Seminggu kemudian..
Frans Wenda baru saja diangkat menjadi kepala cabang bumn tempat andi bertugas, dalam hirarki pekerjaan andi merupakan bawahan langsung dari frans wenda, Malam itu rina menemani andi menghadiri acara perkenalan atasan baru suaminya.
Frans Wenda sendiri adalah seorang pria dari Maumere, Nusa Tenggara Timur, aslinya dia adalah orang papua, namun sejak usia 5 tahun pindah ke maumere, usianya saat ini sudah 52 tahun, sebelum menjadi kepala cabang solo, beliau bertugas di Kalimantan.
Postur pak Frans Wenda sendiri seperti orang papua pada umumnya, tinggi besar dengan kulit kehitaman, karakternya sangat ramah, murah senyum.
***
Andi menghampiri frans Wenda yang sedang menerima ucapan selamat dari beberapa koleganya.
"Selamat malam pak frans , saya andi dan ini istri saya Rina, selamat ya pak atas promosinya." Ujar andi.
"Ohh anda pak andi ya, terima kasih pak andi, dan terima kasih buat bu Andi yang sudah hadir," kata Frans Wenda sambil bersalaman dengan keduanya, mata Frans Wenda melekat ke Rina yang saat itu tampil anggun dengan gamis hitam yang kontras dengan bagian pergelangan tangan yang tidak tertutup gamis.
"Pak andi pria beruntung, istri bapak sangat anggun sekali dan cantik," ujar Frans Wenda sambil tersenyum.
Rina merasa tidak nyaman berhadapan dengan atasan baru suaminya ini, ada kilatan aneh dimata pria itu saat bertatapan dengannya, rina hanya tersenyum menanggapi ucapan frans.
"Ah bapak bisa saja, oh ya istri bapak mana," tanya Andi kemudian,
Frans Wenda lalu menjawab "istri saya sudah meninggal pak andi, anak anak juga sudah besar, mereka tinggal di luar negeri semua,"
"Ohh maaf pak saya tidak tahu," timpal andi merasa canggung,.
"Tak apa-apa pak andi," jawab Frans Wenda kemudian.
"Jadi bapak disolo ini tinggal sendiri?" tanya andi.
"Ya pak andi, saya juga kan sebentar lagi memasuki masa pensiun," jawab Frans Wenda.
"Oh ya maaf pak andi, saya mau menelpon Jakarta dulu, silahkan pak andi nikmati hidangan yang saya suguhkan, silahkan bu andi" ujar frans mengakhiri perbincangan mereka.
Sambil menelpon, Frans Wenda memperhatikan punggung kedua pasangan yang sedang menuju tempat hidangan makanan, pandangannya terfokus pada rina, frans memperhatikan pergelangan kaki rina yang tak tertutup gamis, terlihat putih bersih.perlahan d**a frans berdesir.
***
"Yah, kok bunda merasa aneh ya dengan atasan ayah yang baru itu," ujar rina saat dalam mobil di perjalanan pulang dari acara.
"Maksud bunda apanya yang aneh, ada ada aja perasaan bunda ini, apa karena dia dari papua, jadi keliatan serem," timpal andi sambil tersenyum.
"Gak lah bukan fisiknya, tapi entahlah bunda canggung aja dekat dia tadi," ujar Rina kemudian.
"Sudahlah jangan berpikiran aneh-aneh, edwin cerita katanya pak Frans Wenda itu bos yang baik," ujar andi kemudian sambil fokus menyetir.
"Ohh ya mas Edwin sekarang dimana yah" tanya rina, dia tau edwin adalah kawan suaminya satu angkatan saat masuk jadi pns dulu.
"Edwin sekarang ada di bandung bun, dia jadi kasub di kantor cabang utama," jawab andi.
Rina yang saat itu menyender di kursi, kemudian bangun dan kemudian melihat suaminya yang sedang fokus mengemudi.
"Yah maaf ya, kok karier ayah beda sih dengan edwin, walaupun golongan ayah sama, tapi edwin udah dapat jabatan kasub," tanya rina agak sedikit takut kalau suaminya tersinggung.
Sejenak andi menoleh ke istrinya, lalu kembali fokus ke depan, "kata si edwin sih,kariernya sekarang banyak dibantu pak frans wenda bun, makanya edwin bilang ayah beruntung bisa dapat atasan kaya pak frans, soalnya beliau pernah jadi atasan si edwin, ya mudah-mudahan aja nanti karier ayah juga bakalan dibantu ya bun," jawab andi.
"Aamiin semoga ya yah," timpal Rina.
***
Satu bulan kemudian..
Andi menghadiri lokakarya di kantor pusat di Jakarta, disana dia kemudian memanfaatkan waktunya untuk bertemu akbar buah hatinya, tanpa lupa dia bervideo call dengan istrinya yang telah rindu dengan akbar. Dalam lokakarya itu ternyata edwin juga hadir.
"Hai bro dah lama gak jumpa kita, gimana kabar lu bro?" kata Edwin saat coffe break
Mereka ngobrol di taman depan kantor pusat.
"Baik-baik aja win, seperti yang lu liat, hebat win karier lu sekarang, selamat ya," jawab andi,
"Makasih bro, oh ya gimana bos yang baru itu pak Frans Wenda, lu beruntung bro dapet bos kaya dia, jujur aja klo gak ada dia, gw gak bakalan bisa dapet jabatan kaya sekarang ini," ujar Edwin.
"Baru sebulan sih dia jadi atasan di kantor, jadi gw gak tau beruntungnya hehe," jawab andi.
"Di dunia hirarki gini, lu musti bisa ngertiin kemauan bos, klo lu dah ngerti kemauan bos, kemauan lu juga bakalan lu dapetin, kaya karier lu, contohnya gw nih." Lanjut edwin.
"Gw gak paham win" kata andi bingung.
"Yailah di, pantesan karier lu mandeg, sori to say bro jangan tersinggung," ujar edwin
kemudian, namun saat akan melanjutkan ucapannya, hp edwin berbunyi, "bentar bro gw terima telpon dulu, dari bos gw" pamit edwin.
Tak lama edwin kembali, "gini bro abis lokakarya kita ngobrol lagi, kayaknya lu musti gue latih nih biar peka," ucap edwin.
"Latih?, lu kira gw artis sirkus," jawab andi sambl tertawa.
"Nah mungkin biar lu bisa jadi artis sirkus, makanya perlu dilatih, karena dunia kita ini sirkus hahaha," kata edwin kemudian terbahak-bahak.
Andi hanya mengernyitkan dahi bingung dengan perkataan temannya ini, kemudian keduanya masuk kembali ke auditorium tenmpat lokakarya di adakan.
***
Malamnya di sebuah cafe
"Ah yang bener lu win?" ucap andi agak sedikit kaget mendengar cerita edwin tentang frans .
"Gw ngomong apa adanya di, tapi walau m***m kaya gt, pak frans itu koneksinya luas ke bos pusat, lu tau gak kenapa koneksinya bisa luas, karena pak frans megang kartu matinya bos, makanya rekomendasi dari pak frans langsung di acc aja, kaya gw nih contohnya, pak frans rekomendasiin gua ke bos pusat untuk jadi kasubag di kantor cabang utama bandung, gak lama sk gw nongol" ujar Edwin sambal meghisap rokoknya dalam2.
Andi hanya tercenung saja, dia bingung mau ngomong apa.
"Pak Frans lu bisa liat sendiri kan bersahaja, berwibawa, pasti orang-orang gak bakalan nyangka ya kan, tapi kalau kita tau sebenernya itu benefit buat kita di, kita tau dan kita bisa memberi apa yang dia pengen, maka apa yang kita pengen juga bisa dia wujudkan." lanjut edwin lagi. Malam semakin larut..obrolan mereka terus berlanjut.
***
Di pesawat garuda yang membawanya pulang ke solo, andi tercenung mengingat cerita edwin malam itu.
"Pak frans itu suka cewek di, tapi juga yang eksklusif, bukan p***k, dia dulu naksir karyawan yang kebetulan asisten gua, pas gua tau kemauan dia, gua pepet terus tuh asisten gua, emang sih asisten gua itu dah punya suami, tapi ya gitulah, pak frans maunya cewek itu, akhirnya singkat kata gue berhasil meyakinkan tuh cewek, jadilah affair, dan suami si cewek itu sebenarnya tau, tapi ya gak bisa apa-apa, karena suaminya juga lagi nganggur mau gimana lagi, tapi kemudian pak frans dipindah ke Kalimantan, dan affair itu juga berakhir, cewek itu juga baik-baik aja rumah tangganya, terakhir ini gw juga gak tau apa mereka masih berhubungan atau nggak."
Andi teringat ucapan rina saat di mobil dulu yang mengatakan pak frans aneh memandanginya, kadang andi juga merasa aneh sejak pertemuan di acara penyambutan, pak frans semakin rajin mengundangnya dan rina dengan alasan menemani makan malam, namun andi tak pernah berpikir hal lain, mungkin pak frans kesepian di solo dan juga kan dia baru di solo.
Namun setelah mendengar cerita edwin, semua itu terlihat puzzle yang menyatu menjadi prasangka yang sungguh jelas.
"Apakah pak frans menyukai rina?", perlahan ada sesuatu yang membangunkan fantasinya, andi sendiri juga bingung, kenapa perasaan ketika laki-laki lain menyukai istrinya membuat hatinya berdesir, bukan berdesir geram, tapi desiran yang merangsang kelelakiannya.
Membayangkan pak frans yang tinggi besar dengan kulit hitam legam menyukai istrinya yang cantik putih mulus, membuat p***s andi menegang. tubuhnya agak hangat. "ah sialan," tak lama pesawat garuda tersebut mendarat di bandara adi sumarmo solo.