Louise tersentak bangun dari tidurnya dengan nafas tersengal. Jantungnya terpompa begitu cepat hingga ia nyaris merasa tenggorokannya tercekik. Oleh karena itu Louise langsung menyeret tubuhnya turun dari atas kasur untuk menemukan sebotol pil yang pereda rasa sakit di dalam laci. Louise menelan pil itu dengan bantuan anggur. Ia menyesapnya hingga tidak ada lagi yang tersisa, kemudian ketika nafasnya perlahan mulai berembus dengan teratur, Louise berjalan menuruni tangga, kali ini menuju dapur. Jarum jam di dinding masih menunjukkan pukul dua dini hari. Tidak biasanya Louise terbangun pada pukul dua. Namun mimpi buruk yang dialaminya beberapa menit yang lalu membuat Louise terjaga dari tidur. Ia mengalami kesulitan bahkan untuk sekadar memejamkan matanya. Louise begitu takut bayangan aka

