Obrolan Yang Aneh

1096 Kata
Si gadis bawel itu berhasil mengajak sahabat barunya untuk menginap di rumahnya. Tentunya Safira senang bukan main. Maklum, anak tunggal yang selalu kesepian dan butuh teman. orang tuanya juga selalu ramah dan menyambut baik setiap kedatangan teman yang dibawa pulang anak gadisnya itu. Elea ikut saja ajakan Safira karena sekarang dia mulai paham kalau sahabat barunya ini tidak bisa ditolak. Apapun rengekannya seolah wajib dituruti. Biar saja lah. Lagi pula Elea juga tidak punya teman di rumah kos nya. Hitung-hitung menjalin silaturahmi dengan keluarga baru. “Eh, kamu kok gak kayak teman-teman yang lain sih? Kok gak komen apa-apa soal Nicho?” Safira menyikut Elea yang duduk di sebelahnya. Mereka sekarang berada di dalam sebuah angkot yang terisi penuh. Menembus kemacetan ibu kota dengan merayap sejengkal demi sejengkal. “Nicho?” Elea malah balik bertanya heran. Apa saja yang terjadi di kantor selama ia tertidur satu jam lebih tadi? Bukankah hanya Mas Bayu yang melihat dia tertidur? Pertanyaan-pertanyaan itu wara-wiri dalam isi kepala Elea. Bingung dan heran. Apalagi mendengar nama itu disebut. Meski mungkin ada jutaan nama Nicho di negeri ini, tapi pikiran polos Elea yang sudah terlanjur terhipnotis dengan kharisma sosok itu rasanya tidak bisa memikirkan hal lain. “Ada cowok yang namanya Nicho datang ke kantor?” tanya Elea polos. Safira langsung mengerutkan kening. Jelas baginya pertanyaan ini aneh. Dan terasa lebih aneh kalau Elea kelihatan sama sekali tidak tahu menahu soal kehebohan tadi. “Udah mau sampai nih, kita ceritanya nanti di sambung di rumah aja ya,” Terpaksa Safira menahan sejenak mulutnya yang sudah gatal ingin nerocos menghujani Elea dengan serangan pertanyaan. Angkutan umum yang mereka tumpangi berhenti. Mereka berdua turun. Berdiri sejenak di bahu jalan lalu menyebrang saat kendaraan sudah lengang. Menyusuri jalan sebuah komplek perumahan yang sore ini terlihat agak ramai. “Lea, aku masih bingung deh, kamu tadi dikasih tugas keluar kantor?” tanya Safira. “Gak,” Elea menggeleng polos. “Atau ada tugas ke lantai lain? Mampir ke kantor tetangga?” “Gak?” “Atau kamu ke toilet lalu kekunsi lama di toilet?” “Apaan sih? Gak, kamu kok nanyanya aneh-aneh gitu?” “Terus kamu emang gak lihat waktu seorang Nicholas Putra Handoyo datang?” Elea menghentikan langkahnya. Bengong sejenak. Sempat-sempatnya otaknya yang kelewat polos situ berpikir kalau nama yang barusan disebut oleh Safira adalah nama lengkap si pria mata elang yang berkenalan dengannya kemarin di Mall. “Nicholas Putra Handoyo?” Elea menyebutkan ulang nama itu. “Orangnya ganteng ya? Tinggi? Cakep banget? Matanya indah?” Safira mendadak bergidik dan geleng-geleng. Definisi macam apa itu? Batinnya. Ya memang semua orang akan bilang kalau Nicho itu super tampan. Mungkin ada juga yang mendefinisikan ketampanan seorang Nicho dengan kalimat polos seperti Elea barusan. “Dasar aneh, tadi bengang-bengong kayak orang gak tau. Sekarang bisa nerocos sampai bilang matanya indah segala. Emang kamu berani menatap seorang Nichola Putra Handoyo? Aku aja gak berani. Lihat dari jauh aja sudah deg-degan.” Elea mendadak senyum-senyum sendiri. Angannya kembali teringat pada perkenalan malam itu. sorot tatapan mata yang lembut tapi tajam yang satu detik saja tatapannya sulit terlupakan. “Pokoknya matanya indah banget,” ujarnya dengan suara lirih. Senyumnya sekarang tidak bisa diredam. Safira makin melongo. Heran sekaligus bingung. Keduanya memang sedang tidak nyambung. Yang satu membicarakan