Hari yang ditunggu-tunggu Dara akhirnya datang. Hari spesial yang Ia yakini hanya terjadi sekali dalam hidupnya. Dara tahu diri, bahwasanya setelah hari ini terlewatkan—tanggung jawabnya akan semakin bertambah, tidak hanya itu, karena Dara harus bisa bertahan hidup bersama si Patung Es untuk setiap harinya.
Mungkin bagi wanita lain, hidup satu atap bersama pria seketus Elang adalah pilihan yang salah dan harus disesali, namun bagi Dara itu sebuah tantangan. Meski sikap mereka berbanding balik, Dara yakin kalau kekuatan cinta lebih kuat untuk mempertahankan sebuah rumah tangga.
Hari pernikahan mereka akan dilaksanakan sepuluh menit lagi, karena sang Penghulu masih berada di perjalanan dan Dara masih di dandan oleh Delia. Sebagai sahabat yang baik, Delia tidak mungkin meninggalkan Dara saat-saat momen seperti ini, selain itu Delia juga ingin ikut andil dalam pernikahan Dara, yakni; sebagai perias wajah sahabatnya.
Satu sentuhan lagi pada bibir Dara, semuanya akan terlihat sempurna. Seorang wanita cantik dengan kebaya bewarna marun. Penampilan Dara saat ini seperti princess Disney versi Indonesia. Anggun, mempesona, dan seksi—tiga kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Dara mengenakan kebaya tersebut.
Wanita keturunan darah Aceh itu melihat penampilannya pada pantulan cermin meja rias. Senyuman Dara mengembang sempurna. "Gila! Cantik kali aku kau buat, Del."
"Lebih cantik aku lagi, tapi untuk saat ini boleh'lah kau yang cantik."
Dara membalikan tubuhnya menghadap Delia yang sedang bersimpuh tangan di d**a—tanda puas atas kerja kerasnya.
"Tandanya nanti Bang Elang sama aku, Del?" tanya Dara dengan dahi berkerut. Pasalnya, Dara yang selama ini terlihat supel dalam memilih busana pakaian, kini terlihat lebih glamour. Berbeda jauh dari selera fashion-style Dara.
Sontak Delia tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya. "Aku rasa nggak, mirip kali kau sama Raline Shah, sumpah!!"
Pipi Dara langsung bersemu merah saat sahabatnya mengatakan kalau wajahnya terlihat seperti idolanya. "Bisa aja kau, yang betol'lah, udah mantap nggak penampilan aku." Dara berputar-putar layaknya princess Disney yang ada di siaran TV anak-anak. "Gimana?"
Dengan saksama, Delia menatap penampilan Dara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia sebagai wanita menyukai penampilan Dara hari ini, tetapi Delia terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa Dara cantik. "Udah mantap'lah ini kalo di kampong-kampong."
Baca: (Kampong : kampung)
Sontak bibir Dara langsung tertekuk ke depan. Setelah ia dipuji hingga ke atas langit, ternyata ujungnya ia dijatuhkan kembali hingga ke dasar bumi, bahkan sampai tidak berbentuk seperti semula. "Kek taik muncong kau."
Baca: (Muncong : mulut)
"Hahaha ...." Delia puas melihat sahabatnya mengacau seperti ini. Apalagi setelah melihat raut wajah Dara yang berubah drastis. "Kok kau bego kali, ya? Tapi aku sayang ...."
Dengan suasana yang haru, mereka saling berpelukan. Ini hari Dara melepas status lajangnya.
"Semoga berhasil malam pertamanya! Kasih aku keponakan!!"
"Gila! Langsung kau suruh aku malam pertama, nikah aja belom. Bego!"
"Siapa tau ...."
"Anjing! Amit-amit dah."
-00-
"Saudara Elang Prasetya bin Revano Prasetya," ucap sang Penghulu.
"Ya, saya!" balas Elang tidak kalah lantang.
