Tidur Siang Yang Membahayakan

1104 Kata
Terlelap sesaat dalam tidur siang memang indah. Tapi tidak indah jadinya kalau tidurnya di kantor. Apalagi sampai ketahuan bos! “Elea!” suara panggilan agak keras terdengar. Yang dipanggil masih larut dalam mimpi. Isi mimpinya begini, perkenalan di Mall malam itu berlanjut dengan bertukar nomor ponsel dan Elea senyum sepanjang jalan pulang. tak sabar sampai di rumah ingin segera bisa terasmbung lagi dengan si dia meski hanya lewat suara. Senyum jatuh cinta di mimpinya itu berhasil mengukir senyuman nyata di wajah Elea. Ibu Susi menahan malu. Baru saja ia masuk ruangan ini dan membuat janji untuk meeting di hari berikutnya dengan sang tamu dan bermaksud memperkenalkan staff barunya. Staff baru yang ia bangga-banggakan. Ia sebut-sebut sebagai lulusan dengan nilai cumlaude yang pastinya bisa langsung menggambarkan kualitas dari staff tersebut. Nyatanya pemandangan di depan mata sekarang ini malah membuat ibu Susi menyesal setengah mati. “Maaf Pak Nicho, kita bicara di ruangan lain saja.” Ibu Susi akhirnya membawa tamunya ke ruangan lain. Sang tamu yang hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka meninggalkan ruangan itu. Tentunya jangan tanya bagaimana wajah ibu Susi, merah padam dan terasa panas seperti bara api. Sementara tidur siang Elea terus berlanjut. Dan tidak ada telepon berdering juga selama ia tidur. Ah, semuanya terasa seperti mendukung. Entah bagaimana nasib kelangsungan karir Elea esok hari. Hampir tiga puluh menit berlalu setelah ibu Susi memergokinya tidur, ada seseorang lagi datang mengetuk pintu. Kali ini agak keras. Merasa tidak ada jawaban ia langsung menyelonong masuk. “Mbak. Mbak! kerja jangan tidur Mbak!” serunya sambil menepuk bahu Elea. Mimpi indah Elea langsung buyar seperti tepung terigu tertiup angin. Kabur entah kemana. “A-ada apa ya Mas?” tanya Elea polos sambil mengucek mata. Ia tidak kenal siapa pria yang ada di hadapannya ini. Tapi sudah pasti dia adalah karyawan kantor ini juga dari departemen lain. “Ada apa-ada apa, dari tadi di telepon gak bisa. Eh, tau nya di ruangan malah tidur. Nanti bu Susi marah tau.” “Iya maaf Mas, lagian ‘kan saya cuma tidur lima menit. Terus dari tadi juga gak ada telepon bunyi kok,” Elea masih berani menjawab. Sambil ia lirik kartu identitas karyawan yang menggantung di leher pria yang membuat mimpinya buyar itu. “Mas Bayu ada perlu apa?” tanyanya. Pria itu kaget mendengar Elea tahu namanya. “Lu udah tau nama gue?” tanyanya. “Lha itu tertulis di situ.” Elea menunjuk kartu identitas yang dikenakan Bayu. “Oh, baca ini. Eh, udah deh, gue buru-buru nih. Tolong minta pulpen merah satu, biru satu, terus stabile warna hijau sama map warna biru. Buruan. Gue mau kerja.” Elea malah garuk-garuk kepala bingung. Rupanya anak ini juga belum sadar kalau itu menjadi bagian dari tugasnya. “Lho, kok minta itu semua ke saya sih Mas? Bukannya harus beli sendiri ya? Di sini gak ada lah Mas, ini bukan warung.” ujar Elea polos. Bayu langsung melongo mendengarnya. ingin nerocos panjang lebar, tapi ia sendiri sedang diburu waktu. “Eh, gue tau lu kerja di sini baru sehari. Tapi minimal lu tau job desk lu. Dan jangan banyak tidur di kantor. Gue aja yang anak lama gak berani tidur. Lu berani-beraninya.” Kalimat Bayu terasa bagai peringatan keras dan tamparan bagi Elea. “Tuh, di lemari itu isinya alat tulis