Jangan Tidur Elea!

1035 Kata
Jam makan siang hampir usai. Elea mulai kesulitan menghabiskan makanan nya. Satu porsi jumbo yang seharusnya menjadi takaran untuk dua kali makan atau bahkan tiga kali. Entah lah, Safira ini sengaja atau bagaimana. Tapi sewaktu makan malam di Mall, ia juga memesan makanan yang hampir memenuhi meja. Padahal mereka hanya berdua. Sementara Elea malam itu hanya makan sedikit dan sisanya gadis itu yang menghabiskan. Rupa-rupanya si bawel ini ingin membuat Elea punya porsi makan yang sama juga dengan dirinya. “Aduh, maaf deh Fira. Aku gak habis nih. Perut aku udah kekenyangan. Nasinya banyak banget.” kata Elea sambil memegangi perutnya. Yang diajak bicara baru saja meneguk es teh manis segar yang ia pesan bersama makanan tadi. Nasi di piringnya sudah bersih beserta lauk-pauknya. Kalau tidak gengsi sebetulnya ingin sekali ia menyantap habis sisa makanan yang tidak dihabiskan oleh teman barunya itu. Ah, tapi rasanya gengsi. Lagipula ia baru kenal dua hari dengan Elea. Belum tahu barangkali saja Elea punya penyakit menular atau apa misalnya. Jadi, sebagai orang yang selalu ingat pesan mama untuk jaga kesehatan, Safira terpaksa mengikhlaskan saja nasi di piring Elea yang tidak habis itu. “Ya udah deh kalau gak habis. Jangan dipaksain gak baik. Kan katanya yang baik itu berhenti sebelum kenyang.” ujar Safira sok bijak. Padahal dia sendiri makan dengan porsi sebakul. Mungkin baginya ukuran itu cukup untuk disebut sebelum kenyang. Elea hanya mengangguk-angguk lalu meneguk es teh manis yang dibelikan Safira. “Katanya makanan sehat, kok pesan minumnya es teh manis? Kalau sehat itu minumnya air putih.” celetuk Elea selesai meneguk es yang segar itu. Dia mulai pintar complain padahal dia juga meminumnya. “Ah ya udah deh, ini pokoknya makanan sehat versi aku.” balas Safira. “Eh, dari tadi kamu itu belum cerita gimana kerjaan hari ini? Gimana rasanya kerja di kantor ini? Dari tadi kalau gak ngelamun bilangnya ‘makan gak boleh sambil ngobrol’, nyebelin.” Safira menirukan gaya bicara Elea. “Ya hari ini begitu lah,” jawab Elea. “Begitu lah itu gimana? Seru ‘kan? Kerjaannya gampang ‘kan?” Elea hanya bisa mengangguk tanpa berani bercerita banyak. Dalam hatinya juga waspada. Namanya juga teman baru, dia belum tahu apakah Safira ini teman betulan atau justru akan jadi orang yang nyinyir di belakang menceritakan lagi ke orang lain. “Ya syukur deh kalau kamu merasa pekerjaan di sini seru dan gampang. Terus yang bikin kamu ngelamun apa?” tanya Safira lagi. Rupanya dia masih penasaran. “Eng ….” Belum sempat Elea menjawab, waktu sudah menunjukkan tepat pukul 13.00 waktu setempat. Artinya obrolan di kantin kali ini harus segera diakhiri. “Ah kamu sih, kelamaan ngomongnya. Belum sempat cerita udah waktunya masuk. Ya udah, gimana kalau besok pulangnya ke rumah aku aja? Biar aku kenalin kamu ke mama di rumah. Mamaku orangnya seru, mama juga paling senang kalau ada teman aku yang mau main ke rumah. Nanti kamu pasti dimasakin macam-macam. Ya, mau ya,” Elea bingung mau menerima ajakan itu atau tidak. Tapi yang pasti sekarang waktu santai-santai sudah usai. Dia harus kembali ke ruangannya. Duduk manis dengan setumpuk pekerjaan dan bersiap dengan telepon yang berdering. “Kita bahas besok aja deh,” jawab Elea setelah mereka berpisah di depan pintu lift. “Ya udah deh, tapi jawabannya wajib mau ya,” Safira lalu melenggang kembali ke ruangannya. Elea melangkah sendirian. orang lain di lantai ini sibuk masing-masing. Sebagian dari mereka saling melempar senyum menyapa saat berpapasan. Dan sebagian lain cuek saja. Masuk ke ruangan Elea sedikit berdebar. Target yang diminta oleh ibu Susi agar selesai sebelum jam makan siang tidak tercapai. Padahal tadi pagi sewaktu menerima tugas ini, Elea pikir pekerjaannya mudah. Tinggal duduk konsentrasi, menginput data dan semua akan beres. Tapi nyatanya hingga jam makan siang usai pekerjaannya masih setumpuk. Terdengar suara ketukan dari arah pintu. Elea sempat deg-degan. Takut kalau itu adalah ibu Susi yang baru pulang meeting. “Permisi,” Suara laki-laki. Gadis itu lalu membuang napas merasa pasrah. Berpikir kalau ada masalah yang datang lagi dan minta untuk dia selesaikan. “Iya, maaf ada apa Pak?” Elea membukakan pintu. “Ini, tagihan untuk service mesin fotocopy ya.” Lelaki paruh baya itu menyerahkan selembar kertas. “Oh, iya.” Elea menerimanya. Napasnya sekarang sedikit bisa berembus dengan lega setelah bapak tukang service photocopy itu pergi. Untung saja bukan masalah baru seperti yang dia bayangkan tadi. Elea kembali ke tempat duduknya. Menyimpan kertas berisi tagihan biaya service itu di laci dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Beberapa menit berlalu dia berusaha sekuat tenaga menginput data dengan teliti dan secepat mungkin yang ia bisa. Tapi lama kelamaan gerak jarinya melambat. Dan mata mulai tidak bisa diajak kompromi. Sesekali kelopak matanya menutup dengan pelan lalu dia cepat tersadar. Beberapa kali terulang sampai Elea mencubit lengannya sendiri supaya kantuk yang datang tidak tepat waktu itu hilang. “Aduh, kok ngantuk banget sih?” Elea menepuk-nepuk pipinya. Meneguk air putih banyak-banyak lalu beranjak dari kursi dan berjalan mondar-mandir sebentar. Sialnya rasa kantuk itu tak juga hilang. Langsung datang lagi menyergap saat ia kembali duduk dan memulai memainkan jemarinya di atas keyboard komputer. “Aduh, aku harus gimana ini? Udah ruangannya dingin, kekenyangan lagi. Jadi ngantuk banget begini. apa aku tidur aja ya lima menit?” Ia lihat aktivitas orang-orang diluar sana. Selepas makan siang ini sepertinya mereka semua belum benar-benar kembali sibuk dan serius seperti pagi tadi. Ia lantas benar-benar berpikir kalau ini jam cukup aman untuk sekedar lima menit tidur. Lebih baik mengosongkan waktu lima menit dari pada ngantuk berkepanjangan dan dia tidak bisa fokus bekerja. Begitu pikirnya. “Ok, aku tidur dulu. Jangan lupa pasang alarm.” Elea menyiapkan alarm ponselnya. Dia yakin sekali akan tebangun dan segar lagi setelah alarm itu berbunyi lima menit yang akan datang. Dengan melipat tangan dan kepala yang disandarkan di atas meja, matanya kini benar-benar terpejam. Entah, dia tidak memikirkan lagi soal panggilan telepon yang setiap saat bisa saja berdering. Yang penting pejamkan mata sebentar dan kantuk itu akan hilang. Karena satu-satunya obat kantuk paling mujarab adalah tidur. Lebih dari lima menit Elea terlelap dan sialnya ia lupa kalau alarm ponselnya tersetting tanpa nada dan tanpa getaran. Sementara suara derap langkah seseorang tamu penting yang datang ke kantor ini sedang menuju ruangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN