Namanya Nicholas Putra Handoyo. Pria tampan yang usianya dua puluh delapan tahun. Memiliki postur dan ketampanan yang masuk kategori sempurna. Lebih sempurna lagi kalau orang sudah tahu siapa dia. Iya, di usianya yang tergolong muda untuk kalangan pengusaha, dia tercatat sebagai salah satu konglomerat papan atas yang memiliki kerajaan bisnis. Bergerak di bidang property, pemilik beberapa gedung megah di kota ini, termasuk gedung yang disewa oleh perusahaan tempat Elea bekerja.
Dia adalah pria yang hari ini menjadi tamu istimewa di kantor ini. Ibu Susi yang langsung menyambutnya. Bukan staff atau resepsionis. Setelah kembali dari meeting tadi, ibu Susi segera bersiap karena tamu penting ini sudah hampir tiba di kantor mereka. Baru turun dari mobil, tanpa masuk dulu ke ruangannya, wanita yang super duper perfeksionis untuk urusan pekerjaan ini bersabar menunggu di lobi. lagi pula dia yakin kalau soal urusan pekerjaan sudah diselesaikan dengan baik oleh staff baru yang menjadi partner kerjanya sekarang.
Maka ketika sebuah sedan mewah berhenti di depan lobi, ia bergegas menyambut. Memberi salam hormat meski yang disambut usianya lebih muda. Biasa lah, namanya juga cari nama baik dalam urusan bisnis.
Setelahnya tanpa berlama-lama yang menyambut tamu mengajak tamunya yang tak lain pemilik gedung ini langsung menuju lantai lima belas dimana kantor mereka berada. Banyak pasang mata yang langsung memperhatikan. Sambil berlagak sibuk di depan komputer diam-diam menoleh dan mendadak heboh kasak-kusuk tak jelas. Mereka yang kasak-kusuk heboh adalah yang mengetahui siapa sosok yang datang bersama sang manager HRD itu.
“Ssst, Nicholas. Nicholas Handoyo itu,”
“Iya, ya ampun ganteng banget ya.”
“Ya ampun, cuma pernah lihat di majalah. Udah ganteng, pengusaha muda, tajir parah!”
Begitu bisik-bisik para staff yang diam-diam melirik sampai kepalanya berputar saat Nicho melintas bersama ibu Susi. Mereka ada di meja masing-masing yang kebetulan posisinya berjajar hingga memudahkan untuk saling ngerumpi kalau ada topic yang menarik.
Sampai yang melintas hilang dari pandangan, bibir mereka msih komat-kamit membahas sosok Nicho. Sambil berharap nanti si konglomerat itu melintas lagi. Lumayan lah, kalau bisa disambut lirikannya sedikit. syukur-syukur bisa berkenalan. Meski mustahil.
Kali ini kedatangan seorang Nicho bertamu di perusahaan ini memang menjadi momen emas. Perusahaan tempat Elea bekerja tengah menjalin kerja sama untuk menjadi supplier produk bahan bangunan untuk projek pembangunan apartemen-apartemen mewah di jantung kota yang merupakan milik Handoyo Group. Tentunya untuk urusan seperti ini, perusahaan ini menampilkan wajah terbaik. Dan sambil berkeliling, ibu Susi memberi intermezzo memperkenalkan tiap divisi yang menjadi penggerak di kantor mereka. Satu persatu ia kenalkan dengan bangga hingga wajahnya serasa ditampar terang-terangan saat melihat wajah polos Elea yang tertidur lelap di ruangan saat bekerja sendirian. Saking malunya ibu Susi buru-buru mengalihkan topic pembicaraan dan mengajak tamu kehormatan ini berbincang-bincang di ruangan lain.
Takut tak bisa menahan kemarahannya yang suadah sampai di ubun-ubun, Ibu Susi tak mau kembali ke ruangannya. Memesan kopi pada office boy dan memilih tetap di ruang meeting hingga larut. Hingga tamu kehormatan itu pulang.
Nicho kembali masuk ke mobil setelah diantar oleh Nina si Resepsionis. Banyak kembali kasak-kusuk iri pada Nina. Padahal ia hanya diberi tugas untuk mengantar tuan muda Nicho dari depan pintu meeting sampai depan pintu lobi.
“Hahahahaha, parah! Tau gak, tadi di dalam ada staff yang tidur pulas banget. Sampai dipanggil sama atasannya gak dengar tau gak,” Nicho langsung tertawa lepas saat di dalam mobil.
Yang diajak bicara langsung meletakkan ponselnya di dashboard mobil dan menoleh.
“Masa sih? Mungkin kecapekan habis lembur kali.” sahutnya.
Yang duduk di depan kemudi ini namanya Nurdin Nur Iman. Dia gak kalah tampan sama Nicho. Tapi beda nasib. Nurdin dengan Nicho bersahabat sejak kecil. Orang tuanya bekerja sebagai sopir pribadi keluarga Nicho. Dulu ibunya juga ikut bekerja sebagai asisten rumah tangga di sana. Hingga mereka sekeluarga ikut tinggal di rumah keluarga konglomerat Handoyo. Itulah yang membuat mereka bersahabat sejak kecil. Bahkan keluarga Handoyo juga menyekolahkan Nurdin dan Nicho di sekolah yang sama. Hanya saja, selepas ayahnya sakit keras, Nurdin justru mengambil keputusan untuk menggantikan ayahnya sebagai sopir. Itu sudah dilakukannya selama kurang lebih tiga tahun ini. Ia anggap itu sebagai bentuk upaya balas jasa dan cara berterima kasih pada keluarga Handoyo. Apalagi, Nicho sekarang sebatang kara. Tuan dan Nyonya Handoyo telah berpulang dalam kecelakaan pesawat ketika perjalanan menuju sebuah Negara di Amerika. Dengan menjadi sopir pribadi, Nurdin berpikir kalau ia akan terus bisa menjaga Nicho yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri.
“Iya kali Bro. Udah biarin lah, kasihan juga sih, kayaknya dia bakal diomelin abis sama managernya.” ujar Nicho. Diam-diam ia sedikit mengingat wajah polos si karyawati yang tertidur itu.
“Yah, nasib. Namanya juga kerja, gak peduli alasannya capek atau apa, tetap aja kalau ketahuan tidur ya bakal diomelin.” balas Nurdin.
“Tapi kalau lu yang ketahuan bengong dan ngelamunin cewek gak gue omelin ‘kan?” ledek Nicho.
Sambil mulai melaju nurdin hanya senyam-senyum. Rupanya bos sekaligus atasannya ini tahu kalau sejak beberapa hari ini ia jadi suka melamun berlama-lama menatap layar ponsel.
Sementara di kantor, Elea sibuk membetulkan kabel telepon yang rusak tergilas roda kursi kerjanya. Sebisa mungkin ia perbaiki dengan cara apa saja. Melilitkan isolasi perekat ke kabel yang mengelupas dan coba menyambungkannya lagi.
“Uh, akhirnya, alhamdulillah beres!” serunya lega saat mendengar nada telepon yang terhubung normal seperti semula.
Elea tenang-tenang saja sambil melanjutkan lagi pekerjaannya. Sementara waktu sudah hampir pukul 17.00 waktu setempat.
“Lea!” suara Safira memanggil. Gadis itu mendadak sudah berdiri di dekat meja Elea.
“Aduh, bikin kaget aja,” Elea setengah terperanjat. Saking fokusnya ke layar monitor. Sebenarnya campuran antara fokus dan takut kalau ibu Susi kembali sementara pekerjaannya belum beres.
“Ih, gitu aja kaget. Eh, buruan beresin meja kamu. Kita pulang sekarang. Kamu ‘kan mau nginep di rumah aku malam ini. Terus kamu tau gak sih pas heboh tadi ada Nicho Handoyo datang ke sini? sumpah dia ganteng banget ya? Parah! Dia jauh lebih keren dari yang aku lihat di majalah.” Seperti biasa Safira nerocos tanpa jeda.
Elea malah bingung. Siapa itu Nicho Handoyo? Tapi kenapa namanya harus Nicho? Sama seperti nama dia yang membuat Elea kepikiran siang dan malam.