kantor. Jadi jangan bilang ini bukan warung ya, lu coba buka dulu isi lemari itu. Baru lu boleh komen.” Bayu menunjukkan sebuah lemari besar di sudut ruangan. “I-itu?” tunjuk Elea ragu. “Iya!” “Tapi saya belum dapat materi soal pengambilan alat tulis kantor. Lagi pula ibu Susi belum pesan kalau saya boleh membuka lemari itu.” “Halah, sini deh gue kasih tau. Karena lu belum tau, makannya gue kasih tau.” Bayu lebih dulu berjalan ke depan lemari besar itu. mau tidak mau Elea mengikutinya. “Tapi ini ….” Elea sempat menghalangi bayu untuk membuka pintu lemari tersebut. “Ya ampun, minggir deh. Nih lu lihat.” Bayu tak menghiraukan larangan Elea dan langsung membuka pintu lemari itu lebar-lebar. “Nih, lu lihat. Takut-takut banget sih, isinya bukan harta karun tau. Nih gue ambil sendiri aja. Daripada lama.” Bayu mengambil semua alat tulis yang ia sebutkan tadi. “Jadi kalau butuh alat tulis itu ambilnya di lemari ini?” Elea malah polos bertanya. “Ya elah, dia malah nanya. Ya udah ah, pokoknya lu catat ya apa aja yang gue ambil. Kalau lu belum paham juga, tanya sama Bu Susi.” Bayu berlalu tanpa premisi. Elea terpaku di tempatnya. Bingung dan pikirannya masih mengawang-awang antara mimpi dan nyata. “Satu lagi!” seru Bayu yang kembali masuk ke ruangan Elea. “Jangan kebanyakan tidur dan kalau telepon lu rusak, cepat lapor biar segera dibetulkan. Susah tau, gak bisa telepon ke HRD&GA.” Cerocosnya. Setelah itu baru ia benar-benar berlalu meninggalkan ruangan Elea. Elea masih melongo bingung sendiri. Bingung dengan apa yang terjadi selama ia tidur. Dan bingung karena ternyata sampai ke ambil alat tulis kantor pun masuk ke dalam job desk nya. “Aku ‘kan tidur cuma lima menit, kok dibilang kebanyakan tidur? Alarmku aja belum bunyi, artinya belum sampai lima menit malah aku tidurnya. Terus, telepon mati aku suruh lapor? Lapor ke siapa? Ah, ngeribetin aja. Lagian malah enak kalau telepon gak bunyi. Aku jadi kerjanya gak keganggu telepon terus.” Elea mengoceh sendiri. Sekarang ia kembali duduk. Membuka laci meja untuk mencari ponselnya. Matanya melotot seketika saat melihat waktu yang ditunjukkan di layar ponsel. “Oh My God! Aku tidur lebih dari satu jam?! Kok alarmnya gak bunyi?” Gadis ini mengucek mata. Sekarang jantungnya berdegup tak karuan. Ia periksa kenapa alarmnya tidak berbunyi. Ah, memang semua adalah buah keteledorannya. “Aduh, untung aja cuma Mas Bayu yang lihat aku tidur. Untung bukan Bu Susi.” Elea berusaha menenangkan dan meyakinkan dirinya sendiri. Ia tidak mau terlalu memikirkan soal tidurnya. Atau lebih tepatnya berusaha tidak memikirkan. Setelahnya ia periksa buku catatan tugas yang ia catat saat hari pertama kerja. Di poin ke sekian ia baru sadar kalau mengurus keluhan orang-orang terkait semua fasilitas di kantor ini semisal seperti AC rusak, mesin fotocopy rusak, dan telepon rusak adalah bagian dari tugas GA. Termasuk soal pengadaan alat tulis kantor. “Oh iya, ternyata emang ini tugasku. Lagian buku ini ‘kan ditinggal, jadi belum aku baca. Terus teleponku kenapa bisa rusak ya?” Elea lalu jongkok dan memeriksa kabel telepon di dekat kaki mejanya. Kabel itu terlepas. Pantas saja tidur siannya nyenyak tanpa terganggu suara telepon. “Aduh, kabel teleponnya rusak gara-gara kena roda kursi yang dari tadi aku mainin maju mundur. Aduh, aku harus bagaimana ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN