Satu per satu, Ran memperhatikan mobil-mobil itu meninggalkan parkiran hotel yang sangat luas. Perut Ran serasa dililit dan dia ingin memuntahkan semua yang dia telan malam ini di pesta, tapi Ran tahu itu hanya karena perasaannya saja yang tengah gelisah. Ran duduk bersama seorang wanita yang tidak dia kenal, wanita yang mungkin juga bernasib sama seperitnya; menunggu jembutan. “Kamu bakal diam di sini sampai besok?” tanya perempuan itu, sembari bangkit sendiri. Ran semakin merasa tidak menentu di dalam. “Sopirku sepertinya terjebak macet. Aku akan memesan satu kamar hotel saja,” gumam perempuan itu, entah dia mengatakannya untuk Ran atau justru bergumam pada dirinya sendiri. Tapi ketika perempuan itu meliriknya dan mengucapkan selamat malam, Ran juga melakukan hal yang sama. Dia bersy

