Aku termangu menatap vending machine di hadapannya, setelah memasukan beberapa lembar uang. Kopi atau Teh?
Sore itu hujan, sehingga aku tertahan di kampus. Tidak bisa pulang. Belum juga aku menekan tombol di mesin otomatis tersebut. Seseorang dengan enaknya menekan, ia menekan kopi. Aku menoleh kemudian menemukan seorang perempuan yang sangat ku kenal.
Cengiran yang dipermanis lesung pipi di sebelah kanan, membuat otot bibirku ikut-ikutan latah. Ikut nyengir.
"Jadi kenapa kopi?" Tanyaku sambil mengambil kopi kalengan dari mesin minuman otomatis tersebut.
Gadis itu sok berpikir, "Kopi itu laki banget soalnya." Jawabnya cengengesan.
Aku tersenyum sambil meneguk kopiku.
Lalu ia memasukkan beberapa lembar uang, dan menekan tombol untuk kopi kalengan juga.
"Terkadang, kita harus melihat kehidupan kayak minum kopi." Ujarnya, sambil membuka kopi kalengnya.
Aku menatapnya, menuntut penjelasan. Ia meneguk kopi miliknya.
"Kopi..." ia diam sejenak menatap hujan, kemudian tersenyum.
Kau tahu bagaimana aku jatuh cinta pada pemilik lesung pipi di sebelah kanan ini? Aku jatuh cinta saat dia tersenyum melihat hujan. Dan saat ia melakukan hal itu seperti sekarang ini. Aku akan kembali, dan kembali jatuh cinta padanya.
"Selalu ada manis disetiap pahitnya. Sama halnya dengan kita memandang kehidupan, selalu ada kemudahan disetiap kesulitan. Itu kepastian." Lanjutnya yang kini sedang tersenyum memandangku.
Aku ikut tersenyum sambil menganggguk, setuju.
"Sayang, kamu nunggu aku ya? Yuk pulang aku bawa payung nih."
Kamu berdua menoleh ke sumber suara. Mellin kekasihku ternyata. Aku melemparkan senyum kikuk kepadanya. Kemudian saat kembali menoleh, gadis berlesung pipi itu sudah jalan. Menembus hujan, dengan kopi kaleng ditangan. Menyusuri hujan, sambil tersenyum.
Aku tersenyum kecut. Kita adalah skenario yang tidak akan pernah terjadi. Aku ingin menjadi pemillik pelukmu yang paling nyaman. Tapi bagaimana bisa jika hatiku sudah dimiliki orang lain?