Keluarga Safira

1113 Kata
Elea menuruni anak tangga bersama Safira. Kamar Safira memang terletak di lantai dua. Sebuah kamar bergaya serba pink dengan pernak-pernik bantal strawberry yang membuat betah. Berbeda jauh dengan kamar kos Elea yang polos. Hanya berisi bantal dan kasur seadanya. Sesaat Elea memandangi seisi kamar teman barunya ini. Nasib mereka memang agaknya berbanding terbalik. “Ayo cepetan turun, Mamaku udah nunguin. Mama gak suka kalau nunggu kelamaan di meja makan. nanti keburu ngomel.” Safira menarik tangan Elea. Terpaksa Elea menyudahi kekagumannya pada desain kamar imut-imut sahabatnya itu. “Tapi … aku ….” Elea masih malu-malu. Kalau tadi siang makan ditraktir Safira di kantin, sekarang malah diajak makan lagi di rumahnya. Meskipun yang siang tadi bukan traktiran betulan. Alias utang yang tertunda. Ah, semoga saja kali ini Safira tidak akan mencatatnya lagi sebagai utang yang akan ditagih kala gajian. “Tapi apaan sih? Tenang aja, semua makanan di rumah ini gratis. Gak bakal aku tagih pas gajian. Paling yang di kantin aja yang aku tagih. Hehe, soalnya itu pakai uang jajan aku.” Safira cengar-cengir. Kalimatnya yang barusan seperti bisa membaca pikiran Elea. “Eng … i-iya deh,” Dengan tidak sabar Safira menarik tangan sahabatnya itu. Memaksanya mengayun langkah cepat menuruni anak tangga. Sesampainya di ruang makan, mama Rena sudah menunggu dengan wajahnya yang begitu ramah dan teduh. “Ayo, anak-anak makan yang banyak. Ini mama sudah masak sesuai permintaan Safira. Ada ikan gurame asam manis, ada ayam teriyaki, ada capcay dengan bakso dan sosis. Terus ada bakwan jagung juga. Pokoknya harus makan yang banyak. Kalau makan gak habis, mama marah.” ucapnya sambil menyodorkan piring satu persatu kepada dua gadis ini. Lagi-lagi Elea sesaat mematung kagum. Bingung dan melongo menjadi satu. Apa mungkin keluarga SAfira makan dengan menu sebanyak ini setiap harinya? Begitu pertanyaan dalam benak Elea. Sementara ia untuk makan sehari tiga kali dengan menu seadanya saja saat ini harus super hati-hati dan berhemat. “Terima kasih tante, tapi ini terlalu banyak.” ucap Elea. “Gak usah sungkan, Mama senang kalau Fira bawa pulang teman yang baik. Bisa untuk nambah keluarga dan saudara. Lagian juga Mama lebih suka Fira bawa teman ke rumah daripada dia yang keluyuran entah kemana. Jadi, anggap saja ini jamuan untuk persahabatan baru kalian. Pokoknya jangan malu-malu.” balas Mama Rena. Elea hanya bisa mengangguk dengan senyum sebagai ucapan terima kasih untuk kesekian kalinya. Sementara Safira seolah tidak peduli dengan basa-basi yang sedang berlangsung antara Elea dan mamanya. Gurame asam manis kesukaannya sudah memanggil untuk disantap. Tanpa menunggu yang lain, ia makan lebih dulu. “Tuh, lihat Fira sudah makan duluan.” kata Mama Rena lagi. Mereka bertiga memulai makan malam. Ada satu anggota keluarga lagi yang belum datang. Tak lain adalah ayah Safira. “Ma, Papa kemana? Lembur?” tanya Safira sambil mengunyah. “Iya, lebih tepatnya gak pulang. Tadi siang telepon, mendadak ada tugas ke Bandung. Mungkin besok baru pulang.” “Oh,” Elea menghabiskan makanannya dengan masih malu-malu. Masih tidak menyangka juga kalau setelah masuk dunia perkantoran hidupnya justru berubah lebih manis. Yang katanya dunia kerja ibu kota itu kejam, ternyata tidak semua. Bayangan orang-orang kantor yang arogan, ternyata juga tidak semua. Kalau saja masih terkurung sebagai tukang cuci piring di restoran itu, Elea mungkin tidak akan pernah menemukan teman setulus ini. Bahkan, sekarang rasanya bukan hanya teman. Melainkan keluarga baru. Dalam hati ia terus bersyukur. Bisa jadi semua kemudahan dan kebaikan yang ia peroleh dari orang-orang sekitar ini juga buah hasil perbuatan baik dia dan keluarganya selama ini. Sewaktu di kampung, paman Elea tidak segan membagikan hasil panen untuk tetangga sekitar yang kurang mampu. Sejak di bangku sekolah, Elea juga sering membagi makanan yang ia bawa pada teman terdekatnya. Bukankah kebaikan kita akan kembali kepada kita sendiri. Meski bukan orang yang sama yang membalasnya? “Elea, kamu asalnya dari mana? Keluarga kamu gak ada yang tinggal di kota ini?” Tanya mama Rena ditengah makan malam mereka. “Eng … Iya Tante,” “Panggil saja mama. Gak apa-apa kok,” Mendengar perkataan tersebut Elea tertunduk. Teringat pada mamanya yang telah tiada. “I-iya, Ma … maaf tante, saya belum biasa. Boleh panggil tante saja?” “Boleh,” Mama Rena tersenyum. “Keluarga saya semua di kampung Tante, orang tua saya, keduanya sudah tiada. Saya tinggal bersama keluarga paman. Dan sekarang merantau sendirian ke kota ini.” “Hah?” Mama Rena melongo. “Kamu gadis yang berani ya, ibu kota ini berbahaya lho untuk gadis yang terlalu lugu apalagi tidak punya keluarga sama sekali di sini. Alhamdulillah kamu satu kantor sama Fira, sudah pokoknya mulai sekarang kamu gak boleh bilang gak punya keluarga lagi ya. Rumah ini sekarang jadi rumah keluarga kamu. Anggap saja Fira itu adik atau kakak kamu. Kalian seumuran kan?” Mata Elea berkaca-kaca mendengarnya. “Ya sudah, kalau sudah beres makan malamnya, cepat ke kamar solat dan tidur. Biar Mama yang bereskan meja makannya.” Menit demia menit berlalu, Semenjak pernyataan dari mamanya tadi, Safira juga mendadak merasa punya ikatan batin lebih dengan Elea. Yang semua teman iseng sekarang rasanya bercampur iba. “Lea, jangan sedih ya. Pokoknya kayak mama bilang tadi, rumah ini rumah keluarga kamu juga.” ucapnya ketika tiba di kamar. “Kalau kamu mau sering nginep di sini juga boleh banget kok, Aku ‘kan di rumah sendirian doang.” Elea mengangguk tersenyum. Belum ada kalimat lagi dari mulutnya. “Eh, eng … jangan sedih-sedihan terus deh. Kita kan malam ini mau curhat-curhatan. Eh iya, lanjutin tuh cerita soal Nicho. Tadi kan gak selesai. Aku masih heran sama kamu. Tadi Nicholas ke ruangan kamu juga ‘kan? Orang Bu Susi kok yang menyambut dia terus diajak keliling kantor.” Suasana mellow dan haru-haru gara-gara ingat keluarga terhapus seketika dengan kalimat Safira. Sedetik pertama Elea belum langsung menjawab. Ia pikir-pikir, Safira ini sepertinya benar-benar tulus. Dan tidak ada salahnya untuk cerita apa adanya pada Fira. “Sebenarnya … aku … aku tadi sempat ketiduran di kantor setelah makan siang.” ucap Elea polos. “Hah?!” Safira langsung tersentak kaget. Ini memang super konyol apalagi untuk karyawan yang baru hitungan hari seperti Elea. “Kok berani-beraninya sih Lea? Jam berapa kamu tidur?” “Bukan tidur Fir, tapi ketiduran.” “Ya sama aja,” “Pokoknya gak lama setelah makan siang deh. Entah jam dua atau jam tiga.” “Ya ampun Lea! Itu pas banget sewaktu Bu Susi ngajak Pak Nicholas keliling kantor kita. Pantesan dari tadi kamu gak nyambung. Terus, soal Nicho yang kamu ceritain tadi apa? kamu ngarang?” “Gak Fir, itu … itu Nicho yang kenalan sama aku di Mall.” “Astagfirullah Lea! Aku gak bisa bayangin Bu Susi kayak apa ngamuknya besok!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN