Chapter 7
Kehilangan Teman
Nichole berada di kamar Lindsay bersama Maddy dan Lindsay tentu saja. Kamar Lindsay didekorasi seperti kamar remaja menginjak dewasa pada umumnya, tidak banyak memberikan kesan yang menarik untuk Nichole.
"Apa kau ingin minum sesuatu?" tanya Lindsay.
"Terima kasih, aku sudah minum di bawah," jawab Nichole.
Lindsay tersenyum. "Beritahu aku jika kau ingin minum, jangan sungkan. Dan... duduklah di mana pun kau mau."
Maddy meletakkan tangannya di bahu Nichole dengan lembut. "Lindsay dan aku sudah berteman sejak lama, seperti kau dan aku. Kuharap kita bertiga bisa berteman."
Tentu saja Nichole tidak keberatan berteman dengan Lindsay, tetapi jika Lindsay dan Harvey memiliki hubungan tentu saja Nichole tidak ingin berteman dengan gadis yang memiliki hubungan dengan pria idamannya.
Nichole tersenyum. "Tentu saja."
"Apa kalian sudah lama berteman?" tanya Lindsay.
"Sejak sekolah menengah atas," jawab Maddy seraya melepaskan tangannya dari bahu Nichole lalu duduk di sofa.
"Jadi, Kau juga teman Harvey?" tanya Lindsay pada Nichole.
"Ya," jawab Nichole sembari berjalan ke arah rak buku di mana beberapa foto dipajang di sana.
"Dulu Harvey adalah ketua kelas dan Nichole adalah wakil," ujar Maddy seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Benarkah, Nichole?" tanya Lindsay dan diangguki oleh Nichole. "Kau pasti kenal dekat dengan Harvey."
Nichole mengamati beberapa foto dan matanya tertuju pada foto Lindsay yang diapit oleh Ethan dan Harvey.
"Tidak juga," jawab Nichole sembari tersenyum manis.
"Bukanya kalian ketua dan wakil, pastinya kalian sering berinteraksi, bukan?" kata Lindsay seraya berjalan menuju ke arah Nichole.
"Kami tidak begitu akrab, hanya sesekali berinteraksi," jawab Nichole berbohong.
"Di antara teman-teman kakakku hanya Harvey yang paling dekat denganku. Aku menyukainya," kata Lindsay seraya menatap foto Harvey dan tersenyum. "Dia memberikan aku kado setiap aku berulang tahun."
Ternyata tebakan Nichole benar dan itu membuat Nichole cukup frustrasi, namun Nichole tersenyum menutupi suasana hatimu. "Harvey kelihatannya cukup manis, ya?"
Lindsay menggeleng. "Dia belum menyatakan perasaannya padaku."
"Mungkin dia sedang menunggu saat yang tepat," kata Nichole dengan lembut.
"Aku takut hanya aku yang menyukainya, sementara dia tidak. Menurutmu apa Harvey menyukaiku?" tanya Lindsay dengan tatapan serius. "Apa kau tahu seperti apa gadis yang Harvey sukai?"
Nichole menatap Lindsay dengan perasaan geli, menurutnya cara Lindsay sangat kekanak-kanakan. Gadis di depannya itu ingin menjauhkannya dari Harvey dengan cara mengutarakan perasaannya terhadap Harvey kepadanya dan cara itu justru membuatnya tahu jika cinta Lindsay mungkin hanya bertepuk sebelah tangan.
"Aku tidak tahu seperti apa kriteria Harvey," kata Nichole.
Maddy berdehem. "Nichole berada di Inggris selama empat tahun dan baru bertemu Harvey lagi, kau bertanya pada orang yang salah, Lindsay."
"Maddy benar," kata Nichole lalu ia menuju sofa dan duduk.
Lindsay juga ikut duduk di sofa, ia mengambil bantal sofa lalu memeluknya. "Sebulan lagi Harvey berulang tahun, aku bingung memberikan kado untuknya."
Untuk pertama kalinya Nichole merasa sangat membutuhkan Fred, ia ingin Fred muncul di ambang pintu dan membawanya pergi.
"Sebagai temanku, apa kalian bisa membantuku?" tanya Lindsay.
Maddy menatap Nichole sekilas dan Nichole membalas tatapan itu penuh arti. "Apa yang kau berikan tahun lalu?"
"Aku memberinya sepatu Air Jordan," jawab Lindsay.
Sepertinya ia datang di waktu yang tidak tepat, batin Nichole. Apalagi Lindsay telah mendeklarasikan jika mereka berteman sehingga Harvey mungkin hanya akan menjadi angan-angan baginya. Kecuali Harvey menegaskan jika tidak memiliki perasaan cinta pada Lindsay.
"Menurut kalian apa Harvey akan menyukai jika aku memberikan sepatu Gucci atau Prada?" tanya Lindsay sembari menatap Maddy.
Nichole mengambil ponsel di tas tangannya dan mengirimkan pesan pada Fred untuk segera menjemputnya, ia merasa bosan dan tidak bisa mempertahankan senyum palsu di bibirnya lebih dari tiga puluh menit di tempat itu.
"Kau yakin membelikan barang-barang seperti itu pada Harvey?" tanya Lindsay sembari meletakkan sikunya di sandaran tangan sofa lalu ia bertopang dagu.
"Kurasa semua orang menyukai barang-barang seperti itu," kata Maddy dan terlihat tidak nyaman. "Omong-omong, besok aku berencana untuk pergi ke salon, apa kalian mau bergabung?"
Nichole tahu Maddy sedang mengalihkan pembicaraan dan Nichole berterima kasih untuk itu, setidaknya ia terbebas dari pembicaraan Lindsay yang melulu soal hadiah untuk Harvey.
"Aku sudah memiliki janji dengan ibuku besok," kata Nichole berbohong.
"Well, bisakah kita pergi di lain hari?" tanya Maddy.
"Oh, tentu," jawab Nichole dan bersamaan dengan itu terdengar suara ketukan di pintu kamar yang terbuka dan Ethan berdiri di ambang pintu.
"Maaf mengganggu kalian," kata Ethan seraya tersenyum. "Nichole, bodyguard-mu mencarimu."
Nichole tersenyum senang, bersyukur Fred sangat bisa diandalkan. "Oh, dia pasti mengkhawatirkan aku. Aku harus segera pulang."
"Pesta belum dimulai, kau yakin akan pergi?" tanya Maddy.
Nichole berdiri. "Ibuku berpesan agar aku kembali sebelum jam sepuluh."
"Ya Tuhan, kau bukan anak-anak," kata Maddy seraya berdiri.
"Aku tidak bisa menentang aturan di rumah ibuku," kata Nichole sembari tersenyum lalu mengalihkan pandangan pada Lindsay. "Lindsay, sampai jumpa."
Lindsay berdiri. "Aku berharap kita bisa pergi hang out bareng."
"Tentu saja, aku menantikannya," kata Nichole lalu berpamitan dan ia meninggalkan kamar Lindsay bersama Ethan.
"Adikku sedikit manja, kau mungkin tidak terbiasa dengannya," kata Ethan ketika mereka berjalan meninggalkan kamar.
Nichole hanya tersenyum simpul menanggapi kalimat Ethan.
"Omong-omong, kalau aku tidak salah kau baru saja mendapatkan gelar sarjanamu di Cambridge, kan?"
Itu adalah rahasia umum dan Ethan sedang berbasa-basi agar suasana tidak canggung. "Ya."
"Kau tidak mengambil gelar Master di sana?"
Ethan ternyata jeli juga, pikir Nichole. "Aku berencana mengambil gelar itu."
"Apa kau juga ingin terjun ke dunia politik?"
Kakeknya adalah seorang pengusaha sekaligus politikus sementara ayah dan ibunya menekuni bidang hukum, dibandingkan menekuni dunia politik seperti kakeknya, Nichole lebih menginginkan menjadi seperti ayahnya.
"Untuk saat ini aku hanya ingin menjadi pengacara," jawab Nichole tegas seraya merogoh tasnya, berencana mengirim pesan kepada ibunya dan memberitahu kalau ia akan segera pulang. "Aku sepertinya meninggalkan ponselku di kamar adikmu," kata Nichole seraya berhenti karena tidak menemukan ponselnya.
"Mau kuambilkan?" tanya Ethan seraya berhenti.
"Tidak, biar aku saja."
Nichole berbalik dan melangkah cepat ke arah kamar Lindsay, tetapi ketika berada di depan pintu kamar Nichole mengurungkan niatnya mengetuk pintu kamar.
"Aku bisa membantumu mendapatkan Harvey, kau percaya saja padaku," kata Maddy.
"Bagaimana dengan Nichole?" tanya Lindsay.
"Seperti aku, kurasa Harvey mau berteman dengannya hanya karena statusnya," jawab Maddy.
Pernyataan Maddy sangat memukul batin Nichole dan menganggap pertemannya dengan Maddy berakhir. Tetapi, jika Maddy hanya berpura-pura menjadi temannya maka dirinya juga bisa. Nichole memilih pergi meninggalkan tempat itu karena tidak ingin mendengar kata-kata yang mungkin akan melukai batinnya dan berpikir lebih baik meminta Fred yang mengambil ponselnya.
Sampai di lantai bawah Nichole langsung mendekati Fred, mengabaikan Harvey yang berjalan ke arahnya.
"Fred, ponselku tertinggal di kamar Lindsay," kata Nichole kepada Fred.
"Aku akan mengambilnya," kata Fred.
"Ada masalah, Nichole?" tanya Harvey.
"Ponselku sepertinya ketinggalan di kamar Lindsay," jawab Nichole.
"Biar aku yang mengambilnya," kata Harvey dan Nichole mengangguk. "Tunggu di sini, oke?"
"Bukankah kau tadi pergi mengambilnya?" kata Fred setelah Harvey menjauh.
Nichole menatap Fred kemudian mendongak dan rupanya dari lantai bawah Fred rupanya dapat melihat jalan menuju kamar Lindsay di lantai atas di mana tadi ia dan Ethan berbincang lalu ia berbalik meninggalkan Ethan.