bc

Menikahi Gadis Licik

book_age18+
86
IKUTI
1K
BACA
one-night stand
HE
kickass heroine
drama
bxg
city
secrets
actor
like
intro-logo
Uraian

“Gue nggak kenal dia,” kata Ares.

“Terus kenapa lo tidurin adek gue?!” sambar Dikta jengkel.

“Gue mabuk. Gue juga nggak inget semalem gimana ceritanya.”

“Nikahin adek gue.”

Ares melotot. “Nikah?! Tapi gue punya pacar!”

Ares sang artis tampan terjebak skandal dengan Bella. Awalnya ia tidak mau bertanggung jawab sehingga membuat keluarga Bella marah. Ia pun diberi dua pilihan: menikahi sang gadis atau aib Ares akan diviralkan di sosial media. Demi menyelamatkan nama baik, Ares pun terpaksa menikahi Bella. Semua terjadi terlalu cepat sehingga Ares tidak punya waktu untuk menyelidiki fakta di balik skandal itu. Tidak disangka, skandal itu adalah ide licik dari Bella yang jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Habislah nasib Bella jika Ares tahu yang sebenarnya.

Lantas bagaimana kelanjutan kisah mereka?

chap-preview
Pratinjau gratis
001. Bukti Tak Terbantahkan
“Lo siapa?!” Suara menggelegar Ares menghantam indra pendengaran Bella. Pemuda tampan itu bangkit dengan cepat dari ranjang. Tatapan matanya terlihat panik, khawatir, sekaligus takut. Ia bukan takut pada Bella. Ia hanya takut nama baiknya tercemar. “Gue… gue Bella,” jawab Bella dengan mata masih terkantuk-kantuk. “Lo ngapain di kamar gue?!” “Hah? Kamar lo?” tanya Bella melongo. Ia terdiam seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Nampaknya, saraf otak gadis itu belum terhubung sepenuhnya karena baru bangun tidur. Cukup lama ia melongo untuk menyadari situasi. “Hah?!” Seketika mata Bella melotot. “Ini kamar siapa?!” “Kamar gue!!!” teriak Ares kesal. “Kok gue ada di sini?!” pekik Bella panik. “Ya mana gue tau! Lo penyusup?!” Bella mendelik marah pada Ares. “Ngapain gue nyusup ke kamar lo?! Lo siapa juga gue gak tau! Gak usah kepedean deh lo!” Ares mendecak sebal. Ia melipat kedua tangannya di d**a dengan tatapan tajam pada Bella. Jujur ia gemas pada gadis di hadapannya saat ini. Bisa-bisanya ada seorang gadis yang tidak mengenal seorang Ares Devian Emrick. Iya! Ares sang seleb tampan. “Keluar lo. Sekarang,” pinta Ares dingin. Bella memegangi kepalanya yang masih terasa agak berat. “Lo nggak apa-apain gue kan?” “Lo masih pake baju! Gue juga nggak napsu sama lo!” balas Ares pedas. “Jawaban lo nggak mewakili pertanyaan gue. Lo nggak apa-apain gue kan? Tinggal jawab ‘ya’ atau ‘enggak’. Berat banget buat lo?” sindir Bella kesal. “Enggak! Puas lo?!” “Tapi kenapa lo shirtless? Baju lo ke mana? Lo yakin nggak apa-apain gue?” kejar Bella masih belum puas. “Ya suka-suka gue lah. Yang aneh itu elo. Ngapain lo tidur di kamar orang lain? Lo salah masuk apa gimana?” Tiba-tiba Bella menyipitkan mata. Kalimat Ares barusan membuatnya berpikir semakin jauh. Perlahan ia bangkit dan mendekati pemuda itu. Kini mereka pun berdiri berhadapan dengan tatapan tajam satu sama lain. “Ada jaminan kalo lo jujur?” selidik Bella serius. “Lo berharap ada CCTV di kamar hotel?” Bella mendecih. “Berarti gue gak bisa percaya sama lo.” “Itu urusan lo. Lo yang salah kamar, kenapa jadi gue yang seolah-olah jadi penjahatnya?” Mata Bella kian tajam menatap Ares. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah pemuda itu. Lubang hidungnya kembang kempis. Keningnya mengernyit. Bau alkohol dari mulut Ares membuat rahangnya mengeras.. “Lo habis mabok semalem?” tembak Bella frontal. “Bukan urusan lo.” “Ya jelas urusan gue lah!” balas Bella dengan nada melesat tinggi. Ia menunjuk d**a Ares dengan brutal. “Jangan-jangan lo sengaja masukin obat tidur ke minuman gue?! Lo ngincer gue kan?!” “Kayaknya lo masih mimpi,” dengus Ares menyingkirkan tangan Bella dari dadanya. Ia menunjuk ke arah pintu dan kembali bertitah, “Keluar sekarang atau gue panggil security.” Rahang Bella semakin mengeras. “Oke. Gue keluar.” “Good. Silakan pergi.” “Tapi kalau sampai lo terbukti apa-apain gue, abis lo!” sambung Bella jengkel, lalu menyambar tas sebelum berjalan keluar dengan langkah keras dan cepat. “Ya, silakan,” tantang Ares yang begitu yakin kalau ia tidak bersalah. Brakkk! Bella membanting pintu kamar hotel. Wajah cantik itu terlihat sangat gusar dengan kejadian barusan. Ia pun berjalan masuk ke kamar lain yang berlokasi persis di depan kamar Ares. *** Ares tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada seorang gadis aneh bernama Bella menyusup ke dalam kamarnya? Apakah Bella juga menginap di hotel ini? Dari kalimat Bella tadi, Ares pun mengambil kesimpulan kalau Bella memang satu hotel dengannya. Berarti, bisa jadi Bella memang salah masuk kamar. Tapi… memangnya bisa? Darimana Bella mendapatkan kunci? Apa perlu Ares mengecek CCTV hotel? Sesaat setelahnya, Ares pun berusaha menepis perasaan buruk karena kejadian tadi. Ia pun masuk ke kamar mandi, lalu keluar lagi 20 menit setelahnya. Ia melirik jam dinding. Sebentar lagi pukul delapan pagi. Cepat-cepat ia mengenakan kaos hitam dan meraih ponsel di nakas. “Hmmm?” Kening Ares mengernyit melihat ada notifikasi pesan dari nomor yang tidak dikenal. Segera ia membuka ponsel dan membaca pesan itu. Satu detik kemudian, mata Ares melotot. Jantungnya terasa jatuh ke tanah. “Ke-kenapa….” Pemuda itu tidak sanggup berkata-kata. Tangannya bergetar dan tubuhnya mendadak berkeringat. Pandangannya nanar melihat foto mesra yang ada di galeri ponselnya. Di foto itu, ia yang bertelanjang d**a tengah tidur bersama dengan Bella. Sialnya, dia sendiri lah yang mengambil foto itu! Jadi apa yang terjadi semalam?! Ares tidak ingat apa pun! Ia juga tidak ingat telah membawa Bella ke kamarnya. Andai foto itu hanya ada dalam galeri, Ares tidak akan sepanik ini. Masalahnya, foto itu ia kirim ke nomor asing. Dan… nomor asing itulah yang saat ini tengah meninggalkan pesan untuknya. Dddrrrttttt! “Ahhh!” teriak Ares terkejut. Ia yang masih shock, semakin terkejut setengah mati hanya karena getaran ponsel. Wajah tampan itu pias. Tubuhnya semakin berkeringat. Vibrasi ponsel itu membuatnya terpaku. Bahkan untuk sekadar berpikir pun, otaknya sudah membatu. Dakkk! Dakkk! “Buka pintunya!” Suara gedoran pintu dan teriakan seorang gadis membuyarkan kebisuan Ares. Pemuda itu menelan ludah. Ia tahu siapa gadis yang berteriak di luar sana. Ia masih mengingat suara Bella. Itulah yang membuatnya menelan ludah dalam perasaan panik. “Gue tau lo masih di dalem! Buka nggak?!” ancam Bella terus-terusan menggedor pintu. Mau tidak mau, Ares pun membuka pintu. Oh, tentu saja setelah menata kembali pikirannya yang kacau balau. “Apa?” tanya Ares begitu pintu terbuka. Sebuah pertanyaan retoris yang teramat sangat tidak diperlukan. Jelas-jelas ia tahu alasan Bella. Alis Bella menukik, membentuk kurva tajam. Marah karena pertanyaan bodoh itu. Plakkk! Ares melotot. Telapak tangan halus itu mendarat keras di pipi Ares. Meninggalkan bekas merah dan melukai ego Ares sebagai seorang seleb sekaligus lelaki. Bella tidak peduli. Setelah menampar pipi mulus itu, ia menunjukkan sebuah foto di galeri ponselnya. “Ini apa?” tanya Bella dingin. Bukannya menjawab, Ares malah membisu. Bisunya pemuda itu membuat Bella semakin gusar. Ia mengangkat kedua tangan. Bukan untuk menghajar Ares lagi, tapi ia mendorong pemuda itu masuk. Praktis, pintu kamar pun tertutup. Bella menatap Ares tajam. “Jujur, lo apain gue?” Dengan tangan mengelus pipis, Ares melemparkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak mau membalas tatapan tajam Bella. “Gue nggak inget….” Dan akhirnya jawaban singkat itu meluncur dari bibir Ares. Seketika Bella mendengus. Dengan emosi yang kembali melejit, ia mendorong d**a Ares. “Kenapa nggak ngomong sejak awal?! Kenapa lo malah nyalah-nyalahin gue yang salah kamar? Kenyataannya justru lo yang bawa gue ke sini!” damprat Bella murka. Ares menarik napas panjang. Kali ini ia menatap Bella dengan sorot mata melembut. Dengan hati-hati, ia angkat bicara. “Maaf. Kita anggap ini nggak pernah terjadi. Gimana?” “Segampang itu lo ngomong?!” tanya Bella dengan sorot mata tidak percaya. “Terus mau lo gimana?” “Tanggung jawab lo!” Mata Ares menyipit. “Tanggung jawab???” “Iya. Lo abis nidurin gue. Lo harus tanggung jawab,” jawab Bella tegas. “Apaan sih! Gue nggak apa-apain lo!” tolak Ares mentah-mentah. Plak!!! Satu tamparan lagi mendarat di pipi Ares. Belum sempat Ares membuka suara, Bella mendorongnya sekali lagi hingga jarak mereka terpangkas. “Foto ini masih belum cukup buat bukti? Hah?” desis Bella dingin. Ia menunjuk d**a Ares dengan tatapan mata berkilat penuh kemarahan. “Tau nggak apa yang udah lo perbuat? Lo tau nggak?!” “Kita cuma foto di ranjang,” jawab Ares masih membela diri. “Lo kirim foto itu ke kakak gue!!!” damprat Bella akhirnya meledak juga. Detik itu juga Ares merasa lantai yang ia pijak runtuh bersama dengan citra anak baik-baik yang selama ini ia bangun. Air muka pemuda itu mengeras. Tidak pernah ia bayangkan bisa terjebak dalam situasi aneh ini. Sumpah demi apa pun, ia tidak ingat secuil pun perihal apa yang terjadi semalam. “Lo yakin gue yang kirim?” tanya Ares berusaha tenang. “Cuma lo yang sama gue semaleman! Lo kan mabok juga! Pasti lo gak sadar udah ngapain aja!” tukas Bella sengit. “Kenapa kita bisa bareng?” “Mana gue tau!!!” sahut Bella keras. Ia memegangi kepalanya dengan frustasi. “Mati beneran gue….” “Lo nongkrong di mana semalem? Night club juga?” “Iya!” “Kok lo nggak bau alkohol? Lo gak mabok?” “Nggak!” sahut Bella ketus. “Terus kenapa lo nggak nolak semisal semalem gue maksa lo ke sini? Terus gue ke sini pake apa?” selidik Ares. “Mana gue tau! Justru gue curiga ke elo! Lo masukin obat tidur di minuman gue?!” Bella berbalik menuduh Ares. “Enggak. Kenal lo aja enggak,” tukas Ares cepat. Ares mendesah pelan mendengar jawaban Bella. Ia tidak tahu persis bagaimana kronologisnya hingga mereka bisa tidur bersama semalam. Itu tidak terlalu penting. Mau bagaimana pun kronologisnya, semua sudah terlanjur terjadi. “Kakak gue nelpon daritadi. Dia pasti nuntut penjelasan,” ucap Bella lemas. “Kita temuin kakak lo.” Kepala Bella terangkat. Alisnya bertaut. “Mau ngapain?” “Elo bilang gue harus tanggung jawab. Oke, gue tanggung jawab buat jelasin semuanya ke kakak lo. Nggak lebih.” Bella terlihat tidak suka dengan ide Ares. Sayangnya ia tidak punya pilihan. Lebih baik ia dimarahi bersama Ares daripada dimarahi sendirian. Toh semuanya salah Ares (setidaknya menurutnya saat ini). Tiba-tiba Ares mengulurkan tangannya. “Gue Ares. Lo serius nggak tau gue?” “Nggak!” sambar Bella ketus tanpa menerima jabatan tangan Ares. “Gue artis.” “Gue nggak peduli mau lo artis atau pejabat. Lo udah bikin skandal sama gue!” “Tapi gue peduli,” balas Ares serius. Ia menarik kembali jabatan tangan yang tak terbalas itu, lalu menyambung, “Ini menyangkut nama baik gue. Selama di dunia hiburan, gue nggak pernah terlibat skandal atau sensasi. Kalau publik tau soal ini, karir gue yang terancam.” Bella mendecak kesal. “Bokap gue juga pengusaha. Keluarga gue juga keluarga baik-baik. Lo pikir lo doang yang branding-nya harus bagus?” “Oke. Kita saling melindungi nama baik. Kita temuin kakak lo hari ini juga. Deal?” tawar Ares kembali menyodorkan tangan. Bella terdiam sejenak sambil menatap Ares. Tak lama kemudian, ia menyambar tangan lembut pemuda itu sembari menyahut, “Deal!” *** Sekarang terjawab, sudah pertanyaan Ares. Rupanya mobil Ares masih ada di night club. Dengan kata lain, bisa jadi Ares berasumsi kalau ia membawa Bella ke hotel menggunakan taksi. Ah, itu tidak penting sekarang! Menghadapi keluarga Bella adalah masalah utama saat ini. Mau tidak mau, Ares pun mengambil mobil itu sebelum meluncur bersama Bella menuju kediaman kakak Bella. Sepanjang perjalanan, Ares menyetir dengan hati tidak tenang. Ternyata ada masalah yang lebih serius dibandingkan kakak Bella. Kali ini nyaris fatal karena ia mengunggah foto skandal itu di i********:. Beruntung hanya di close friend dan baru dua orang yang melihat: sahabat dan rekan sesama artis. Sang sahabat menanyakan tentang foto itu, tapi Ares sama sekali tidak membalas dan segera menghapus instastory itu. “Itu rumah gue,” ucap Bella menunjuk pada satu rumah bergaya American yang terletak di ujung jalan. Tanpa banyak cakap, Ares melajukan mobil ke arah sana. Setelah tiba, keduanya pun bergegas turun dari mobil. Sebelum sempat melangkah masuk rumah, seorang pemuda tampan berdehem ke arah Bella. Spontan, Bella dan Ares pun terkesiap. “Kak Dikta?!” “Kenapa hpnya nonaktif?” tanya Dikta tajam. Wajah Bella memucat. “Masuk. Kita ngomong di dalam,” titah Dikta lagi. Tidak ada lagi yang bisa Bella dan Ares lakukan selain mengikuti perintah itu. Hati Ares sudah ketar-ketir. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan Dikta lakukan padanya. Setahu Ares, seorang kakak laki-laki itu sangat menjaga adik perempuannya. Besar kemungkinan, ia akan dihajar oleh Dikta. Duh, Ares bergidik membayangkannya. Ares dan Bella langsung duduk tanpa dipersilakan. Keduanya duduk berhadapan dengan Dikta. Persis seperti sepasang anak muda yang akan menerima hukuman. Dikta melipat kedua tangan di d**a. Benar-benar menambah kewibawaannya. “Kalian pacaran?” selidik Dikta. “Enggak,” jawab Bella pelan. “Kalian nggak pacaran, tapi tidur bareng? FWB-an?” tuduh Dikta pedas. “Gue nggak kenal dia,” sahut Ares yang disambut oleh pelototan galak Dikta. “Terus kenapa lo tidurin adek gue?!” Nada bicara Dikta sontak melejit tinggi. Tidak terima dengan perlakuan m***m Ares yang dianggap telah menodai sang adik. “Gue mabuk. Gue juga nggak inget semalem gimana ceritanya. Tiba-tiba aja adek lo ada di kamar gue,” tutur Ares berusaha tenang. Dikta mengusap wajahnya dengan kesal. Ketenangan Ares justru memantik kemarahannya lebih dalam lagi. Bisa-bisanya Ares bertampang datar dan berekspresi innocent seperti itu setelah meniduri adik semata wayang Dikta. Bagaimana Dikta tidak marah? “Nikahin adek gue,” kata Dikta tiba-tiba. Seketika mata Ares melotot. “Nikah?!” “Hah?!” Bella ikut shock. Dikta menatap Ares tajam. “Ya. Nikahin adek gue. Lo nggak sayang sama nama baik lo?” “Lo tau gue?” tanya Ares hati-hati. “Ya, gue tau. Lo artis. Gue juga tau image lo bersih. Kalau lo pengen image lo tetep bersih, nikahin adek gue.” “Tapi Kak Dik—”    “Diem!” pinta Dikta memotong kalimat Bella. Ia menunjuk batang hidung sang adik sambil mengomel, “Lo tau nggak?! Lo kirim foto itu di grup keluarga!” “Hah?!” Jantung Ares dan Bella sama-sama nyaris copot. “Lo belum buka grup keluarga? Lo matiin notifnya?” selidik Dikta tajam. Sejenak kemudian, ia menghela napas. “Hhhh… papa sengaja diem aja. Beliau serahin urusannya ke gue.” Ares dan Bella membisu. “Ares,” panggil Dikta tiba-tiba. “Gue mau ingetin lagi. Nama baik lo dan keluarga gue bakal terjaga kalau lo nikahin Bella.” “Gue udah punya cewek.” “Gue nggak peduli.” “Terus gue harus bilang apa ke cewek gue?!” ucap Ares frustasi. “Itu urusan lo. Siapa suruh lo mabuk, terus nidurin adek gue?” sindir Dikta tajam. “Bisa nggak kita lupain aja masalah ini?” tawar Ares berusaha bernegosiasi. “Enteng banget rahang lo!” sambar Bella marah. Ares mendengus pelan mendengar sahutan gadis itu. Berbeda halnya dengan Dikta yang geleng-geleng kepala dan gatal ingin menghajar sang seleb. “Lo mau gue viralin kelakuan lo di Twitter?” ancam Dikta. Ancaman itu membuat Ares terdiam. Kariernya ada diambang kehancuran…. Kalau sampai skandal itu merebak dan viral, bisa dipastikan masyarakat akan menghujatnya. Kariernya bisa hancur dalam hitungan hari. Kalau sudah sehancur itu, bagaimana ia bisa membangunnya lagi? Ia pasti sudah terlanjur dibenci duluan. “Lo punya waktu tiga hari buat mikir. Begitu lewat tiga hari dan lo masih diem aja, gue bakal viralin kelakuan lo. Ngerti?” kata Dikta ketus. Tiba-tiba kepala Ares pusing mendengar ancaman itu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook