Elea kebingungan bukan main. Ingin bertanya pada siapa? Tidak ada yang bisa ditanya. Ingin menelpon ibu susi tapi takut. Tapi kalau tidak menelpon, dia juga yang kena masalah. Dan persoalannya, urusan service AC atau service apapun itu tidak masuk dalam daftar catatannya.
“Biarin deh, aku telepon aja.” Elea memberanikan diri mengangkat gagang telepon. mencari daftar nomor ponsel manajernnya dalam buku catatan.
Terdengar bunyi telepon tersambung. Degup jantungnya mulai tak karuan. Takut kena marah pastinya.
“Hallo, siapa ini?” terdengar suara dari ujung sana. Suaranya kali ini tidak begitu ramah. Berbeda dengan ibu susi yang Elea kenal saat hari pertama interview.
“Ha-hallo Bu, ini Lea. Maaf bu, kalau soal Ac yang rusak saya harus bagaimana ya?” tanya Elea gemetar.
“Kamu tinggal minta resepsionis untuk telpon tukang AC. Masa begitu saja tanya! Kamu harus punya inisiatif. Sudah, jangan telepon lagi, saya sedang meeting.”
Sambungan telepon terputus sebelum Elea meletakkan gagang telepon itu kembali ke tempatnya. jantungnya sekarang bukan lagi berdebar tapi menderu tak karuan. Elea ini sebenarnya anaknya pemalu dan selalu takut untuk memulai sesuatu.
Ia tarik napas dalam dan berusaha mengumpulkan kepercayaan diri. Ini bukansebuah tugas yang berat dan mengerikan. Hanya tinggal meminta bantuan resepsionis dan semua akan selesai.
Sekarang ia coba menghubungi resepsionis. Jantungnya belum reda berdebar tak karuan. Dengan si resepsionis itu juga ia belum begitu kenal. Hanya pernah sebatas menyapa saat berpapasan.
Sekali lagi ia cari nomor di buku telepon. Tiga angka yang digunakan untuk saling menghubungkan telepon di ruang satu dan lainnya di kantor ini.
“Hallo,” seseorang menjawab telepon.
“Eng … ha-hallo, maaf Mbak, ini Elea. Eng … saya,” Bicara dengan resepsionis saja Elea gemetar.
“Elea siapa?” Resepsionis malah bingung.
“Saya staffnya Bu Susi Mbak,”
“Oh, iya kenapa?”
“I-itu Mbak, saya minta tolong telponkan tukang service AC. Ruang atas AC nya ada yang rusak.”
“Iya tunggu sebentar.” Telepon kembali terputus sebelum Elea meletakkan gagang telepon itu kembali.
Sekarang ia bisa sedikit tenang. Ia pikir tukang service AC itu akan datang dan tahu sendiri apa yang harus dikerjakan.
Elea mulai dengan setumpuk dokumen dimejanya. Jarum jam terus berputar. Ada janji pada ibu susi sebelum makan siang ia harus sudah selesai. sementara untuk satu dokumen itu ternyata cukup banyak data yang harus ia input. Kalau ia konsen dan tidak diganngu hal lain, sebenarnya bisa saja pekerjaannya selesai tepat waktu. Tapi satu jam berlalu tukang service AC itu tidak kunjung datang juga, alhasil telepon berdering lagi.
“Hallo, kamu sudah telepon tukang service AC belum? Udah jam berapa ini? Masa belum datang juga sih? Panas banget nih, mana mau ada tamu lagi, cepetan ya,” suara dibalik telepon mengomel.
Belum sampai Elea menjawan ‘iya’ atau memberi penjelasan telepon itu sudah diputus lagi.
“Aduh, gimana ini?” Elea bicara sendiri. Takut dan bingung. Dengan ragu akhirnya ia menelpon lagi ke resepsionis.
Terdengar bunyi suara telepon terhubung dan tak lama Mbak resepsionis itu menjawab telepon.
“Hallo,”
“Hallo Mbak, maaf ini Elea. Apa tukang service AC nya sudah di telepon? kok belum sampai juga ya Mbak? Sudah ditanyain sama orang-orang lantai atas.”
“Sudah telepon dari tadi kok, ya udah tunggu aja.” Resepsionis kembali mematikan telepon.
Dia nyengir sendiri lalu cepat-cepat menghubungi si tukang service AC itu. Sebenarnya tadi ia lupa. Ya jelas saja yang ditunggu tidak akan datang. Ditelpon saja belum.
Sementara Elea di dalam ruangannya berusaha menginput data secepat mungkin. tangannya sedikit gemetar sekarang rasanya takut kalau ada telepon berdering.
Dan benar saja, tak sampai lima menit berlalu telepon sudah berdering lagi. Elea membuang napas. Berharap yang menelpon bukan orang ruangan atas yang ingin complain masalah AC lagi.
“Hallo,” jawab Elea dengan suara lirih karena takut.
“Hallo, Bu Susi ada?”
“Gak ada Pak, Bu Susi ada meeting di luar kantor.”
“Kamu staff barunya ya? Tolongin ini mesin fotocopy rusak. Cepat diurus ya, banyak dokumen yang harus di fotocopy.”
“I-iya Pak,”
Elea membuang napas mau kesal tidak mungkin, mau mengeluh ya hanya bisa dalam hati.
“Aku telepon resepsionis aja deh,” Tak mau buang waktu, ia cepat menghubungi resepsionis.
Namun kali ini jawabannya agak kurang ramah. Mungkn si Mbak resepsionis ini juga sedang sibuk sendiri jadi kesal kalau dimintai tolong.
“Elea, biasanya Bu Susi juga telepon sendiri. Gak nyuruh aku terus. Kamu cari sendiri aja di buku telepon. Bukunya yang warna biruada di meja Bu Susi.”
Telepon langsung terputus lagi setelahnya.
Elea hanya bisa menghela napas. Kesal, takut dan bingung menjadi satu. Mungkin begini nasib karyawan baru di kantor. Dan perlahan semua khayalan yang semalam melambung tentang kehidupan di kota ini sirna satu persatu. Ternyata pekerjaan dikantor tidak semudah dan semanis yang ia bayangkan kemarin.
Menit demi menit berlalu. Elea berkutat dengan telepon dari orang-orang yang complain ini dan itu. ada saja yang rusak dan ada saja yang harus diurus. Sementara dokumen di mejanya masih menumpuk, ia sendiri sibuk mondar-mandir kesana kemari tak karuan.
“Kok gini banget sih? Katanya aku staff HRD, kok semua complain AC, mesin fotocopy dan lain-lain kenapa aku semua?” Disela-sela pekerjaannya Elea menggerutu. Mengeluh sendiri.
Tak ada pilihan lain selain bertahan. Setidaknya status sosialnya di kantor ini sedikit terangkat. Dibanding ia bekerja menjadi tukang cuci piring seperti sebelumnya. Apalagi, Elea ingat pria bermata elang yang berkenalan dengannya kemarin. Pria itu saja menyebutkan kalau dia bekerja di salah satu kantor swasta di kota ini. Artinya, agar tidak malu dan bisa selevel dengannya, minimal Elea juga harus berstatus sebagai pekerja kantoran.
“Hei! Ngelamun aja,” Safira menepuk bahu gadis ini. Membuatnya terperanjat. Kaget. Jelas kaget, pikirannya sedang mengawang-awang sejak tadi. memikirkan tumpukan dokumen yang tak habis-habis.
“Maaf Fira, aku lagi banyak kerjaan.”
“Alah, kerjaan aja dipikirin. Sekarang waktunya makan. Ayo ke kantin, aku traktir lagi.”
“Gak usah Fir, gak usah. Aku makan nanti aja.”
“Heh, ngurusin kerjaan itu gak bakal ada kelarnya. Jadi yang penting isi perut dulu.”
“Nanti aja deh Fir,”
“Ayo lah, aku traktir kok, kamu gak usah mikirin bayar. Nanti aja kalau udah gajian.”
Elea diam sejenak. Kalau Fira terus memaksa mentraktir dan minta ganti saat Elea gajian bisa-bisa uang Elea habis untuk mengganti semua traktiran Safira nantinya.
“Ta-tapi Fir ….”
“Udahlah, ayo.” Gadis cerewet itu menarik paksa Elea tanpa bisa ditolak.