EPS. 2

1976 Kata
MEDAN Di sebuah rumah minimalis terdapat seorang wanita paruh baya yang sedang menonton acara televisi. Dengan fokus, wanita itu ikut terhanyut dalam film yang ditayangkan, bahkan sesekali air mata meluncur dari pelupuk matanya. Terlalu menghayati, adalah kata yang tepat untuk wanita itu. KRING!! KRING!! Wanita itu tersadar kalau telepon rumahnya berdering. Ia beranjak dari sofa menuju sumber suara. Dengan d**a membusung dan suara yang kembali normal, wanita itu mengangkat telepon tersebut. "Halo? Dengan keluarga Prawatja, ada yang bisa aku bantu?" tuturnya dengan suara yang ramah. "Halo, Jeng Rita! Ini aku, Renata, perjodohan anak kita gimana?" "Oh ... Jeng Renata! Gimana enaknya aja deh." Wanita yang diketahui namanya Rita mengambil napas sejenak. "Emangnya Elang mau dijodohkan dengan Dara?" "Belum tau sih, tapi kata Elang, coba dijalani dulu. Yaah ... sejenis PDKT gitu, Jeng." "Kalo gitu aku se-" DUAR!! Ucapan Rita terputus saat ia mendengar dentuman keras dari pintu utama. Itu Dara yang baru saja pulang dengan air mata yang mengalir. Untuk yang sekian kalinya Dara pulang dengan menangis tersedu seperti ini. "Jeng, ada apa? Jeng, halo?" "Dara pulang Jeng, nanti aku telepon la-" DUAR!! Lagi-lagi terdengar suara dentuman pintu yang membentur dinding. Sepertinya Dara sedang dilanda emosi. Siapa lagi yang berhasil membuatnya menangis kalau bukan Cakra. Cakra Sadewa, pria berumur 32 tahun yang menjadi kekasih Dara selama dua tahun. Namun, kebahagian dari hubungan mereka hanya beberapa persen dari rasa sedih. Dara terlalu sering memendam semuanya, mulai dari perlakuan Cakra hingga perkataan pria itu. Jika ditanya kenapa Dara masih betah berpacaran dengan Cakra, maka jawabannya itu semua karena cinta. Dengan pikiran yang berkecamuk oleh hal-hal yang negatif, Rita langsung mematikan panggilan telepon sepihak lalu menghampiri Dara di kamar. Ternyata pintu kamarnya dikunci. Rita yang selalu dipanggil Mamak-terus mengetuk pintu kamar Dara dengan bertubi-tubi namun tidak berhasil untuk membuat Dara membuka pintu kamarnya. Bujukan-bujukan terus dilontarkan Mamak tetapi tetap tidak berhasil membuat Dara luluh untuk membuka pintu. "Dar, kau buka dulu pintunya. Kau kenapa, Nak?" suara Mamak sedikit melemah. Ingat, ini salah satu strategi Mamak untuk membujuk Dara agar membuka pintu. "Anakku sayang, aku ini Mamakmu, buka dulu pintunya." "Udahlah Mak, jangan ganggu aku." Emosi pun memuncak hingga ke ubun-ubun. Orangtua mana yang tidak cemas kalau anaknya menangis secara tiba-tiba tanpa tahu alasannya. Namun menyelesaikan masalah dengan emosi bukan pilihan yang tepat, maka dari itu Mamak mencoba menyikapi Dara dengan kepala dingin. Kali ini Mamak sedikit pelan mengetuk pintu. "Dar, kalo kau ada masalah bicara sama Mamak." "Tapi Dara pengin sendiri, Mak." "Dara sayang, kalo alasan kau nangis gara-gara si Cakra, biar kudatangi rumahnya." Sontak Dara langsung membelalakan bola matanya. Ia tidak mau kalau Mamak ikut campur dalam hubungannya dengan Cakra. Karena dari dulu Dara tahu kalau Mamak tidak pernah suka dengan Cakra, apalagi Dara berpacaran dengan Cakra tanpa sepengetahuan Ayah. "Kalo nggak kau buka pintunya, betol-betol aku patahkan tulang tengkorak si Cakra. Mau kau? Ha?!" teriak Mamak kembali emosi. Cakra sudah sangat sering membuat Dara menangis, dan Mamak tidak punya alasan untuk meminta Dara memutusi hubungannya dengan Cakra. Dan kali ini tidak bisa dibiarkan lagi, karena Elang akan menjadi alasannya. "Issh ... apalah Mamak! Enggak usah yang aneh-aneh ya, Mak!" Dara bangkit dari kasurnya lalu membuka pintu sebelum Mamak lari ke rumah Cakra dan menunaikan apa yang diucapnya tadi. Senyuman pun mengembang sempurna. Akting Mamak berhasil membuat Dara luluh. Lantas, Mamak langsung masuk ke dalam dan duduk di tepi kasur seraya mengelus punggung Dara penuh sayang. Orangtua memiliki batin tersendirinya jika ada sesuatu yang terjadi pada anaknya, dan Mamak merasakan hal itu sekarang. Mungkin ini sudah saatnya Mamak mengambil tindakan agar Dara tidak terus menangis setiap kali bertemu dengan Cakra. "Ini ya Dar, Mamak bilang ke kau. Kalo dia benar-benar pria sejati, nggak mungkin dia bikin wanita nangis. Kalo sekali dia buat wanita nangis, berarti sama aja dia buat emaknya juga nangis. Karena kodrat perempuan itu untuk dibahagiakan laki-laki, bukan untuk disakiti." Keras kepala adalah kata yang tepat untuk Dara. Wanita ini tidak pernah mengingkari apa yang sudah menjadi tujuannya. Dara begitu ambisius dengan Cakra sehingga ia menjadi bodoh karena ambisinya. Disakiti berkali-kali tidak pernah membuat Dara jera. "Tapi Mak, Bang Cakra itu sayang kok sama Dara. Cuma Dara-nya aja yang cengeng." Untuk kesekian kalinya Emak menghela napas pasrah. "Bandal kali kaulah, pokoknya sekarang kau putusi dia." "Tapi Mak?" "TAPI APA?!" bentak Mamak dengan urat leher yang menegang. "Kau putusi dia kalo nggak kulapori sama Ayah. Mau kau?" "Terus apa alasannya, Mak?" Senyum kemenangan mengukir bibir Mamak. Tidak sia-sia ia membawa suaminya dalam hal ini. Memang, sejak dulu Dara paling takut kalau Ayah-nya marah. Terutama Cakra hanya seorang anak band yang sama sekali bukan kriteria Ayah. "Alasannya karena kau mau aku jodohi." Begitulah yang diucapkan Mamak seraya menyingkap helaian rambut Dara ke belakang telinga. Sama seperti kebanyakan orang, begitu juga dengan Dara yang tidak pernah suka dijodohkan. Mamak dari tahun ke tahun terus mencoba membujuk Dara agar menikah dengan pilihan Mamak, namun itu semua tidak terjadi karena pilihan Mamak sama sekali bukan kriteria Dara-untuk menjadi sosok imam-nya kelak. "Apaan sih, Mak. Dari dulu aku itu nggak pernah suka dijodohi, macam enggak laku kali aku, bah." Dara berdiri dari kasur dan berjalan menuju jendela, ia menatap pohon mangga yang menculang tinggi tepat di depan jendela kamarnya. "Perjodohan itu tidak menjamin sebuah keluarga bahagia, Mak." Mamak mengambil langkah seribu dengan ikut berdiri di sebelah Dara. Mamak mengelus kedua lengan Dara. "Buktinya Mamak sama Ayah. Emang semuanya itu tidak berjalan mulus, tapi ada saatnya kamu sadar kalau pilihan orangtua adalah pilihan terbaik. Karena tidak ada orangtua yang menjerumuskan anaknya ke jurang." "Mak, itukan jamannya Mamak. Di tahun 2017 mana ada lagi jodoh-jodohan kayak gitu," ungkap Dara membela diri. "Jika itu alasan Mamak buat nyuruh aku putusi Bang Cakra, mending aku nikah lari aja sama Bang Cakra." Sontak Mamak langsung membulatkan bola matanya saat Dara berkata seperti itu. Mamak sama sekali tidak berniat untuk mencampuri masalah Dara, apalagi wanita itu sudah berumur 28 tahun. Namun, untuk umur wanita seperti Dara, itu akan menjadi tantangan sulit untuk mencari jodoh. "Kau ingat Elang, Dar? Kawan kau waktu kecil, Elang yang ngajari kau naik sepeda. Ingat?" tanya Mamak. Deg ... Jantung Dara mendadak bekerja tidak normal saat nama Elang disebut. Sudah sangat lama Dara tidak bertemu dengannya. Bahkan kemungkinan besar Dara sudah lupa bagaimana bentuk wajahnya. Umur semakin bertambah, wajah semakin berbeda, bukan? "BANG ELANG, MAK?!" teriak Dara antusias. "Maksud Mamak, aku dijodohkan sama Bang Elang?" tanya Dara tidak percaya. Ia merasa kalau semesta ikut serta dalam takdirnya. Elang, cinta pertama Dara di usia yang masih sangat labil. Elang, si lelaki kedua yang mencium pipi Dara setelah Ayahnya. "Iya, mau nggak? Biar Mamak konfirmasi sama Tante Renata." "Melupakan Bang Cakra enggak semudah itu, Mak. Aku masih cinta sama Bang Cakra." Mamak kembali menghela napas, lalu mengamit kedua telapak tangan Dara. Mamak menatap tajam pupil mata Dara. "Kau bilangnya 'masih' cinta, dan itu menunjukan kalau cinta kau itu enggak seratus persen." Mamak menekan kata 'masih' pada ucapannya. "Cakra sama Elang memiliki perbandingan yang besar, bagai bumi dan langit. Elang, dia pengacara sukses, mapan, bahkan lebih dari kata sempurna. Sedangkan Cakra, dia cuma bocah tengil, yang kerjaannya nongkrong dan penghasilannya cuma manggung dari kibot satu ke kibot lainnya." Baca: (Kibot = panggung nyanyi tempat orang nikahan) "Mak, cinta itu enggak mandang siapa dia, seberapa kaya dia, dan lainnya. Jika benar Bang Elang itu orang sukses, tapi apa mungkin rumah tangga kami akan bahagia karena kekayaannya?" "Kau rupanya mau makan cinta? Jaman sekarang itu, apa-apa pakai duit. Dan kalau Cakra bisa buat kau bahagia, kenapa dia selalu buat kau nangis setiap kali kelen ketemu?" Mamak keluar dari kamar Dara untuk mengakhiri pembicaraan. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu. Mamak berbalik, menatap Dara dengan sorot tajam. "Kau putusi si Cakra dan cobalah untuk menerima kenyataan kalau jodoh kau itu Elang. Kalo kau masih menentang, semua tentang Cakra akan Mamak lapori sama Ayah!" Baca: (Kelen = kalian) Dara mengacak rambutnya frustrasi. Setelah dipikir-pikir, untuk apa ia mempertahankan Cakra sedangkan cowok itu tidak pernah memprioritaskan Dara. Seketika bayangan beberapa tahun lalu menghampiri Dara. Dara baru saja keluar dari sebuah toko buku untuk membeli beberapa novel karya penulis favoritnya. Baru beberapa langkah, cacing di perutnya sudah demo meminta asupan gizi. Mengingat ia belum makan apapun sejak pagi, dan kini waktu sudah menunjukan pukul dua siang. Dara berniat untuk makan siang di salah satu kafe yang terletak di lantai dua. Ia duduk di meja single dekat pembatas kafe. Saat sedang asik menyantap makanannya, Dara seperti mendengar suara lelaki yang tidak asing lagi di telinganya. Perasaan aneh berkecamuk, ternyata dugaan Dara benar kalau suara itu adalah suara milik Cakra. Pria itu terlihat sedang lunch bareng dengan seorang wanita-yang diketahui adalah salah satu penggemar setia Cakra. Tidak tahan lagi dengan segala sikap egois Cakra, Dara mengambil keputusan untuk menguji kejujuran Cakra. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu mencari kontak Cakra. Setelahnya menekan tombol panggil. "Halo, kamu dimana Bang?" tanya Dara dengan suara yang pelan agar Cakra tidak menyadari kehadirannya. "Halo, aku lagi sama Emak, Yang. Ini, nemenin Emak belanja." Air mata tidak dapat lagi dibendung. Cukup, Dara tidak tahan lagi dengan segala kebohongan Cakra, namun apadaya? Ia terlanjur cinta sama pria yang selalu menyakiti perasaannya itu. "Oh ... have fun Bang." TUT! TUT! Setelah panggilan usai, Dara segera beranjak dari kafe tanpa sepengetahuan Cakra. -00- Suara dentingan sendok dan piring terdengar di sebuah rumah keluarga Prawatja. Mereka sedang menunaikan makan malam bersama. Sesuatu yang harmonis seperti inilah yang Dara harapkan dari Cakra, namun sepertinya itu semua hanya harapan yang tidak terbalaskan. Sejak perdebatan siang tadi, Dara memilih mengikuti apa perkataan Mamak. Putus dari Cakra adalah pilihan yang tepat meskipun ia harus merelakan perasaannya. Karena merelakan dalam sebuah hubungan adalah taruhan yang sulit. Selagi mengunyah nasi, Dara menghayal bagaimana bentuk wajah Elang yang sekarang. Apakah pria itu masih terlihat sama seperti dulu atau berubah lebih tampan. Satu hal yang identik dari Elang, iris mata pria itu. Bewarna hazel dengan sorot yang tajam. Hal-hal yang lain juga ikut menghampiri pikiran Dara. Tingkah laku pria itu, apakah masih semanis dulu atau malah sudah berubah. Dara tersenyum sendiri seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan Elang. Ternyata memikirkan tentang Elang cukup mengobati perasaan sakit di hati Dara. Apa dengan semudah itu Dara melepaskan Cakra hanya demi seseorang yang sudah lama tidak bertemu dengannya? "Eh, anak gadis ... malah senyam-senyum pula kau," pekik Mamak hingga membuat Dara tersentak dan menundukkan kepalanya karena malu. "Nggak baik, Dar, makan sambil melamun," nasihat Ayah yang hanya dibalas anggukkan kepala. "Yaudah, siap kau makan, cuci piringnya terus prepare. Soalnya malam ini juga kau pergi ke Jakarta, ke rumah Maminya Elang," ungkap Mamak yang berhasil membuat Dara tersedak. Ini terlalu mendadak untuk sekadar PDKT. Apalagi, harus Dara yang menghampirinya. Bukankah seorang wanita tidak boleh tinggal satu atap dengan pria yang bukan muhrimnya? "Malam ini juga?" Mamak mengangguk. "Kenapa harus mendadak si, Mak? Lagian nanti di sana aku tinggal di mana? Kan, agama juga melarang untuk tinggal satu atap bersama pria yang belum muhrimnya, Mak." Senyuman jahil kembali mengukir bibir Mamak. "Otak kau m***m aja! Si Elang dia udah punya rumah sendiri, jadi nanti kelen enggak satu rumah. Kau tinggal sama Tante Renata, jangan pula malas kau di sana, malu aku nanti." "Yaudah, kalo gitu aku nggak usah ke sanalah." "Yah, liat itu anak gadismu, udah melawan aja kerjanya, heran kali aku," aduh Mamak kepada Ayah yang baru saja menyelesaikan makan malamnya. Ayah mengambil serbet, lalu mengelap mulut hingga bersih. "Nak, Elang itu anak yang baik, kok. Ayahmu ini Polisi, jadi kalau dia macam-macam sama Dara, bilang aja sama Ayah," tutur Ayah dengan lembut. Tidak bisa menolak permintaan Ayah kalau sudah begini kejadiannya. Dara begitu sayang dengan Ayahnya, jadi setiap sang Ayah meminta-Dara tidak pernah bisa menolak. Karena restu orangtua adalah restu Tuhan juga, bukan? "Iya, Yah ... tapi nanti Ayah yang ngantar Dara ke Bandara Kualanamu, ya?" Ayah mengangguk lalu mengecup dahi anak perempuannya sebelum ia permisi ke kamar mandi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN