Makan Siang Dan Lamunan

1124 Kata
Setengah hari berlalu yang terasa begitu berat bagi Elea. Iya berat. Si gadis desa ini sebenarnya anak yang tidak begitu luwes berkomunikasi dengan orang baru. Jadi seabrek tugas untuk mengurus ini dan itu yang rusak, menelpon kesana kemari dan berupa cepat menyesuaikan masalah terasa menjadi beban baginya. Padahal dia ini anak lulusan manajemen sumberdaya manusia. Harusnya hal menghadapi hal demikian sudah biasaTapi pada kenyataannya, apa yang jadi teori di bangku kuliah itu tidak semua mudah dipraktekan di dunia kerja sebenarnya. Intinya seperti itu. tapi namanya juga hidup, gak begitu saja mudah. Artinya, Elea tidak boleh lemah dan jadi lembek hanya gara-gara seabrek tugas itu. Sudah jauh-jauh dari desa, ya harus berani menerima kehidupan kota. “Hei, mau makan apa?” tanya Safira di depan etalase kantin. Elea sejenak terdiam. Memandangi menu yang disajikan prasmanan sambil berpikir berapa harganya. Iya, sekali lagi dia berpikir berapa harganya. Karena walaupun Safira bilang mau mentraktir, tetap saja ‘kan, dia bilang minta ganti nanti kalau Elea sudah menerima gaji pertamanya. Kalau dipikir-pikir artinya sama dengan memaksa Elea berutang. Ah, semoga saja si gadis sok asik itu berubah pikiran nantinya. “Eng … aku … aku makan mie instan aja deh,” jawab Elea. “Ya elah, masa makan mie instan? Kayak di kos-kosan aja. Pilih lah, banyak menu enak begini,” Safira menunjuk beberapa piring yang berjajar di balik etalase “Gak usah deh, aku pengen mie instan aja,” “Beneran nih? Tenang aja, makanan di sini gak mahal kok, bersahabat pokoknya buat kantong orang kantor pas tanggal tua.” “Eng … gak usah, aku tetap mau mie instan aja.” ujar Elea sekali lagi. “Ih, kata mama aku, mie instan itu gak baik buat kesehatan. Jadi, di makan saat kepepet aja. Kalau ada pilihan, baiknya pilih yang lain.” Mereka ini malah berdebat di depan etalase kantin hingga mengakibatkan antrian mengular. Karyawan lain yang hendak mengambil makan siang mereka lama-lama kesal juga melihat dua gadis ini berdebat tak jelas. Membuang waktu dan membuat perut yang sudah berteriak lapar jadi makin lama menunggu. “Woi, cepet dong!” seru salah seorang karyawan. “Iya-iya,” balas Safira ketus. Terpaksa Safira menarik Elea keluar dari antrian. Sayup-sayup terdengar beberapa orang menyoraki mereka. Sambil komat-kamit kesal Safira mengajak Elea minggir dan menunda untuk mengantri lagi. baginya perdebatan soal mie instan ini belum usai. “Kamu ini lho, sudah aku bilang aku mau makan mie saja malah bikin ribut. Jadi malu ‘kan sama orang-orang.” Kali ini Elea berani protes. “Eh, yang aku bilang itu emmang benar. Mamaku aja marah kalau aku makan mie instan. Lagian sekarang ‘kan aku traktir. Jadi pokoknya kamu ikutin aja pilihan aku, aku bakal pilihin menu sehat buat kamu.” Safira masih bersikeras. “Terus kita kapan nih beli makannya? Nanti keburu jam makan siang habis.” Elea melirik jam dinding berbentuk bulat besar yang angkanya terlihat jelas meski dari jarak beberapa meter. “Oh iya, ya udah, aku mau antri lagi. Kamu duduk yang anteng di sana ya.” Safira menunjuk sebuah kursi. “Cepat sana, nanti keburu ditempatin orang.” Elea tidak mau berdebat lagi. Perkara makan siang saja harus se-ribet itu. Demi bisa kuat berdiri setengah hari lagi di kantor, dan demi memenuhi panggilan perut yang sudah berteriak lapar. Elea kali ini mengikuti saja permintaan teman barunya itu. Dia duduk rapi sambil sesekali celingukan memperhatikan sekitar. Masing-masing dari mereka yang tertangkap pandangan mata Elea duduk mengelompok antara dua atau tiga orang. Kalau dipikir-pikir, bersyukur juga Elea langsung punya teman seperti Safira. Entah faktor beruntung langsung bisa punya teman akrab atau faktor lain, misalnya Safira itu sebelumnya tidak pernah punya teman. Apapun itu, meski tingkahnya kadang aneh dan menyebalkan, tapi pertemanan dengan Safira sangat Elea syukuri. Tidak terbayang kalau dia duduk sendirian di meja kantin ini. Di tengah hiruk pikuk riuhnya suasana makan siang yang penuh dengan tawa dan obrolan. Ada yang sibuk membahas rencana akhir pekan ini mau jalan kemana, ada yang sibuk curhat tentang atasan yang menyebalkan, ada juga yang curhat tentang pacar. Pokoknya masing-masing meja punya topik sendiri. Elea sabar menunggu Safira yang sedang mengantri untuk mengambil makanan. Waktu makan siang masih sekitar empat puluh lima menit lagi. Masih lumayan ada ratusan detik waktu bersantai tanpa takut dihantui telepon yang bordering. Ya, sekarang Elea bisa membawa pikirannya santai sejenak. Dan tentunya yang ia ingat pertama kali adalah dia. Si dia yang berkenalan di Mall dan hanya menyebutkan nama. “Woi! Ngelamun aja,” Safira tiba di meja dengan mengejutkan. Padahal tadi Elea masih melihatnya berdiri dalam antrian. Bocah ini memang kadang seperti angin. Kesana kemari tanpa terdengar langkahnya. “Gak ngelamun kok,” Elea menyelipkan rambut di belakang telinganya dengan kepala tertunduk namun matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Malu. Takut terdengar orang lain dan ketahuan memang dia tadi sedng melamun. “Alah, ngaku aja deh, dari waktu di Mall emang kamu tukang ngelamun kok.” “Enggak,” Elea masih menyangkal. Indra penglihatannya sekarang tertuju pada piring yang dibawa Safira. “Kamu gak salah? Itu banyak banget?” “Hah? Ini? Oh, gak lah. Ini baru makan sehat namanya. Lagian ‘kan udah aku bilang, makanan di sini itu harganya terjangkau. Jadi gak perlu khawatir.” “Tapi porsi makanku gak sebanyak ini.” Elea melotot melihat nasi dengan porsi jumbo ditambah ayam goreng, tumis kacang panjang, rendang daging, sambal goreng kentang, perkedel dan tak ketinggalan kerupuk udang. Dalam hatinya ingin membungkus setengahnya untuk dibawa pulang untuk makan malam. Kalau memungkinkan. Tapi rasanya tidak mungkin. Makanan itu nanti malam pasti sudah basi karena sudah bercampur-campur. Lagi pula, mau membungkus dengan cara bagaimana? Malu. “Udah, cepat makan. sambil cerita ya, gimana kerjaan kamu seharian ini. Bu Susi lagi pergi ‘kan? Kamu udah bisa ngerjain semua sendirian?” Sambil mulai menyantap makan siang yang menunya sama persis dengan yang ada di piring Elea, Safira langsung nerocos bertanya. Yang ditanya hanya bisa mengangguk belum bisa berkata. Sambil berusaha menghabiskan menu makan siangnya kali ini. Sementara di tempat lain, di sebuah gedung perkantoran yang sebenarnya tak begitu jauh dari tempat Elea bekerja, seorang pria berkemeja hitam dan celana hitam sedang duduk di depan sebuah sedan mewah keluaran terbaru. Tangannya memainkan ponsel. Ia pandangi layar ponselnya sambil tersenyum. Rupanya yang terpampang di layar ponselnya adalah foto seorang gadis. Iya, gadis yang berkenalan dengannya gara-gara bertabrakan saat berjalan di depan pintu masuk bioskop. Pria ini diam-diam membuntuti si gadis setelah sempat pamit karena sebuah panggilan telepon. Dan bidikan kameranya sempat mengabadikan wajah manis gadis tersebut. “Hei, ngelamun aja. Ayo, antein gue meeting. Udah di tungguin nih,” Seorang pria lain yang mengenakan setelan kemeja dan blazer berwarna navy menghampiri. “Oh, siap.” Pria yang sedang melamunkan wajah si gadis langsung menyimpan ponsel ke dalam sakunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN