bersiap mengatakan kebenaran tentang siapa diriku, juga permintaan maaf atas nama Petra karena perbuatannya. Tapi, baru saja bibirk

