MEDAN
Acara lamaran hanya diadakan biasa-biasa saja karena yang diundang hanya beberapa anggota keluarga, sahabat, dan para tetangga. Ruang tamu di rumah kediaman keluarga Prawatja disulap menjadi tempat yang berbeda. Sebab, ruang tamu—yang akan menjadi saksi bisu acara lamaran berlangsung.
"Dara ada dimana, Tan?"
Mamak yang sedang sibuk mempersiapkan segalanya sampai tidak memandang siapa yang bertanya kepadanya. Mamak hanya menjawab seraya memperbaiki hiasan pada meja—untuk tempat hantaran Elang.
"Ada di kamarnya, masuk aja kau."
Wanita itu tersenyum. Bahkan ia sudah mengerti bagaimana sikap Mamak, jadi wanita itu sudah memakluminya saat mendengar perkataan kasar keluar dari mulut Mamak. Logat Medan seperti sudah menjadi darah daging, meskipun Mamak lahir di Malang.
Dengan langkah yang gontai dan anggun, ia berjalan menuju lantai dua—tempat di mana kamar Dara terletak. Seketika bibir wanita itu mengulum senyum saat melihat pernak-pernik yang tertempel di depan pintu kamar. Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi rumah Dara, namun tidak ada perubahan apapun pada pintu kamar ini.
"Ck. Dara, Dara ... nggak berubah-berubah kau. Masih aja kayak anak-anak." Setelahnya wanita itu membuka pintu.
Wanita berparas cantik serta memiliki tubuh yang langsing menghampiri Dara yang sedang berdandan di meja rias. Wanita dengan kebaya hijau tosca itu memeluk badan Dara dari belakang.
"Delia!" teriak Dara antusias saat mengetahui kehadiran Delia di dalam kamarnya.
Yap. Nama wanita itu, Delia Hartata Siregar. Sahabat karib Dara sejak SMP, namun mereka harus berpisah setelah tamat kuliah. Sebab, Delia memilih mengadu nasib di negeri orang. Ia bekerja sebagai Personal Asisstant di perusahaan ternama di Amerika.
"Siap jadi seorang istri?" tanya Delia dengan senyuman yang mengembang.
"Apaan sih, kau pun udah jadi binik orangnya. Kek mana rasanya? Enak? Besar anu lakik kau?" tanya Dara penasaran dan melupakan aksi merias wajahnya.
Delia terdiam. Matanya juga berlinang, jika kedip sedetik saja bisa dipastikan air matanya meluncur dengan sempurna. "Eh, kau cepatan dandan. Tadi Tante Renata nyuruh aku buat manggil kau."
Dara mengernyitkan dahi. Ia tahu ada yang disembunyikan Delia darinya, tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya hal itu. "Bentar, dikit lagi selesai aku."
-00-
Sebuah mobil Alphard putih berhenti di perkarangan rumah keluarga Prawatja. Semua orang yang sedang menanti kehadiran Elang kini dapat bernapas lega. Sebab, sudah sekitar satu jam pihak keluarga Dara menunggu. Bahkan Dara sampai takut kalau Elang tidak jadi menikahinya.
Pria dengan kemeja putih yang dibalut dengan jas abu rokok keluar dari pintu belakang setelah Mang Jono membukakan pintu. Sepatu mengkilapnya yang pertama kali Dara lihat. Hingga akhirnya wajah Elang muncul setelah ia menutup pintu mobil.
Delia yang melihat calon suami Dara dari jendela kamar langsung gregetan sendiri. Ia mencubit pinggul Dara dengan gemas. "Ganteng kali lakik kau, Dar," pekik Delia heboh.
"Jaga image Del, jangan kaya binik yang nggak dapat jatah."
"Jadi itu Elang yang pernah kau ceritakan? Elang yang jadi cinta masa kecil kau? Elang yang mukanya kau gambar di tembok sebelah sana? Jadi ini Elang?" tanya Delia bertubi-tubi dengan nada suara yang meningkat satu oktaf.
"Jangan bising kali kau, nanti dengar dia. Dan untuk semua pertanyaan kau itu, jawabannya iya."
Dara dan Delia memandang keramaian yang ada di luar melalui jendela kamar, Dara dapat melihat kalau Ayah dan Mamak langsung bersalaman dengan pihak keluarga Elang dan juga dengan Elang.
"Eh, cowok yang sana siapa?" tanya Delia seraya menunjuk seorang pria berkemeja merah marun dengan dua kancing yang terbuka.
Dara terdiam sejenak lalu menggeleng. Ia benar-benar tidak mengenal siapa pria berkemeja merah marun itu. Bahkan pria itu terlihat lebih tampan jika dibandingkan dengan Elang.
"Enggak kenal aku. Mungkin kawannya Bang Elang, atau jangan-jangan adiknya?"
"Mana aku tau. Kau yang mau nikah sama dia, ya ... pasti kaulah yang lebih tau."
-00-
"Saya datang ke rumah Om dan Tante, hendak melamar anak gadis Kalian untuk menjadikan ia sebagai istri saya," ujar Elang saat semua sanak saudara sudah berkumpul.
Dara yang duduk tepat di sebelah Mamak langsung tersenyum getir. Ia tidak menyangka kalau Elang bakal mengutarakan tujuannya kemari. Meskipun ini hanya kebohongan, setidaknya cukup menghibur Dara.
Seperti kata pepatah, "sambil menyelam minum air" begitulah yang Dara rasakan. Meskipun sakit tetapi tetap harus tegar, melakukan keduanya dengan satu ekspresi, yaitu; bahagia.
"Saya tidak akan melarang anak saya untuk menikah dengan kamu, tetapi coba kamu tanya kepada anak saya, apakah ia sanggup dan mau menerima lamaranmu? Agar semuanya lebih jelas," balas Ayah dengan nada tegas seperti biasanya.
Aku gak sanggup, Yah!! Tapi aku sayang, kek mana tuh?! Batin Dara berkata saat Ayah mengatakan itu.
"Dara menerima lamaran Bang Elang, Yah ...."
Semua orang yang berada di ruang tamu langsung tersenyum bahagia mendengarnya. Terutama Delia, ia langsung memeluk Dara dengan erat.
"Saya mohon restu dari Om dan Tante, agar pernikahan kami nanti membawa berkah. Karena restu orangtua juga restu Allah."
Ayah menepuk punggung Elang, lalu tersenyum begitu juga dengan Mamak. "Saya merestui pernikahan kalian. Tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan."
Elang yang menunduk lantas sedikit mendongakkan kepalanya. Ia menatap pupil mata Ayah dengan mantap. "Syarat apa itu, Om?"
Satu buliran bening meluncur dari sudut mata Ayah. Sebelum semuanya melihat, Ayah langsung mengusapnya. "Dara sudah 28 tahun bersama saya. Sekalipun ia tidak pernah menangis karena perlakuan saya. Ia putri saya satu-satunya, jadi saya berharap kamu paham apa maksud saya." Tidak bisa dibendung lagi, air mata Ayah langsung meluncur—hingga membuat Dara dapat merasakan betapa sedihnya Ayah saat ini. "Jika kamu buat anak gadisku menangis, maka konsekuensinya kamu akan berhadapan dengan saya."
Perkataan Ayah berhasil membuat Dara tersadar betapa pentingnya untuk menjaga sebuah keluarga. Ia tahu kalau selama ini Ayah sudah berjuang agar mereka memiliki keluarga yang selalu harmonis, dan Dara berharap Elang akan melakukan hal yang sama dengan Ayah. Meski pada kenyataannya Elang tidak mungkin melakukan itu.
Porsi seorang pria adalah menjadi seorang pemimpin, dan Ayah sudah menerapkan kata-katanya itu. Namun tidak tahu dengan Elang, apakah pria itu akan melakukan hal yang sama atau tidak.
"Saya berjanji, Om. Karena kebahagiaan Dara juga kebahagiaan saya," ungkap Elang dengan jelas dan tegas tanpa ada raut kebohongan pada wajahnya.
Semoga apa yang kau bilang, itu jadi doa untukmu, Bang. Lagi-lagi batin Dara kembali berkicau.
Sontak Ayah langsung memeluk Elang, dan mengusap punggung pria itu. Ayah yakin kalau Elang akan menjaga putri kecilnya, tetapi Elang tidak yakin akan membuat Dara bahagia seperti apa yang ia katakan tadi. Hanya Tuhan yang tahu untuk rumah tangga mereka kedepannya.
"Jaga anak saya, tolong ...," bisik Ayah dengan nada memohon.
Untuk menjadi jawabannya, Elang menganggukan kepala. Setelah itu Ayah melepaskan pelukannya, lalu tersenyum. "Menyakiti Dara sama saja kamu menyakiti saya."
-00-
Setelah kepergian Elang dan keluarganya, semua keluarga membantu Mamak untuk membersihkan rumah, sedangkan Dara memilih untuk beristirahat bersama Delia di dalam kamar.
Mamak kasihan melihat Delia yang baru saja sampai di Indonesia siang tadi, maka dari itu Mamak mengizinkan Delia untuk menginap di rumah malam ini.
Sedangkan Elang dan keluarganya akan menginap di sebuah hotel berbintang lima yang berada di pusat kota, Kota Medan. Hotel itu sudah menjadi pilihan Raja sebelum mereka berangkat ke Medan.
"Kau beruntung ya, Dar ... punya calon suami yang tulus mencintai kau," ucap Delia seraya membuka kebaya yang ia kenakan.
Aktivitas membersihkan make up terhenti saat Delia mengucapkan itu. Dara menatap pantulan wajahnya pada cermin, lalu ia tersenyum getir. Itu semua bohong, Del. Bang Elang nggak cinta sama aku.
"WOI!! Malah begong kau."
Sontak Dara kembali melanjutkan aktivitasnya. Suara Delia yang menggelegar berhasil membuatnya tersadar dari bayang-bayang perkataan Elang bersama Ayah tadi. "Syukuri apa yang kau dapatkan saat ini. Karena belum tentu semua orang seberuntung kau, Del." Meski aku salah satu orang yang kurang beruntung.
"Eh, tadi aku paspasan sama kawannya Bang Elang. Yang aku bilang ganteng itu, lho ... tau kau, 'kan?"
Dara berbalik saat ia mendengar ada nada bahagia dari perkataan Delia. "Ha? Kok bisa?"
"Jadi, ceritanya itu aku nggak sengaja megang tangan dia."
"Kenapa kau pegang tangan dia? Mau nyebrang?" canda Dara yang berbuahkan satu jitakan dari Delia. "Sakit, paok!"
"Makanya serius!" Delia menatap Dara tajam. "Pas aku mau ambil es lengkong di meja makan, rupanya dia juga. Dan kebetulan es-nya tinggal satu." Baca: (Lengkong = cincau)
"Is, taik! Udah kek sinetron aja kelen! Na-jis!" Dara bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela. Beberapa menit kemudian Delia masuk ke kamar mandi.
Di luar sana, ada banyak sekali bintang yang berkilau. Sejak kepergian Elang dari komplek, Dara selalu menghabiskan waktunya untuk melihat bintang kalau sedang rindu dengan Elang. Atau ia akan berbicara dengan lukisan wajah Elang pada dinding kamarnya hingga tertidur. Betapa berarti Elang untuknya, bahkan melepaskan Cakra tidak begitu menyakitkan seperti apa yang Dara bayangkan sebelumnya, namun kehilangan Elang mungkin akan membunuh separuh jiwanya.
Cukup sekali ia menderita selama bertahun-tahun atas kepergian Elang dari komplek rumah. Meski hanya sekali bertemu dan bermain bareng dengan pria itu, tetapi sudah cukup memberi kesan yang sulit untuk dilupakan.
KRING! KRING!
"HAPE KAU BUNYI, TUH!!" teriak Delia yang sedang berada di kamar mandi. "WOI! ANGKAT KENAPA, NGGAK FOKUS AKU BERAKNYA!"
Dara tersenyum. Bertahun-tahun di Amerika sana, ternyata tidak membuat Delia berubah. Dara bahagia karena masih ada Delia di hidupnya.
Ternyata ada nama Cakra pada layar ponselnya. Yap, di tengah malam seperti ini Cakra menelepon Dara. Sebelum terdengar kembali nada panggil pada teleponnya, Dara langsung menekan tombol tolak.
Tidak berapa lama, ternyata Cakra kembali meneleponnya dan Dara kembali menolak panggilan telepon dari Cakra. Namun hal itu tidak membuat Cakra menyerah, hingga akhirnya Dara memilih untuk mengangkat dan menjelaskan segalanya agar Cakra berhenti mengganggunya.
"Halo, kenapa Bang?"
"Kau mau nikah, Dek? Se-tega itu kau putusi Abang demi Elang?" Itu pertanyaan bodoh yang pernah Dara dengar.
"Abang udah punya jawabannya untuk pertanyaan itu!" jawab Dara dengan nada membentak. "Udahlah, Bang! Jangan ganggu aku lagi. Aku itu udah mau nikah, mending Abang cari cewek lain aja."
"Untuk dua tahun yang udah kita lalui, Abang nggak mungkin secepat itu melepaskanmu, Dek. Ayolah, kau nikah sama Abang aja."
Bola mata Dara mendelik meskipun Cakra tidak mungkin melihatnya. "Untuk alasan dua tahun aku bertahan, itu karena aku cinta sama Abang. Tapi apa? Sudah lebih dari lima kali dalam dua tahun kita berpacaran, Abang selingkuh di belakang aku! Perasaan wanita mana yang se-tegar aku? Nggak ada! Jadi sekarang, ini adalah waktu Abang buat aku bahagia! Dengan cara apa? Dengan cara Abang nggak perlu ganggu aku lagi, paham?"
"Okelah kalo itu buat kau bahagia, Dek. Tapi someday kalo aku ngajak ketemuan, kau masih mau, 'kan?"
"Mungkin." Setelahnya Dara mematikan sambungan telepon sepihak.
Air matanya tidak bisa berkompromi. Rasa sakit di dalam hati, kini tidak bisa untuk ia pendam selamanya. Untuk ini, Dara merasa sedikit lega karena bisa mengungkapkan rasa sakitnya selama ini kepada Cakra.
TUNG!
Awalnya Dara pikir yang mengirimnya sms adalah Cakra, ternyata itu adalah Elang. Sontak dengan raut wajah campur aduk, Dara memberanikan diri untuk membaca pesan dari pria itu—meskipun itu hanya sebuah kalimat kasar.
From: Bang Elang Lope Lope
Jaga kesehatanmu untuk pernikahan nanti! Saya tidak mau Mami akan kecewa karenamu!
Seulas senyum langsung mengembang. Ternyata Elang perhatian kepadanya meski dengan perkataan kasar dan ketus.