Chapter 6
Teman Lama
Max memeriksa jam tangannya, sudah sepuluh menit Nichole belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Apa dia selalu begini?" tanya Max pada Fred.
"Tidak juga, dia gadis yang manis dan disiplin."
"Benarkah?"
"Dia juga sangat gigih dengan cita-citanya."
Max menatap Fred dengan serius. "Dia ingin menyelesaikan misi ini dalam waktu satu bulan."
"Kurasa dia akan menyelesaikannya," ujar Fred dengan serius.
"Kau tidak bosan hanya mengawalnya setiap hari?" tanya Max setelah beberapa detik.
"Ini adalah bagian dari pekerjaan, kenapa harus bosan?"
Max mengedikkan bahunya karena Nichole keluar dari rumah dan berjalan menuju ke arah mereka berdua. Max mengamati Nichole sekilas, wanita itu mengenakan gaun di atas lutut berlengan panjang dengan tali spageti di bagian d**a berwarna putih dengan corak hitam itu terlihat cocok di tubuh Nichole dipadukan dengan sepatu tinggi membuat kaki Nichole terlihat panjang dan ramping.
"Apa penampilanku tidak cocok?" tanya Nichole kepada Max dan Fred yang sudah menunggunya di depan mobil dan tatapannya beradu dengan Max.
Mata wanita itu berwarna hijau berbingkai, rambutnya pirang, dan memiliki tubuh yang proporsional. Dengan tubuh yang proporsional itu menurut Max, Nichole cocok mengenakan apa saja di tubuhnya bahkan penampilan Nichole terlihat sangat nyaman dipandang hingga Max tidak dapat memungkiri jika wanita di depannya itu sungguh sangat menawan dan Max tidak bisa menolak pesona Nichole.
Max hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji penampilan wanita di depanya, tetapi Max dan Fred belum sempat memberikan komentarnya dan wanita itu sudah menutup pintu membuat Max dan Fred hanya bisa saling bertatapan lalu menunggu Nichole kembali. Setelah sepuluh menit Nichole keluar dan wanita itu mengenakan celana panjang berwarna putih dengan potongan straight dan model atasan tanpa lengan dengan tali spageti lalu Nichole menambahkan blazer yang hanya diletakkan begitu saja tanpa memasukkan lengannya untuk menutupi bahunya.
Max lalu mengemudikan sebuah Maserati menuju sebuah kawasan perumahan mewah di New York dan di sampinya Fred duduk dengan santai. Biasanya ia hanya mengemudikan sebuah BMW yang merupakan hadiah saat ia berulang tahun ke delapan belas, bertepatan dengan ia mendapatkan lisensi mengemudinya untuk pertama kali.
Ayahnya dulu adalah seorang komandan di Departemen Pertahanan Amerika Serikat, tetapi sekarang sudah pensiun dan memilih meneruskan peternakan di pinggiran kota Washington yang merupakan warisan milik kakek Max. Sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang mengurus segala rumah tangga dan anak-anak di keluarga mereka yang berjumlah empat, Max adalah anak terakhir dan ia memiliki saudara kembar yang kini tinggal di Dubai.
Seharusnya Max bersama Nichole malam itu, tetapi ia harus menemui salah satu komandan FBI, Raymond Weil yang akan terlibat dalam pencarian Igor Rumanov dan kebetulan mereka akan bertemu di tempat yang tidak jauh dari rumah yang akan dikunjungi Nichole.
Max sudah menyelidiki siapa yang berulang tahun dan Max juga menyusupkan agen pengawal swasta yang ia sewa untuk menyelidiki pesta ulang tahun yang akan dihadiri Nichole untuk memastikan tempat itu aman, bahkan sebagian besar tamu yang akan datang daftarnya ada di tangan Max. Max memang tipe orang yang mudah curiga, mungkin karena ia terbiasa berada di berada di lapangan yang mengharuskan dirinya siap siaga dengan segala kemungkinan buruk.
"Nona, kau tidak boleh jauh dari Fred," kata Max mengingatkan Nichole.
"Aku mengingatnya," kata Nichole.
"Rumah yang akan kalian datangi adalah rumah keluarga Smith, kalian tidak boleh melakukan hal yang dapat memancing opini publik. Terutama Anda, Nona Elingthon," kata Max sembari melirik Nichole yang duduk di jok belakang melalui spion, seperti saat perjalanan dari airport.
***
"Harvey.... Jadi, Nona Elingthon ini gadis yang kaubicarakan tadi?" tanya seorang pria sambil bangkit dari duduknya.
Fred mengenali siapa pria itu karena Max memberikan data lengkap orang-orang yang datang ke pesta itu, kapten basket yang berulang tahun adalah putra Brandon Smith, ketua salah satu partai politik di Amerika Serikat dan kebetulan menjadi lawan partai yang mendukung Grayson J. Elingthon.
"Dia Ethan, kapten tim kami," kata Harvey memperkenalkan kapten basketnya kepada Nichole.
Nichole tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Ethan. "Hai, Ethan. Selamat ulang tahun."
Ethan menjabat tangan Nichole dan sekilas melirik Fred. "Terima kasih. Aku sudah Sering melihatmu di televisi dan media sosial, tidak menyangka jika kita akan bertemu secara langsung di rumahku."
"Aku dan Harvey adalah teman sekelas saat sekolah menengah atas dan kami cukup lama tidak bertemu, dia tiba-tiba mengajakku dan aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya," jawab Nichole seraya tersenyum.
"Harvey adalah teman yang menyenangkan," kata Ethan seraya tersenyum lebar. "Kalian duduklah, nikmati pesta ini."
Ethan lalu memanggil pelayan untuk menyiapkan minuman untuk Nichole, tetapi Nichole meminta air mineral. Ia telah berkomitmen untuk tidak menyentuh alkohol dalam hidupnya, maka dengan alasan apa pun tidak seorang pun dapat merobohkan komitmennya itu.
"Jadi, apa rencanamu setelah kembali ke sini?" tanya Harvey sembari duduk di kursi samping Nichole.
"Aku berencana melanjutkan kuliahku," kata Nichole. Ia tidak memiliki niat untuk membicarakan niatnya untuk tetap melanjutkan studinya di Cambridge meskipun ia telah lama mengenal Harvey.
"Kukira dulu kau akan melanjutkan bisnis keluargamu, maksudku bisnis kakekmu," kata Harvey seraya menimang-nimang botol air mineral di tangannya dan matanya menatap wajah Nichole.
"Aku tidak begitu tertarik dengan bisnis, mungkin adikku yang akan melanjutkan bisnis keluarga kami nantinya."
"Yeah, seingatku dulu kau suka membaca buku tentang sejarah. Kukira kau akan menjadi arkeolog atau ahli sejarah," ujar Harvey dan tatapan matanya sangat lembut menatap Nichole.
Nichole tersenyum kepada Harvey. "Kau mengingatnya?"
"Bahkan aku ingat kau pernah menjatuhkan komik tentang detektif di kelas."
Nichole tidak menyangka jika Harvey mengingat hal kecil seperti itu dan tentunya pernyataan Harvey membuat Nichole senang. Ia berdehem. "Omong-omong, bagaimana kabar teman-teman kita yang lain? Maksudku selain Maddy, apa kau pernah bertemu dengan mereka?"
"Kau ingat Henry?" tanya Harvey dan Nichole menggeleng. "Dia duduk di belakangku, yang sedikit urakan penampilannya dan suka berganti-ganti warna rambut sedikit norak."
Nichole mengingat-ingat Henry. "Yang rambutnya pernah berwarna ungu terang dengan gaya punk?"
"Kau benar."
Nichole memajukan tubuhnya dan matanya terlihat berbinar-binar, sangat tertarik dengan cerita Harvey. "Dia baru lulus sekolah pastri di Paris dan beberapa hari yang lalu membuka cafe."
"Oh, ya?" Tanya Nichole dan alisnya sedikit terangkat.
"Kau mau mencoba kue-kue buatannya?"
"Di mana cafe-nya?"
"Aku akan mengajakmu ke sana jika kau ingin mencoba kue buatan Henry."
Tentu saja Nichole tertarik untuk mencoba kue buatan Henry—karena Harvey yang mengajaknya pastinya. Nichole segera mengangguk.
"Kapan kau ada waktu?"
Nichole belum menjawab ketika Maddy tiba-tiba muncul di depannya bersama seorang gadis.
"Nichole...," sapa Maddy seraya mendekati Nichole. "Harvey tidak bilang kalau kau akan ke sini."
Nichole bangkit dari duduknya. "Ini agak mendadak, aku tidak sempat memberitahumu."
"Oh," kata Maddy seraya melirik Harvey. "Dia adik Ethan, Lindsay Smith," lanjut Maddy mengenalkan gadis yang bersamanya.
"Hai," sapa Lindsay seraya mengulurkan tangannya.
Nichole menerima uluran tangan Lindsay sambil tersenyum. "Aku Nichole."
"Seluruh Amerika tahu siapa kau," kata Lindsay sembari tersenyum ramah. "Bagaimana kalau kita mengobrol di kamarku? Maksudku, di sini kurang cocok untuk kita."
Nichole menemukan sedikit gelagat tidak nyaman di mata Lindsay karena gadis itu melirik Harvey beberapa kali. Meskipun Nichole tidak memiliki pengalaman percintaan, tetapi ia mempelajari ilmu psikologis dan gerak-gerik manusia sehingga bisa sedikit menebak apa yang mungkin dipikirkan Lindsay yang terlihat tidak senang dengan kehadirannya, kemungikan besar karena Harvey.
Bersambung....