siapa dan yang satu malah membayangkan siapa. “Emang tadi Pak Nicho mampir lama ke ruangan kamu? Kok kamu sampai kayak hafall banget sama wajahnya gitu?” “Ke ruangan?” Elea malah balik bertanya bingung. “Ya ampun Lea, dari tadi kok gak nyambung sih? Pak Nichol ho, Pak Nicholas? Tadi ‘kan ke kantor kita, terus emangnya mampir lama ke ruangan kamu?” Merasa mulai jadi pusat perhatian beberapa warga yang kebetulan sedang duduk-duduk di depan rumah mereka, Elea bergegas melanjutkan langkah. Safira mengikutinya. Berjalan di sebelah Elea masih dengan tatapan penasaran. “Aku masih belum paham nih Fir, gimana kalau kita ngobrolnya di rumah kamu aja? Jangan di jalan kayak gini.” “Ah, dasar kamu ini. Ya udah, rumahku gak jauh lagi kok. Lurus nanti belok kanan.” Mereka tidak melanjutkan obrolan yang tidak nyambung itu. Tak sampai lima menit akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis. Pagar berwarna putih bersih yang kelihatan elegan. Sementara pagar rumah tetangga sekelilingnya lebih banyak yang berwarna hitam. Membuat kediaman keluarga Safira ini jadi lebih mudah dikenali. “Assalamualaikum anak cantik, selamat datang,” Mama Rena menyambut. Dia adalah mama dari Safira. Setiap hari ketika anaknya pulang kantor memang selalu disambut hangat begitu. “Waalaikum salam mama,” Safira membalas salam mamanya. Menutup gerbang dan menarik tangan Elea yang mendadak malu-malu ketika sudah sampai di rumahnya. “Ini siapa?” tanya mama Rena ramah. “Nah, kenalin Ma, ini Elea. Teman baru di kantor. Dia sendirian Ma di kota ini. Anak rantau dari kota lain. Jauh pokoknya kampungnya. Kasian ‘kan daripada di kosan sendirian. Aku ajak menginap di sini boleh ‘kan?” “Oh boleh dong sayang, dia satu divisi sama kamu di kantor?” “Gak Ma, beda. Tapi dia jadi sahabat baru aku deh di kantor pokoknya.” Sesaat mama Rena memperhatikan Elea. Gadi yang terlihat benar-benar masih polos dan sorot matanya terlihat teduh. Ada kelegaan di hatinya. Sepertinya Elea ini gadis baik-baik yang bisa dipercaya jadi sahabat untuk putrinya. Maklum, sikap Safira yang terlalu supel kadang tidak bisa menyaring siapa yang baik menjadi kawan atau yang hanya memanfaatkannya. Pernah terjadi beberapa kali teman yang dibawa pulang oleh Safira justru malah memanfaatkan kebaikannya. Tapi kali ini firasat seorang ibu merasa tidak ragu ketika melihat sosok Elea. “Namanya siapa nak?” Mama Rena bertanya langsung pada Elea. Meski ia tadi sudah sempat mendengar nama yang disebut oleh Safira. “Saya Elea tante,” Elea mengulurkan tangannya dengan malu-malu. Mama Rena tersenyum. Kemudian mempersilahkan mereka masuk. Aroma hidangan lezat langsung menyapa ketika menuju ruang tengah dekat ruang makan. Mama Rena yang super duper pecinta kebersihan itu langsung meminta mereka berdua membersihkan diri di kamar mandi dan mengganti pakaian. Dia tidak mau membiarkan pakaian bekas ke kantor yang sudah dipakai bekerja seharian dan terkena debu jalanan dipakai berlama-lama ketika sudah tiba di rumah. Elea sempat bingung karena tidak ada persiapan menginap sama sekali. Tanpa diminta, Safira langsung menyiapkan satu stel pakaian miliknya untuk dipinjamkan kepada Elea selama ia menginap. “Nih, cepat sana mandi dan ganti baju. Terus kita makan. Nanti kalau sudah, kita lanjutin lagi cerita yang tadi.” Safira menyodorkan satu stel piyama lengan panjang bermotif hello kitty untuk Elea. Elea masih bengong sesaat. Dalam hatinya bersyukur bisa dipertemukan dengan sosok sebaik Safira dan keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN