“Ran.” Tubuh Ran berjengit kala mendengar panggilan yang diucapkan ibu mertuanya. Ini adalah pertama kalinya Ayunindya memanggil nama Ran. “Y-ya, Nyonya?” sahut Ran. Dia tidak peduli lagi tentang sandiwara wanita elegan atau kendali diri yang membuat menjadi percaya diri. Sekarang yang tengha dia hadapi adalah ibu mertuanya sendiri, yang sebelumnya bersikap sangat cuek pada Ran. “Ayo kita duduk-duduk dan mengobrol di sana,” kata Ayunindya pada Ran, tatapannya tertuju pada sebuah meja yang dikhususkan untuk tamu menikmati minuman dan kudapan yang tersedia. Ran tentu saja tidak menolak dan mengikuti Ayunindya di belakang, seraya berpikir bahwa mungkin setelah tidak banyak orang yang melihat ibu mertuanya akan bersikap seperti semula. Namun sepertinya tidak benar-benar begitu. Ayu mengam

