Kami Bertemu Di Hotel

1134 Kata
Gita: Rahasia kita akan aman, adik ipar. Pesan itu dikirimkannya melalui aplikasi chating dan tak mendapatkan balasan apa-apa selain hanya dibaca oleh yang menerima pesan. Dan tangan yang sedang menggenggam ponsel itu terlihat bergetar dengan mata yang berkaca-kaca. Bibir kecilnya menganga sempurna, dan dia tak paham dengan apa yang dimaksudkan dari pesan ini. Dia tanpa sengaja membuka ponsel kakaknya yang dia tahu apa password dari ponsel sang kakak. Dia membukannya karena seseorang menelpon. Tapi sayangnya, ada pesan yang membuat tangannya gatal untuk membukanya, dan dia hapal betul nomor siapa itu, dan milik siapa si penerima pesan. "Rahasia?" Ponsel itu jatuh ke atas ranjang tempat tidur Gita. Ponsel yang jatuh bersamaan dengan setetes air mata yang jatuh di pipi Lisa. "Lisa, tadi ada yang telpon, kau tahu itu siapa?" Gita yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi, dengan handuk di tubuhnya dan kain penghangat rambut di kepalanya. Lisa tak berkutik di tempatnya, dia hanya diam dan hanya diam saja. Ujung jarinya gemetar, matanya basah dan dadanya terasa sesak. Gita yang melihat adiknya yang terlihat kaku, dengan cepat menghampirinya. "Hai, kau tidak apa-apa?" Gita menatap adiknya dan melihat air mata yang mengalir di pipi Lisa. Kening Gita mengernyit dan dia cukup terkejut melihat adiknya itu terlihat basah matanya. "Sayang? Hei kok kamu nangis? Ada apa?" Sekali lagi Gita bertanya namun Lisa sama sekali tak menjawab. Gita yang tak mendapatkan jawaban itu memilih untik meraih ponselnya dan melihat pesan yang dia kirimkan pada Beyazid tadi malam. Dia tidak menyimpan nomor Beyazid dia juga lupa untuk mengapus pesannya. Selain itu, Gita berpikir kalau tidak akan ada yang tahu kalau itu nomor Beyazid karena dia tidak menyimpan nomornya dengan nama Beyazid atau bahkan tidak dengan nama lain. "Rahasia apa?" tanya Lisa. Gita hanya tertawa melemas, dia merasa tertangkap basah namun dia tidak ingin berlarut-larut dalam rasa cemasnya bahwa dia tertangkap basah oleh adiknya. "Apa maksudmu Lisa? Kau menangis karena pesan ini?" Gita menunjukkan ponselnya pada adiknya. "Kak, tolong jawab, rahasia apa?" "Lisa kau tidak punya hak untuk menanyakan sesuatu tentang temanku dan pesanku," balas Gita. Mereka saling berhadapan dan sekarang semuanya jauh lebih tegas. Gita terdengar jauh lebih tegas saat berucap pada adiknya. "Kakak tidak punya hak untuk mengirimkan pesan pada tunanaganku!" Suara Lisa membesar, dia berteriak nyaring dan menbuat Gita merasa terkejut. Dia belum pernah melihat adiknya seperti ini. "Lisa kau tidak apa-apa?" "Aku akan katakan semuanya pada Abi, aku katakan semuanya pada Abi!" Lisa keluar dari ruangan kamarnya, dia berjalan dengan lincah dan menuruni tangga dengan kaki kecil yang begitu cepat. Dia menangis dan berteriak, membuat semua orang yang ada di sana langsung keluar ke ruang utama, bahkan pekerja rumah yang ada di sana pun keluar. Pak Wahid yang belum ke kampus karena masih sangat pagi pun ikut keluar dari kamarnya. Dia bersama sang istri berlari keluar dengan cepat saat mereka mendengar suara nyaring milik si bungsu Lisa. Di belakang Lisa ada Gita yang mengejar. Dia mengejar adiknya yang menuruni tangga dan dengan handuk yang belum diganti dengan baju. "Abi! Abi! Abi!" Teriakan yang membuat semua orang yang ada di rumah itu menuju ruang utama. Datanglah Pak Wahid dan juga istrinya. "Ada apa ini, ada apa Lisa?" Pak Wahid bertanya dengan kening yang terlihat berkerut. Wajah tua itu cemas saat kedua anaknya kejar-kejaran di atas tangga hingga turun ke lantai utama. "Abi, Kak Gita. Kak Gita selama ini sering pulang malam!" Gita yang baru saja sampai di lantai utama pun terlihat membelalakkan mata, dia tak terima adiknya itu mengatakan semua rahasianya. Selama ini rahasia itu disembunyikan oleh ibu dan adiknya dari sang kepala rumah tangga. "Lisa!" Gita yang bersuara tak kalah kerasnya. "Apa yang terjadi pada kalian ini! Kau juga Gita kenapa tidak berpakaian sebelum turun ke sini, untung hanya ada Abi di sini, kau kenapa? Kalian kenapa?" Pak Wahid dengan tegas bertanya dengan mata yang tajam. "Kak Gita Bi!" "Diam Lisa!" Suara Gita membesar. "Gita, kecilkan suaramu," kata sang ibu yang berdiri di belakang sang suami. "Bi, selama ini Kak Gita suka keluyuran, dia suka pulang malam, bahkan kemarin di acara lamarannya aku, Kak Gita pulang jam tujuh pagi," kata Lisa dengan mata yang berkaca-kaca dan dia juga tak tega untuk mengatakan semuanya pada Abi dan Uminya. Dia ingin mentakan semuanya namun hatinya masih belum tega. Dia hanya ingin sang kakak dihukum tapi, nyatanya semua itu sudah diketahui oleh Pak Wahid. "Lisa, sayangku. Semua itu sudah Abi ketahui, kau tidak perlu seperti ini," kata Pak Wahid dengan lembut. Gita yang mendengar apa yang dikatakan ayahnya itu tiba-tiba menatap sang ayah. Dia menatap ayahnya dengan tatapan terkejut, selama ini dia selalu menyembunyikan kebiasaan pulang malam dan tidur di hotel. Hati Gita kini tak tenang, dia merasa bahwa ayahnya juga tahu tentang masalah kupu-kupu malam, tapi ternyata Pak Wahid tidak sampai berpikiran ke sana. Anaknya memang keluyuran tapi hanya bersama teman-teman, itulah yang Pak Wahid pikirkan. "Tapi Abi, Kak Gita harus dihukum Bi, selama ini Kak Gita buat dosa, kenapa dia nggak dihukum?" Pak Wahid yang bingung dengan apa maksud utama anaknya itu hanya mampu menatap dengan tanda tanya ke arah sang istri, dia juga menatap putri sulungnya lalu menatap ke arah putri bungsunya yang menangis. "Dia pasti akan dihukum, Nak, Allah akan menghukumnya." "Tapi Bi, Kak Gita bukan hanya suka keluyuran, dia semalam kirimin pesan ke Beyazid kalau rahasianya akan aman dengan Beyazid!" Lisa semakin menangis. Mendengar apa yang dikatakan anaknya itu, Pak Wahid dan istrinya menatap ke arah Gita yang berusaha untuk membala diri. "Lisa salah paham, aku dan Beyazid? Punya rahasia? Hahahaha, tidak mungkin. Kami kan baru ketemu kemarin." Gita yang berusaha membela dirinya sendiri dengan senyum yang melemas. Melihat reaksi Gita, kini Pak Wahid hanya menatap diam putrinya dan dia berkata, "Rahasia?" "Lihat saja ponselnya Abi, dia ngirimin Beyazid pesan, tentang rahasia." "Di mana ponselmu?" Gita baru ingat kalau ponselnya kelupaan di kamarnya. Dia menoleh ke atas kamarnya dan ibunya, begitu lincah berjalan ke arah tangga, dia naik ke tangga dan di belakangnya ingin menyusul Gita namun ditahan oleh sang ayah. "Jangan berani-berani kau bergerak di tempatmu sekarang!" Tidak lama kemudian ponsel itu dibawa turun oleh ibunya, sayangnya Gita lupa menghapus pesannya. "Apa passwordnya?" "Ulang tahu kak Gita, Bi." Maka Pak Wahid membukanya, dia masuk ke aplikasi chating dan melihat pesan yang dikirimkan Gita kepada Beyazid. Dan benar saja, pesan itu benar adanya. Maka Pak Wahid mengambil ponselnya sendiri dan mencocokkan nomor Beyazid dengan nomor yang ada di ponsel Gita. Setelah mencocokkannya, Pak Wahid bertanya, "Rahasia apa yang kau punya dengan calon adik ipar mu?" "Itu bukan nomornya Beyazid." "Sudahi kebohongan kamu Gita. Sudah cukup kau berbohong." Mata Gita berkaca-kaca, dia tertunduk dan tak bisa mengatakan apa-apa, dia kebingungan, dan dia juga sudah berjanji untuk merahasiakan tentang adik Beyazid, Alya. "Gita!" "Itu hanya.... " "Katakan yang sejujurnya." Gita menatap ayahnya dengan tatapan yang berkaca-kaca, dan dia berkata dengan berat hati, "Kami bertemu di hotel." Prak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN