EPS. 9

1866 Kata
Hari ini adalah hari ketiga Dara berada pada masa pingit sebelum menuju jenjang pernikahan. Selama tiga hari itu ia menghabiskan waktunya untuk mempercantik diri agar terlihat sempurna saat proses akad nikah. Masa pingit itu sendiri adalah masa di mana calon pengantin wanita tidak boleh bertemu dengan calon pengantin pria sebelum akad nikah berlangsung. Tidak hanya itu saja, karena masa pingit juga mengharuskan calon pengantin wanita untuk tidak keluar dari rumah. Selama ini pula, Delia menginap di rumah Dara untuk beberapa hari sebelum acara akad nikah dimulai. Jadi segala urusan kecantikan, Delia yang mengaturnya, sebab ia sudah sangat ahli dalam bidang itu. Meski Dara juga pandai berdandan namun masih tertinggal jauh oleh bakat Delia. "Kau itu harus kelihatan cantik, Dar. Pasti Elang bakal tambah sayang sama kau," ucap Delia seraya memejamkan mata saat tukang kusuk mengoleskan lulur mandi ke punggung belakangnya. Tidak hanya Dara yang harus merawat tubuhnya selama masa pingit, namun Delia juga. Bahkan selama tiga hari ini mereka rutin melakukan treatment kecantikan melalui video tutorial di Youtube. Hari pertama; mereka melakukan yoga bersama di pagi hari, lalu di siang harinya mereka memanggil pegawai salon ke rumah untuk perawatan rambut. Hari kedua; juga melakukan yoga di pagi hari, dan dilanjutkan dengan perawatan wajah. Dan masuk ke hari ketiga; setelah selesai yoga, Mamak memanggil tukang kusuk langganannya untuk melulur badan Dara dan juga Delia. Sensasi aroma lulur lavender menyeruak ke pernapasan Dara—membuat ia merasa tenang dan damai. "Cinta enggak memandang seberapa cantiknya kau." Delia berdecak. "Nggak perlu kau bilang, juga taunya aku. Cuma ... kalo kau selalu kelihatan cantik, pasti nanti Elang bakal selalu pulang cepat. Biar bisa kelonan sama biniknya." Baca: (Kelonan = tidur yang saling berdekapan) Sontak Dara langsung tertawa. Itu perumpamaan yang paling aneh dan tidak masuk akal. "a***y! Otak kau taunya kelonan aja!" Kali ini Delia yang tertawa terpingkal. Raut wajah Dara yang memerah terlihat menggemaskan. "Kelonan itu hangat-hangat membawa dosa, iya kan, Bu?" tanya Delia pada seorang wanita paruh baya yang melulur badannya. Si Ibu yang diketahui bernama Kumala tersenyum malu. "Ya ... kalo kelonan sama suami sendiri enak kok, nggak bawa dosa, Mbak Delia. Karena udah sah, jadi aman-aman aja." "Nanti kalau malam pertama, sebelum melakukan itu, Mbak Dara harus siap dan yakin," sambung Ibu yang satunya lagi. "Biar nanti suaminya merasa puas dari servis yang Mbak berikan." "Yailah ... kenapa jadi bahas malam pertama?? Nikah aja belum, masa udah bahas yang begituan." Dara memasang wajah kesal meski harus bertentangan dengan pikiran dan detak jantung. Semuanya tidak se-irama saat terbayang Elang sedang shirtless. Kemudian Dara tersenyum dalam diam. Ia tidak menyangka akan melepas masa lajangnya di umur 28 tahun dengan cara dijodohkan. Mungkin perjodohan ini adalah keberuntungan untuk Dara, sebab takdir kembali mempersatukan ia dengan cinta pertamanya. Namun melihat sikap Elang yang berubah—membuat Dara sedikit bergeming. Cinta akan datang dengan sendirinya disaat kamu menyadari ada dia yang selalu di sisimu. Sepenggal kalimat itu yang kembali meningkatkan kepercayaan Dara kalau Elang dapat berubah seiring berjalannya waktu. "Dar ..., woi! Dara!" pekik Delia kesal. "Dara kampret! Woi, ketombe tikus!" teriak Delia sangat kencang hingga akhirnya Dara menoleh. "Apa? Bising bego!" "Kau kenapa? Ngapain kau senyam-senyum kayak gitu?" Melihat Dara yang kembali tersenyum seperti tadi semakin memperbanyak kerutan di dahi Delia. Selama ia berteman dengan Dara, baru kali ini ia melihat Dara tersenyum se-bahagia itu. Dan Delia dapat menyimpulkan kalau itu karena Elang. -00- Elang dan keluarganya menginap di hotel JW Marriott yang berada tidak jauh dari pusat kota Medan. Selama tiga hari ini, Elang terus dikejar oleh beberapa pekerjaan dari kliennya. Tidak menyangka, dalam waktu beberapa bulan ini target PLawyer mencapai grafik yang sudah mereka tentukan. Kasus semakin meningkat di Negara Indonesia, dan kasus perceraian adalah kasus terbesar, lalu disusul oleh beberapa kasus pembunuhan dan pemerkosaan. Sungguh miris negara ini, namun untung saja masih memiliki petugas keamanan yang tegas. "Halo, Marissa. Saya sedang sibuk banget nih, dan beberapa hari lagi'kan saya menikah, jadi meeting dengan beberapa lembaga kamu cancel aja." Elang mengusap hidungnya yang gatal. "Anak kantor udah kamu kabari untuk datang ke pernikahan saya?" tanya Elang melalui sambungan telepon. Di Jakarta sana, Marissa langsung mengecek buku jurnalnya, apakah perintah Elang sudah ia lakukan apa belum. "Iya, Pak, sudah. Semua yang Bapak perintahkan sudah saya laksanakan dua hari yang lalu." "Ada perkembangan apalagi dengan PLawyer?" "Hm ...." Marissa kembali mengingat apa yang sudah diraih PLawyer selama Elang tidak berada di Jakarta. "Kita memenangkan kasus besar, Pak. Kasus yang ditangani oleh Pak Akssana." "Yaudah, kamu lanjut bekerja." TUT! Setelah Elang memutuskan panggilan teleponnya dengan Marissa, ia segera beranjak menuju balkon untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti. Meski berada di fase 'cuti' tetapi Elang tidak akan bisa menghabiskan sisa waktunya untuk hal yang tidak berguna. Ia tetap bekerja meskipun tidak berada di kantor. Tidak datang ke kantor sebenarnya tidak masalah, sebab kantor itu milik Papa yang diwariskan ke dirinya sebagai anak tunggal. Keadaan kamar hotelnya begitu senyap. Raja sudah pergi entah kemana sejak pagi tadi, sehingga meninggalkan Elang sendirian di dalam kamar bersama laptop kesayangannya. "Dan lagi-lagi uang menghancurkan sebuah keluarga," decak Elang kesal membaca profil data kliennya. "Tahun semakin tambah, tapi otak masih aja nge-stuck." Setelah selesai membaca segalanya yang baru saja dikirim oleh Marissa melalui email, kini Elang menutup laptopnya dan beranjak dari balkon menuju kamar. Ia mengambil beberapa bungkus Chocolatos Dark di atas nakas, lalu memakannya seraya menonton kartun di serial Disney. Jika harus ada dua pilihan siaran TV—antara berita dan kartun, maka Elang lebih memilih kartun. Alasannya sederhana, karena film kartun tidak perlu bersandiwara untuk menarik peminatnya. Berbeda dengan berita, terlampau banyak kasus pejabat yang bersandiwara, bahkan kaum pemerintah sekalipun. KRING! KRING! Aksi menontonnya terpaksa terhenti karena sebuah nada dering teleponnya berdering. Elang mengecilkan volume TV lalu mengangkat panggilan telepon dari Raja. "Paan, Ja?" "Nanti malam lo nggak kemana-mana, 'kan?" Elang memejamkan matanya sejenak, mengingat jadwalnya malam nanti. "Nggak ada. Kenapa emangnya?" "Lo ingat janji kita setelah nonton bokep terakhir waktu kelas tiga SMA? Di mana waktu itu kita hampir ketauan sama Mami?" Dengan mantap Elang mengangguk seraya tersenyum geli mengingat tingkah konyol mereka dulu. "Gue ingatnya pas nonton bokep doang, janjinya lupa." Raja di ujung sana langsung menepuk jidat. Ia kira Elang mengingatnya, ternyata tidak. "Kan, dulu kita berjanji, siapa yang nikah duluan harus ada pesta bujang. Nah, sekarang gue mau tagih janji-janji itu." "Gue nggak tau kawasan kelab malam di Medan. Kalo kelab di hotel aja, gimana? Lagian lo ada dimana, sih?" "Terserah di mana aja, pokoknya nanti malam gue balik ke hotel." Setelahnya Raja melihat papan-papan jalan untuk mengetahui di mana keberadaannya sekarang. "Ini, gue baru sampe di kafe kawasan jalan Ringroad, ada klien gue dari Jepang—mau kerja sama." Tiga menit setelah panggilan telepon mereka berakhir, Mami masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi cokelat panas kesukaan putranya. Sebelum Mami meletakkan nampan di atas nakas, Elang lebih dulu menyambar minumannya. Sebelum ia minum, biasanya Elang menempelkan hidungnya pada bibir gelas. Menghirup aroma cokelat panas selalu berhasil meningkatkan mood-nya. Setelah ia menenggak minumannya hingga berisisa setengah, Mami duduk di tepi ranjang. Memandang putranya yang akan segera menikah. Memori-memori masa lampau seketika menghampiri pikiran Mami. Masa-masa di mana Elang Kecil yang menggemaskan. Mengingat masa-masa itu—membuat Mami selalu tersenyum. "Kenapa, Mam?" "Nggak pa-pa, cuma kebayang masa kecil kamu aja." Mami mengelus punggung tangan Elang. "Pernikahan itu nggak seperti sebuah kertas yang basah karena air. Tugas kamu bukan membuang kepingan hancur dari kertas itu, melainkan mengolah ulang kertas yang sudah hancur. Paham?" Elang mengangguk lalu tersenyum. Ia menutupi kebohongannya dengan sangat apik. Tentang perasaan bencinya terhadap Dara cukup dirinya saja yang memendam, Mami jangan sampai tahu. "Iya, Mi ..., Elang udah dewasa untuk menyikapi hal itu." Keduanya terdiam. Memandang satu sama lain yang berakhir dengan pelukan erat dari Mami. "Nanti malam Elang sama Raja mau pergi, Mi. Boleh, 'kan?" "Boleh." -00- Suara dentuman musik yang diputar oleh DJ berhasil menulikan telinga Elang. Sudah cukup lama ia tidak pernah mengunjungi tempat haram ini. Tentu kecanggungan terlihat dengan jelas dari gelagat Elang saat beradaptasi. Sejak kepergian Luna, ia tidak lagi menginjakkan kakinya di kelab malam. Selain itu, juga karena tidak ada yang mengajaknya. Meskipun ada, pasti Elang akan berpikir beberapa kali sebelum menyetujuinya. Terlampau banyak janji yang ia katakan kepada Luna, jadi sebagai laki-laki Elang harus menepati janjinya. "Lemesin aja, Bro! Rileks." Raja menepuk pundak Elang. "Gue nggak terbiasa, Bro. Udah lama nggak ke tempat kaya gini," bisik Elang agar Raja dapat mendengar suaranya yang sedang serak. Raja masih asik dengan dunianya. Ia terus menggerakkan tubuhnya seirama dengan musik. "Ngerokok mungkin buat lo rileks." Raja memberi bungkus rokok miliknya kepada Elang. "Maybe." Tidak ada tanggapan dari Raja, bahkan pria itu kembali menenggak minuman kerasnya untuk yang kesekian kali. Mungkin sudah lebih dari lima gelas wine yang ia minum. "Lo bentar lagi bakal nikah, Bro! Meskipun lo nggak cinta sama istri lo, tapi waktu buat senang-senang kaya gini jarang lo dapat setelah nikah." Raja kembali menenggak minumannya. "Enjoy aja, jangan tegang kali!" Raja menyentil kemaluan Elang, "tegangnya nanti aja kalo ada cewek seksi," sambungnya lalu tertawa bebas. "Anjing! Sakit bego!" Elang mengelus k*********a yang terasa nyeri. Setelah ia melihat Raja pergi menuju lantai dansa, Elang hanya bisa menghela napas. "Minum apa, Mas?" tanya seorang Bartender dengan senyuman yang ramah. "Cokelat panas." "Maaf, Mas, di sini nggak nyedian cokelat panas." Elang mematikan ujung rokoknya pada sebuah asbak. "Air mineral aja kalau gitu." Nggak modal kali. Batin sang Bartender yang diketahui bernama Benjo. Tidak berapa lama, datang seorang wanita bergaun mini menghampiri posisi Elang yang sedang duduk-duduk di meja bar seraya menikmati air mineralnya. Wanita dengan gaun merah marun itu duduk di sebelah Elang. Bulu matanya yang lentik dan hitam, memandang Elang penuh arti. Namun sayang, Elang tidak cukup peka terhadap orang-orang yang menyukainya. Baik secara fisik, maupun biologis. "Sendiri aja, Bang?" tanya wanita itu. "Ohiya, nama aku Triana, kamu?" Elang meletakkan gelas yang ia pegang ke atas meja. Tanpa menggubris pertanyaan yang dilontarkan oleh Triana, Elang memutuskan untuk kembali menghidupkan rokoknya. Tidak mau menyerah, Triana mencoba segala cara. "Boleh minta rokoknya?" Elang melirik ke arah samping. Ia tatap Triana dengan tajam. Dengan lirikan mana yang menilai, Elang dapat menyimpulkan kalau Triana adalah p*****r kelas kakap. Terlihat dari gayanya berdandan. Terutama gaun yang dikenakan wanita itu adalah gaun yang sering digunakan oleh kalangan artis Indonesia. "Sorry, saya tidak tertarik sama p*****r. Silakan pergi dan cari mangsa lain," sindir Elang dengan sudut bibir yang sedikit tertarik ke atas. Triana membalas senyuman Elang. Senyuman yang menyiratkan merendahkan. Ia merasa tertantang dengan sikap Elang yang dingin seperti itu. "Tapi sayangnya aku bukan pelacur." Triana semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Elang—dengan tangan kiri yang meraba d**a bidang milik Elang. TAR! Satu tamparan mengenai pipi wanita tersebut. Kelab malam pun menjadi ricuh, terutama para kaum pria yang merasa jijik melihat tingkah laku Elang. Hampir saja ia digebuki oleh semua orang yang berada di kelab, namun langkah mereka terhenti saat Elang bangkit dari kursinya. "Kamu pikir saya bodoh?" Elang tersenyum, namun Raja mengernyit tidak mengerti di ujung sana. "Kamu, dan kedua teman priamu ingin mencuri dompet saya, bukan?" Sontak wanita itu dan kedua temannya langsung berlari meninggalkan kelab ini sebelum mereka berakhir di penjara. Semua orang yang awalnya membenci Elang, kini mereka menelan kembali perkataan yang sudah mereka lontarkan kepada Elang. Don't judge by cover, right?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN