Pesta lamaran itu berjalan dengan lancar, mata Gita terus memancing Beyazid untuk memandang ke arahnya. Berusaha keras Beyazid untuk tidak menatap ke arah Gita yang terus memandangi calon adik iparnya itu. Selain itu, Gita juga menatap ke arah gadis berlijban lainnya yang berdiri di dekat pemuda yang lainnya.
Mata gadis itu sangat kentara bahwa dia dalah pengonsumsi obat terlarang. Mata panda yang disembunyikan di balik make up itu membuat Gita tahu betul bahwa gadis ini juga adalah seorang pemain. Gita berjalan ke arah adiknya yang berbicara dengan seorang wanita setengah baya yang berasal dari keluarga mempelai pria.
"Apa kau tahu tentang adiknya?" bisik Gita, dia bahkan tak mengalihkan pandangannya pada Alya, adik bungsu dari Beyazid.
"Siapa kak?" tanya Lisa, dia menoleh ke arah kakaknya dan suaranya begitu lembut.
Gita yang tidak ingin didengar percakapannya oleh orang lain kini menarik lengan adiknya itu, menjauh dari kerumunan.
"Adik perempuan dari calon suami kamu itu, apa kau tahu tentang adiknya?" tanyanya lagi, dia menatap dengan tajam ke arah Alya yang sama sekali tak menatap ke arah Gita.
"Oh Alya, kenapa memangnya, Kak?"
"Alya namanya?"
"Iya Kak."
"Oh gitu ya... Apa dia masih sekolah? Kuliah? Kerja? Berapa umurnya?"
Mendengar pertanyaan sang kakak membuat Lisa merasa heran. Dia mengernyit menatap Gita dan keningnya berkerut.
"Maksudnya?"
"Usianya, sekolahnya, kelas berapa dia, apa kau tahu?" tanyanya lagi dan sekali lagi membuat Lisa merasa heran dengan kakaknya ini.
"Kok nanya tentang Alya sih Kak? Memang ada apa?" Lisa berbalik bertanya pada Gita. Kini Gita sadar bahwa dia telah terlihat aneh di hadapan adiknya. Cukup aneh karena Gita menanyakan hal-hal yang seharusnya tidak dia tanyakan.
"Ah, astaga hmm... Bagaimana ya. Kakak hanya ingin tahu tentang keluarga calon suamimu, hanya itu, Dek," balas Gita dengan memelas.
"Tapi kan.... "
"Ah tidak usah dipikirkan, lihat sana saja, tuh calon suamimu, ganteng banget, tidak usah dipikirkan tentang pertanyaan kakak." Gita menepuk bahu Lisa dan dia menjauh. Lisa sendiri menatap ke arah Beyazid yang terlihat memang adanya, tampan.
Beyazid yang berbicara dengan Pak Wahid, kadang beberapa kali menoleh pada Lisa dan memberinya senyum. Perjodohan ini memang sudah lama direncanakan, karena Pak Wahid dan Dokter Erkan memang pada dasarnya dekat. Saat masih muda Pak Wahid cukup baik ingin mengajarkan Erkan berbahasa Indonesia, dan hubungan mereka sedikit menjauh dari waktu ke waktu karena kurangnya komunikasi.
Syukurlah, Pak Wahid kembali bertemu dengan Erkan dan mereka masing-masing memiliki anak perempuan dan laki-laki. Awalnya Erkan tertarik dengan anak sulung Pak Wahid, yaitu Gita, karena usia yang matang, dan terlihat sebagai anak yang baik-baik. Namun Pak Wahid menawarkan anak bungsunya yang masih berusia dua puluh tujuh tahun, hanya berbeda empat tahun dengan Beyazid.
"Bagiamana rumah sakit yang kau jalankan sekarang, Nak?" tanya Pak Wahid pada Beyazid yang berdiri di hadapannya.
"Alhamdulillah, berjalan cukup lancar," jawab Beyazid.
"Ah, sebaiknya kita duduk saja, kau mungkin lelah berdiri, Nak."
Mereka pun duduk dan bersebalahan di sofa, terlihat masih ramai, dan mungkin sebentar lagi akan sepi, dan acara lamaran akan selesai. Mata Beyazid kini mencari-cari dimana Lisa berada, dia mencari gadis yang memiliki wajah kecil yang bercahaya, enak dipandang, tapi sungguh masih haram bagi Beyazid untuk menatap wajah indah itu berlama-lama.
Kini kepala Beyazid tak lagi memikirkan tentang gadis berwajah indah itu, Lisa. Tapi kepalanya memikirkan tentang adiknya. Dia menatap ke arah adiknya, Alya yang terlihat pucat dan sebenarnya masih tak bisa diajak untuk ke mana-mana, namun untuk menyembunyikan tentang apa yang dia lakukan malam tadi, maka sang ibunda memaksanya untuk tetap ikut, takut-takut sang ayah curiga terhadap anaknya.
"Nak Beyazid, Nak, kau dengar apa kataku?"
Beyazid baru tersadar kalau Pak Wahid sedang berbicara padanya, padahal Beyazid larut dalam pikirannya sendiri tentang apa yang mungkin terjadi pada adiknya yang diam-diam nakal itu. Bagaimana mungkin dia bisa menyembunyikan keburukan itu selamanya?
"Iya Pak?"
"Kau tidak dengar apa yang aku ucapkan, Nak?"
Beya menelan salivanya dan hanya tersenyum, "Maaf Pak, ehm... Semalam ada banyak pekerjaan di rumah sakit, jadi mungkin.... "
"Oh, iya Nak, Bapak paham dengan beban pekerjaan kamu. Tadi juga Bapak ini bicara dengan ayah kamu, dia juga mengatakan kalau dia sudah tidak lagi kuat untuk menanggung beban pekerjaan di rumah sakit, jadi dia membebannkannya padamu," ujar Pak Wahid. Suara seraknya itu terdengar lemah.
Beyazid hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan calon ayah mertuanya itu. Saat dia menyeruput kopi di cangkirnya, matanya ditarik oleh bayangan perempuan berjilbab yang berjalan di samping sofa, dia meneguk kopinya dan menoleh ke arahnya. Dia menatap ke arah Gita yang berjalan pergi.
Dia sudah sangat ingin menemui Gita, untuk bernegosiasi dengan gadis itu, dia ingin agar Gita menyembunyikan semuanya, menyembunyikan tentang apa yang terjadi pada Alya, dan apa yang dilihatnya tadi pagi, pada jam tiga pagi.
"Pak Wahid."
"Iya, Nak?"
"Hmm saya harus menghubungi seseorang Pak, bisa saya pamit dulu?"
"Oh silakan Nak, kenapa harus berpamitan seperti ini."
Berdirilah Beyazid dan berjalanlah dia pergi. Dia bertanya pada ayahnya yang juga berbincang dengan seseorang.
"Ayah, kapan acara ini berakhir?" tanyanya pada ayahnya dengan suara yang berbisik kecil. Sang ayah yang mendengar apa yang dikatakan anaknya itu menoleh menatap Beyazid. Pria dengan tubuh jangkung dan kekar ala pria Turki itu menatap tajam ke anaknya.
"Kenapa begitu buru-buru? Acara ini baru berkahir saat semua orang merasa bosan, Nak. Mungkin sore," jawabnya.
Beyazid mengangguk, sambil dia berkata, "Baiklah, tidak masalah. Aku tidak buru-buru Ayah, hanya saja...."
"Hanya saja apa?"
"Lupakan saja Ayah, aku akan segera kembali."
Maka pergilah Beyazid, dia mencari-cari dimana perginya gadis yang berjilbab setengah itu. Sudah hampir Beyazid melihat setengah tubuh gadis itu, rambutnya, lehernya dan semua yang terlihat pada jam tiga pagi. Tapi dengan gadis itu berjilbab membuat Beyazid merasa kesulitan mencarinya dan menemukannya, entah di mana Gita berada.
Kini matanya bisa melihat ke mana wanita itu berada. Dia berjalan ke arah halaman belakang rumah, dan Beyazid mengikut di belakangnya. Dia melangkah dengan cepat ke arah gadis itu.
"Hei, kau Gita, kan?" Suaranya mampu di dengar oleh Gita dan berbaliklah Gita ke arah Beyazid.
"Apa maumu?" tanya Gita. Dia berhenti tepat di halaman belakang rumah di mana tak ada satu pun orang di sana selain mereka berdua.
"Aku sangat menyayangi adikku, jika orang-orang tahu tentang dia, maka ayahku pasti akan sangat marah dan menghukumnya sangat keras," katanya, jaraknya dengan Gita cukup jauh, dan Beyazid tak sanggup untuk menatap ke arah Gita.
Dia berusaha untuk menghindari tatapan Gita.
"Terus?"
"Apa rahasia kita aman?"