bc

Young Mistress

book_age18+
972
IKUTI
6.4K
BACA
possessive
love after marriage
arranged marriage
kickass heroine
dare to love and hate
drama
sweet
bxg
icy
lonely
like
intro-logo
Uraian

"Menikahlah denganku, Ran."

Tawaran itu datang dari seorang pria kaya raya yang suatu hari datang ke rumah kumuh Ran dan tiba-tiba menawarinya sebuah pernikahan. Ran bukanlah siapa-siapa, dia tidak punya asal-usul yang jelas, dan hidupnya selalu melarat. Terlebih, dia tidak mengenal pria itu.

Tapi Ran segera menyahut dengan tenang, "Apa saja keuntungan yang akan aku dapatkan kalau aku setuju?"

Kemudian si pria asing menjawab dengan sebuah senyum memikat tersemat di bibirnya, "Banyak," katanya. "Salah satunya adalah kedudukan nyonya besar baru dalam keluargaku. Kalau kamu setuju, aku akan menjadikanmu seorang ratu, tidak kurang."

"Baik, aku setuju," jawab Ran.

Rasanya seperti seorang cinderella di negeri dongeng yang dilamar oleh seorang pangeran tampan dari kerajaan berkuasa.

Tapi sayangnya, Ran bukanlah cinderella. Seorang pangeran baru saja melakukan kesalahan besar karena telah melamar si ibu tiri yang jahat, mengiranya sebagai si gadis baik yang lugu.

Lantas, bagaimana kah kehidupan Ran selanjutnya setelah menjadi istri pria itu? Apakah semuanya akan jadi lebih baik dari kehidupan Ran sebelumnya? Atau justru ... lebih buruk?

???

©2021 by Asia July

[Pic : Unsplash - Alex Shaw]

chap-preview
Pratinjau gratis
Prologue [SEASON 1]
Ran Sidra benar-benar berpikir bahwa hidupnya memang terkutuk. Persis seperti apa yang baru saja pria kurang ajar itu katakan setelah Ran menendang selangkangannya dan berlari sekencang mungkin menjauh dari belakang café yang gelap itu. Saat melihat sebuah celah kecil yang dihimpit oleh dua tembok tinggi gedung di mana dia rasa bisa bersembunyi—Ran menoleh ke belakang sebentar memastikan pria itu tidak mengejarnya, lalu dia berbelok ke sana. Napas Ran menderu. Angin malam yang menerpa wajahnya tadi membuat sekujur tubuhnya kini terasa dingin.   Tapi sebenarnya, rasa dingin itu Ran dapatkan dari perasaan menjijikkan yang menusuk masuk ke kesadaran dirinya.   Aku kotor, pikir Ran saat mengingat bagaimana pria tadi memeluknya dari belakang dan menyentuh Ran tanpa izin. Ran mengusap wajahnya yang kelelahan. “Benar-benar menjijikkan,” gumamnya dengan suara membeku. Keheningan yang berlanjut selama beberapa menit ke depan meyakinkan Ran bahwa sudah tidak ada lagi siapa pun di jalan itu selain dirinya. Ran melongokkan kepala dari balik tembok, menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada siapa pun. Dengan itu, Ran pun menghela napas lega lantas keluar dari persembunyiannya. Dadanya masih terasa berat setiap kali dia menarik napas, dan kakinya melemas dalam setiap langkah. Namun Ran tidak berhenti berjalan. Tidak ada siapa pun di sana bukan berarti dia akan terus aman. Ran mempercepat langkahnya, ingin segera sampai di tempat keramaian. Suara langkah kaki lain terdengar di belakang. Ran refleks berhenti, berharap bahwa itu hanya kesalahan pendengarannya saja, namun langkah kaki itu masih terdengar yang berarti bahwa itu bukan miliknya. Tuk! Tuk! Tuk! suaranya terdengar seperti itu. Detak jantung Ran kembali menggila. Jangan bilang laki-laki tadi masih mengejarnya?! Sedetik setelah itu, Ran langsung melanjutkan langkahnya. Awalnya dia berjalan cepat, namun dirasakannya langkah kaki lain itu juga melakukan hal yang sama. Panik, Ran pun berlari. Tapi baru beberapa langkah lengannya ditarik   Ran memekik terkejut dan meronta dengan sekuat tenaga. “Hei! Hei! Tenang, Ran!” kata sebuah suara bariton milik si pria asing. Rontaan Ran terhenti saat mendengar namanya disebut. Mata Ran memicing tajam menatap pria asing di hadapannya. Dia bukanlah pria yang tadi mengincar Ran dan telah bertindak tidak senonoh pada Ran. Pria ini ... berbeda, tapi senyum di bibirnya tampak aneh, dan itu membuat Ran tidak nyaman.   Siapa pun dia, Ran harus cepat-cepat menjauh darinya. “Lepaskan aku!” ronta Ran, mencoba melepas tangannya dari pegangan pria itu. “Ran, tenanglah. Aku tidak akan melakukan apa pun padamu.” Ran memelototi si pria. “Siapa kamu? Dan dari mana kamu tahu namaku?!” Pria asing itu lagi-lagi tersenyum. Senyumnya manis sekali, tapi sayangnya tidak berhasil memikat Ran sedikit pun karena kewaspadaan tinggi yang mengalihkan semua fokusnya pada apa pun. “Aku mengenalmu,” jawab pria itu dengan enteng. “Jadi percayalah, aku tidak akan melakukan apa pun padamu seperti yang pria tadi telah lakukan.” Suaranya terdengar menggelap di akhir. Pria itu mengenal Ran, tapi Ran sama sekali tidak mengenalnya. Dan hal itu justru semakin menakutkan bagi Ran. Apa pria ini seorang penguntit? pikir Ran, meningkatkan kembali kewaspadaannya yang sudah berada di atas levelnya sendiri. “Dari mana kamu tahu apa yang sudah pria itu lakukan?” tanya Ran penuh curiga. Kemudian dia tersadar, jangan-jangan pria ini adalah pria yang sama; si orang kurang ajar tadi! Mata Ran kembali membelalak terkejut dan sekali lagi dia berupaya untuk melepaskan dirinya. Pergelangan tangannya mulai terasa sakit karena cengkeraman pria itu. Menyadarinya, si pria pun refleks melepaskan Ran, tapi sedetik setelah itu kedua tangannya memegang bahu Ran dan menahannya di sana. Ran meronta. “Lepas!”   Tapi mungkin dikarenakan tenaganya yang telah terkuras habis karena berlari tadi, Ran tidak bisa berbuat banyak, padahal pria itu hanya menahan bahunya saja. Ran benci menyadari dirinya yang selemah ini. Ran menelan ludahnya susah payah, lalu mengatur kembali napasnya. Dia menatap pria di hadapannya, yang sedari tadi juga tidak melepas pandangannya dari Ran. “Aku akan bertanya baik-baik, siapa kamu? Dan dari mana kamu tahu namaku? Apa kamu ... menguntitku?” Suara Ran terdengar lebih tenang dan terkontrol saat menanyakan serentetan pertanyaan itu. Tapi yang Ran dapatkan sebagai jawabannya justru tawa yang menggelegak, memecah suasana sunyi di sekitar mereka. Ran menatap si pria dengan heran. “Maaf,” kata pria itu setelah menyelesaikan tawanya. “Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kamu melepasku lebih dulu,” sahut Ran sengit. Senyum jenaka bermain di bibir si pria. Dia lalu merogoh saku jas hitam yang dikenakannya, mengambil sebuah ponsel dari sana, mengotak-atiknya sebentar, lalu mengarahkan layarnya pada Ran. Tatapan heran Ran bercampur dengan kebingungan saat melihat foto seorang wanita di layar ponsel itu. “Kamu kenal wanita ini?”   Ran menggeleng. Si pria menggulir ke samping, menampilkan foto wanita yang berbeda. “Ini?” Sekali lagi, Ran menggelengkan kepalanya. Pria itu berdecak, kemudian dia memperlihatkan satu lagi foto. “Bagaimana dengan pria ini?” Kepala Ran terteleng ke samping, menatap wajah pria di dalam foto itu dengan bingung. Setelah lama berpikir dan tidak kunjung menemukan jawabannya, Ran berdecak keras lantas menepis ponsel si pria dari hadapannya, pun juga tangan pria itu di bahunya. “Apa kamu menghampiriku untuk menanyakan orang-orang hilang atau ....” Ran menatap ponsel itu lagi dan melanjutkan, “... seorang buronan?” “Tidak. Aku—” “Ah! Sudahlah!” potong Ran cepat. Dia menatap pria di hadapannya dengan tatapan datar. “Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang aneh sepertimu!” tukasnya. Lalu setelah itu dia berbalik dan melangkah pergi dengan cepat sebelum pria itu mampu menahannya lagi. Tapi ucapan lantang si pria di belakangnya berhasil menghentikan langkah Ran kembali; “Ran! Apa kamu tidak penasaran bagaimana aku bisa mengetahui namamu? Dan siapa orang-orang yang ku tunjukkan tadi?” Deg! Rasanya jantung Ran seolah berpindah dari tempatnya. Benar, dia telah melupakan hal yang terpenting. Tapi entah apa pun yang akan pria itu katakan, sudah menakuti Ran lebih dulu. Kakinya masih lemas dan jantungnya kian berpacu cepat, Ran tidak berpikir dua kali lagi untuk melanjutkan langkahnya pergi dari sana, dia berlari sekencang mungkin. Ketika menemukan jalan raya yang lumayan ramai dengan kendaraan, barulah Ran dapat bernapas lega. Kepalanya menoleh ke belakang, tidak menemukan pria itu di sana. Bahkan sejauh matanya memandang ke arah gang itu, tidak ada siapa pun di sana kecuali sunyi dan gelap. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K
bc

Tentang Cinta Kita

read
190.9K
bc

Siap, Mas Bos!

read
13.8K
bc

My Secret Little Wife

read
99.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
206.5K
bc

Iblis penjajah Wanita

read
3.7K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
15.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook