EPS. 3

1178 Kata
MEDAN Dara menghela napas kasar setelah selesai menyiapkan semua barang bawaannya menuju Jakarta. Ia hanya membawa satu koper yang berisikan segala keperluannya di sana. Siapa yang menyangka jika sebuah takdir akan mempersatukan sesuatu yang telah lama hilang. Ini kesempatan Dara untuk kembali mengenang masa kecilnya. Ia akan bertemu Elang, bahkan mereka sudah ditakdirkan akan menikah meskipun melalui jalur perjodohan. Bulir keringat mengalir pada pelipis Dara, dan dengan cekatan ia segera menghapus keringatnya sebelum merusak bedak yang sudah ia poles. "Ha ... nggak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Aku pikir Bang Elang udah nikah, rupanya jodoh memang nggak kemana." Dara kembali menghela napas. "Meskipun putus dengan Bang Cakra begitu sulit aku rasa, tapi untuk apa mempertahankan cinta untuk seseorang yang tidak mengenal cinta." Sebuah pengorbanan memang harus dilakukan dengan sepenuh hati, tetapi jika pengorbanan tidak terbalaskan, lebih baik berhenti sebelum kamu menyesal atas apa yang sudah terjadi. Dara memandang sekeliling kamarnya. Mungkin ia bakal merindukan semua ini, setiap dinding di kamarnya memiliki arti tersendiri. Terutama ada satu coretan wajah anak lelaki-dengan pensil-yang ada di dinding sebelah kanan, itu memiliki cerita tersendiri bagi Dara. Setiap goresan pensil itu melambangkan kebahagiaan yang sampai saat ini masih Dara rasakan. Itu wajah Elang, meski tidak sempurna Dara menggambarnya. Dulu, setiap kali ia ingin tidur Dara akan bercerita sedikit kepada coretan wajah Elang. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Cakra dan melupakan semua tentang Elang, namun sekarang takdir ikut serta dalam hidupnya. "Bang Elang, semoga tidak ada yang berubah dari Abang." Setelahnya Dara melangkah keluar dari kamar dengan menyeret koper miliknya dengan susah payah. Memang cukup banyak yang ia bawa, sampai-sampai harus mengenakan koper. Keperluan wanita berbeda dengan pria, jadi harap maklum saat melihat betapa ribetnya Dara. Sebuah senyuman terlukis dengan sempurna pada kedua bibir Ayah dan Mamak. Senyuman yang tidak dapat Dara lihat lagi setiap harinya-setelah ini. Sungguh, terasa berat hati ini untuk meninggalkan kota Medan, terutama rumah ini. Ada dua orang yang paling Dara sayang. -00- Suasana hiruk piruk Bandara Kualanamu meramaikan suasana meskipun hari sudah malam. Dara sebentar lagi akan berangkat ke Jakarta demi apa yang sudah menjadi ambisinya-sekaligus menuruti permintaan Mamak. Suara Announcer mengingatkan Dara bahwa pesawat yang ia naiki akan segera berangkat. Suasana haru diantara keluarga kecil itu menjadi pusat perhatian para penumpang lain. Terutama saat mereka mendengar sekaligus melihat betapa lebay tingkah Mamak saat ini. "Dara sayang, jangan bikin malu Mamak ya, Nak. Jangan malas kali kau di sana," tegur Mamak seraya mengusap pipi Dara penuh cinta. "Setelah kau pergi, jangan kau lupakan Mamak." Wajah sedih Dara kontan berubah menjadi kesal. Reaksi Mamak begitu berlebihan. "Isshh ..., entah apa ajalah Mamak. Macam mau jadi TKW di Arab sana aku," gerutu Dara dengan bibir manyun. "Bercanda doangnya Mamak. Janganlah kaya bebek gitu muncong kau." Baca: (Muncong = mulut) "Kamu hati-hati ya, Sayang ... jaga diri baik-baik. Ingat pesan Ayah, kalau udah sampai di sana segera telepon Ayah." Dara mengangguk lalu mencium kedua pipi Ayah dan Mamak secara bergantian. Setelahnya ia menghapus air mata Mamak lalu tersenyum. "Dara selalu ingat pesan Ayah maupun Mamak. Dan insyAllah Dara bakal pegang teguh apa yang sudah Dara tanamkan." "Bagus, anak Ayah harus seperti itu." Mamak kembali memeluk Dara erat. "Jangan kecewain Mamak, Dar." "Yaudah, Dara harus segera check in." Dara menyalim tangan kedua orangtuanya, lalu tersenyum. "Hati-hati di jalan ya, Yah ... jangan ngebut bawa mobilnya. Mamak juga, semoga saat Dara sampe di Medan-Mamak udah nggak cerewet lagi." Sebelum mendengar Mamak kembali bersuara melengking Dara langsung berlari menuju pintu masuk untuk check in. "Heran kali aku, punya anak gadis suka kali melece," keluh Mamak yang hanya dibalas gelengan kepala serta senyum dari Ayah. Baca: (Melece = melecehkan/melawan-dalam arti mengajak bercanda/mencari masalah) "Dia sama seperti kamu, Rit." Ayah menggandeng tangan Mamak menuju parkiran. Hingga akhirnya niat jahil muncul di hati Ayah. "Nanti malam buat adek untuk Dara, yuk ...." "Ishh ... getek kalilah Abang, udah tua aku, nggak mau hamil lagi." Baca: (Getek = genit) -00- JAKARTA Meskipun hari sudah malam, tetapi Elang tetap tidak gentar untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia masih terus berkutat pada komputernya untuk menyelesaikan berkas-berkas penting sebagai bukti untuk persidangan nanti. Siang tadi ia dikejutkan oleh seorang klien dengan kasus masalah harta warisan. Sejenis masalah keluarga namun dalam fase yang rumit. Maka untuk kasus yang rumit seperti ini, harus ada bukti yang kuat untuk memenangkan persidangan nanti. Sebuah keluarga bisa hancur hanya karena uang, dan setiap manusia juga diperbodoh oleh uang-Elang mengakui hal itu, karena ia juga seperti itu. Alasan utama Elang menjadi seorang workaholic adalah uang, dan alasan keduanya ingin melampiaskan kesedihan dua tahun yang lalu. Mungkin dengan menyiksa diri sendiri, luka lama akan terobati. KRING! KRING! Elang yang meletakkan ponselnya di atas meja langsung tersadar saat deringan itu terdengar. Ia segera meraih benda persegi tersebut dan melihat siapa nama pemanggil, ternyata itu adalah Mami. "Halo? Ada apa, Mam?" tanya Elang dengan kedua tangan yang masih berkutat pada komputer sedangkan ponselnya ia selipkan diantara bahu sebelah kanan dan telinganya. "Mami bisa minta tolong?" Tumben Mami minta tolong harus permisi dulu. Batin Elang berkata. "Boleh kok Mam, tapi enggak bisa sekarang karena Elang masih kerja." "Tapi Mami minta tolongnya sekarang. Kamu mau, ya? Pliss ..., jangan buat Mami memohon padamu." Kalau sudah seperti ini tidak mungkin Elang dapat menolaknya, apalagi suara memelas Mami. Setelah kepergian Papa, Elang sadar kalau ia tidak memiliki siapapun lagi selain Mami-karena posisinya saat itu, tidak beberapa lama Luna pergi, Papa juga ikut menyusul. Kehidupan Elang saat itu benar-benar memposisikan dirinya sebagai seorang pecundang. Elang hanya berdiam diri di dalam kamar selama sebulan lebih, keluar hanya sekedar makan saja. Hingga pada akhirnya terlintas sebuah ide untuk melupakan segalanya, yaitu; dengan cara bekerja ekstra akan mengikis setiap goresan luka secara perlahan. Dan saat itu juga Mami menjadi prioritas utama Elang. Bahkan sampai sekarang. "Yaudah, Mami mau minta tolong apa?" "Tolong jemput Dara di bandara satu jam lagi." Sontak bola mata Elang membulat dengan sempurna. Ini bukan permintaan tolong, melainkan paksaan agar Elang segera bertemu dengan Dara. Secepat ini? Elang memaki dalam hatinya. Hembusan napas kasar, hanya itu yang dapat Elang lakukan saat ini. "Enggak ah Mam. Suruh supir aja, lagian bukan urusan Elang untuk menjemput dia!" tolak Elang tegas. "Yaudah, berarti kamu tega nyuruh Mami naik taksi malam-malam ke bandara." Terdengar suara Mami yang sedikit melemah-sukses membuat Elang terenyuh. "Kamu yang semangat kerjanya." "Oke, fine! Biar Elang yang jemput. Mami jangan kemana-mana, tetap di rumah." Di sebrang sana, tercetak dengan jelas senyuman yang kini melengkung ke atas. Misi Mami sukses untuk meluluhkan hati Elang agar mau menjemput Dara. Sebenarnya cukup mudah untuk membuat Elang luluh, tetapi konsekuensinya harus ada kebohongan untuk itu. Mami terpaksa berakting. "Makasih ya, Nak. Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut." "Iya, Mam. Yaudah kalau gitu Elang siap-siap dulu. Bye!!" Elang mengusap wajahnya dengan kasar. Malam terburuk yang harus ia lalui, yaitu; bertemu Dara. Dulu mereka pernah berteman meskipun hanya satu hari saja, dan Elang mengakui bahwa dulu ia menyukai Dara di usianya yang masih labil. Namun semuanya berubah saat dua orang yang ia cintai sekaligus ia sayangi harus pergi meninggalkannya. Papi dan Luna yang telah mengubah semuanya, mengubah kepribadian Elang yang easy going menjadi indifferent.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN