Aku tidak ingin terus memaksamu untuk terus disisiku. Tapi bagaimana aku harus menghadapinya, jika kamu hilang sedikit saja aku seperti kesulitan bernafas.
Aku tahu, dan sangat mengerti duniamu bukanlah tentang aku saja. Tapi rasanya absennya hadirmu dalam beberapa hari dapat meruntuhkan dunia ku.
Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman dengan aku yang selalu merajuk, terus menerus merapalkan rindu kala kamu kembali dalam hilangmu. Tapi rindu ini terlalu berat jika harus aku pikul sendiri, sayang.
Entah mengapa aku bisa semenyebalkan ini, aku hanya tidak bisa membendung lagi rasa cintaku ini. Ini terlalu banyak, hingga kadang ketakutan muncul kala kamu sedang tidak bersamaku.
Muncul ketika, kamu bilang sedang tidak sibuk tapi seperti sibuk.
Hingga tinggalah aku seperti perempuan malang kesepian yang selalu menunggu pesanmu, menunggu kabarmu, menunggu balasan rindumu.
Sampai akhirnya aku mulai bingung, siapa yang harusnya mengerti disini. Bisakah kau mengerti aku pun rindu?
Kau bilang disana pun kau merindu. Tapi kenapa seperti hanya aku saja yang memikul rindu ini sendirian? Aku sampai mengira hal-hal buruk. Pikiranku mulai bertanya-tanya apakah kau mencintaiku? Apa jangan-jangan tidak? Kau bahkan tidak melakukan hal-hal romantis atau usaha apa pun untuk membuktikan kerinduanmu itu.
Aku hanya takut sayang
Aku juga hanya merindukanmu sayang
Aku takut sikapku ini membuatmu tak nyaman, tapi aku rindu kamu.
Aku cuma merindukanmu