Jantung Dara langsung bergemuruh heboh, ia takut kalau Elang akan salah bicara atau malah membatalkan pernikahan ini. Pasalnya, Ia cukup tahu diri kalau Elang sama sekali tidak menyukai dirinya, tetapi Dara tetap mencintai Elang.
Entah sejak kapan rasa cinta di hati Dara kembali hadir untuk Elang, tapi yang jelas rasa itu masih ada. Dengan mantap, Dara melirik sudut mata Elang dengan perasaan cemas. Semoga bisa Bang, semoga bisa ... kumohon. Batin Dara.
"Saudara, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya Dara Prawatja binti Tengku Usman Prawatja dengan mahar sebuah perhiasan seberat 50 gram dan perlengkapan alat salat dibayar secara tunai," ucap Ayah dengan lantang dan tanpa melihat teks.
Elang mengangguk lalu tersenyum sejenak. "Saya terima nikah dan kawinnya Dara Prawatja binti Tengku Usman Prawatja dengan mahar sebuah perhiasan seberat 50 gram dan perlengkapan alat salat dibayar secara tunai."
Dara yang sejak tadi merasa gelisah karena takut Elang akan salah mengucapkan lafal ijab kabul—kini ia dapat bernapas lega.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya Bapak Penghulu dengan mengedarkan penglihatannya ke sekeliling.
"SAH!!" balas semua yang ada di sekitar meja—saksi bisu—pernikahan.
Pak Penghulu bernapas lega dengan senyuman yang mengembang. "Alhamdulillah ...." setelahnya beliau mulai membacakan do'a agar pernikahan mereka diberkahi.
Senyuman pun mulai terukir manis di kedua bibir Dara. Akhirnya ia resmi menjadi seorang istri dari cinta pertamanya, Elang Prasetya.
Anjiirr ... aku jadi binik kau Bang!! Malam pertama coming soon, nggak sabar liat burung kau Bang. Batin Dara menggebu-gebu.
Setelah selesai berdo'a, Elang menyematkan cincin ke jari manis Dara, begitu juga sebaliknya.
"Sekarang cium dong istrinya," ucap sang Penghulu yang hanya dibalas wajah datar oleh Elang.
Pria di hadapan Dara mulai mendekatkan bibirnya lalu mengecup dahi Dara sekilas dan dibalas dengan salim sebagai penutup. Semua tamu undangan turut berbahagia atas pernikahan ini, meski berbeda dengan Elang—yang merasa ini adalah momen menjijikan.
"Kasih Mami cucu, yaa!!" bisik Mami dari arah belakang.
Pipi Dara bersemu merah saat Elang menatapnya. "Tanya Bang Elang dong, Mi ...."
Tanpa menggubris sindiran Dara, Elang lebih dulu bangkit dari tempat itu dan meninggalkan mereka semua yang berada di tempat yang sama.
-00-
Delia datang menghampiri meja bundar—sebagai tempat makan malam keluarga—dengan membawa satu kotak kado bewarna merah muda. Dara yang menyadari kehadiran Delia langsung tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu.
"Aku akhirnya nikah, sama kaya kau," bisik Dara pelan.
"Maaf ya, suami aku nggak bisa datang."
"Nggak pa-pa." Dara melepaskan pelukannya. Ia menatap raut wajah Delia yang sedikit berbeda, entah perkataan apa yang berhasil menyakitkan wanita 29 tahun itu. "Apa itu, Del?"
Sontak Delia tersadar saat Dara kembali bersuara. "Ini, kado pernikahan buat kau."
"Buat Elang-nya nggak, Del?" sindir Mamak seraya cekikikan bersamaan dengan Mami.
"Masa Bang Elang pake lingeri berenda, Tan."
"Bener juga, tapi kalo jamu kuat boleh'lah ...," canda Mamak seraya menaik-turunkan alis matanya.
Ayah yang menyadari perkataan istrinya barusan langsung berdecak dan menatap Mamak tajam. Memang, kalau sudah bicara Mamak tidak bisa mengontrol dirinya. Selalu blak-blakkan, mungkin beginilah wanita keturunan darah Batak.
"Rita, ucapan kamu."
"Kan bener, Yah ..., dulu Ayah juga begitu."
Kini wajah Ayah yang bersemu merah akibat ucapan Mamak. Tidak menyangka kalau istrinya itu membongkar masalah kamar mereka. "Sst ... kamu ini, kalo udah bicara nyererocos mulu, kaya bebek."
Dengan malas dan jengah, Elang hanya bisa menghela napas berat melihat aksi mertuanya. Ini kali pertama ia berada di hadapan orang-orang bermulut besar. Elang bangkit dari kursi makan lalu meninggalkan mereka yang masih terus berdebat.
"Kan, gara-gara Mamak, Bang Elang jadi pergi," decak Dara kesal.
-00-
Malam pertama sudah di depan mata. Keluarga beserta kedua mempelai menginap di hotel berbintang lima—yang menjadi gedung resepsi pernikahan tadi. Dara dan Elang berada di kamar VIP, begitu juga dengan keluarga keduanya.
Elang belum keluar dari kamar mandi sejak sepuluh menit yang lalu. Entah apa yang dilakukan pria itu di sana, tetapi yang jelas Dara sudah menunggunya sejak tadi—lengkap dengan mengenakan lingeri dari pemberian Delia.
Bentuk tubuh Dara terekspos saat lingeri berenda itu melekat pada tubuhnya yang seksi. Terutama di bagian p******a, terlihat menonjol dengan sempurna. Sebagian besar kaum pria pasti akan bernafsu untuk menyetubuhi Dara jika mereka melihat bagaimana penampilan Dara malam ini.
Pintu kamar mandi terbuka, tidak lama kemudian Elang keluar dengan celana pendek sepaha, atau lebih tepatnya seperti celana dalam yang biasa dikenakan pesepak bola favorit Dara, Christian Ronaldo.
Jantung Dara bergemuruh hebat ketika bola matanya melihat Elang yang hampir telanjang. Dengan tubuh Elang yang seksi seperti itu, semakin menambah gairah Dara untuk menikmati kemaluan Elang saat itu juga. Apa pantas jika wanita yang memulainya terlebih dahulu?
Elang menatap Dara dengan dahi berkerut. Pasalnya, ia melihat dahi Dara sudah dibanjiri keringat, belum lagi wajah wanita itu yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Dara tampak seperti sedang malu featuring sesak buang air besar.
"Kamu kenapa? Sakit?"
Dara menggeleng, lalu kembali menatap Elang dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu naik lagi dan berhenti tepat di s**********n Elang. Setelahnya ia menelan salivanya secara paksa. Anjiirr ... koneksinya belum tegang tapi udah sebesar itu. Gimana kalo tegang? Bisa sampe ke usus kali.
"Hei! Kamu sakit? Kalau iya, saya tidak ingin tidur dengan wanita berpenyakitan seperti kamu."
"Udah siap, Bang? Udah bisa kita mulai?"
Kerutan di dahi Elang semakin bertambah. Ia sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Dara. Bahkan pertanyaan yang ia ajukan tidak dijawab sama sekali. "Maksud kamu?" tanya Elang seraya berjalan menuju kasur, setelahnya ia berbaring di atas kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Itu lho Bang. Proses pembuatan janin."
Sontak Elang langsung membuka mata dan berbalik hingga menghadap Dara yang sedang duduk di tepi kasur. "Wanita bodoh! Kamu pikir saya mau menyetubuhimu? Kemaluan saya lebih berharga daripada dirimu." Setelahnya Elang kembali tidur dengan posisi semula—memunggungi Dara—lalu ia mematikan lampu tidur.
"Terus, untuk apa Abang cuma pake sempak kaya gitu? Dan aku udah pake lingeri? Bukannya setelah resmi jadi suami-istri kita boleh gitu-gituan?" tanya Dara tidak terima.
Dalam keremangan, Elang menghela napas. Baginya terlalu sulit untuk membuat Dara mengerti. "Dari saya remaja sampai sekarang, saya tidur selalu mengenakan celana dalam, tanpa kaus maupun celana tidur. Jadi bukan berarti saya mau meniduri wanita bodoh sepertimu! Open your mind, saya juga milih kalau mau berhubungan intim." Elang mengambil napas. "No s*x if nothing love. Itu slogan seks saya." Jeda beberapa detik, menunggu respon dari Dara, ternyata tidak ada tanggapan. "Sudah, tidur sana. Saya mengantuk."
Kek taik! Orang udah b*******h, dia malah nggak nafsu.
Dara mengikuti perintah Elang. Ia tidur tepat di sebelah Elang. Ia pandangi punggung kekar itu, meski dalam kegelapan namun bentuk tubuh Elang tetap terlihat menawan. Saat Dara hendak tidur seraya memeluk pinggang Elang, pria itu bersuara.
"Jangan pernah peluk saya!"
DEG!
Tubuh Dara terasa seperti disambar petir saat itu juga. Harus semenyakitkan itukah ucapan Elang? Bahkan Dara yang resmi menjadi istrinya, tidak mendapatkan perlakuan yang baik.
Malam pertama terburuk.
-00-
Cahaya matahari menyilaukan tempat di mana Dara masih terlelap bersama mimpi. Suara detik jam terdengar menggema namun tidak menyorotkan niat Dara untuk tidur. Entah apa yang ia makan tadi malam hingga bisa tidur selama ini.
Seperkian detik kemudian cahaya matahari semakin menusuk kelopak matanya. Cahaya itu berhasil memanggang kelopak mata Dara hingga wanita 28 tahun itu terbangun.
Ketika ia membuka matanya, cahaya itu langsung merambat dengan cepat. Kontan, Dara kembali menutup matanya dan berpindah posisi. Setelahnya ia duduk di kasur dan memandang keadaan sekitar seperti orang bodoh. Ia hanya melirik ke kanan dan ke kiri, tanpa sadar apa yang telah terjadi.
"Dimana aku?" tanya Dara pada dirinya sendiri. Lalu ia melihat penampilannya. "Astaga!! Kok aku pake lingeri?"
Dara melihat jam yang tergantung pada dinding kamar hotel. Jam 10 pagi.
"Apa? Aku bangun jam segini?" Dara menepuk jidatnya berkali-kali saat pikiran alam bawah sadarnya telah kembali. "Dara bego, kau kan udah nikah sama Bang Elang, tapi kau malah bangun kesiangan. Dasar bego! Dasar bego!! Ini hari pertama kau jadi binik Bang Elang, Daraaaa!!"
Dengan sigap dan cepat, ia menyingkap selimut dari separuh tubuhnya. Tanpa peduli dengan lingeri yang ia kenakan saat ini. Toh, Elang suaminya, jadi sah-sah saja kalau Elang melihatnya.
Langkah kaki Dara terhenti tepat di pertengahan jalan menuju dapur. Ia melihat Elang yang sudah rapi tengah memainkan ponselnya dengan khusyuk. Dari belakang saja Elang terlihat menawan, apalagi naked seperti malam kemarin, begitulah pikir Dara.
Ia mengagumi tubuh suaminya dalam diam. Dengan balutan kaus polo hitam, punggung Elang tampak kekar dan bersayap. Sangat nyaman untuk dipeluk, tapi sayang Elang tidak menginginkan hal itu jika Dara melakukannya.
Dara berjalan lebih dekat ke arah suaminya. Dalam jarak satu meter, lagi-lagi langkah Dara terhenti. Ia menghirup aroma segar dari tubuh Elang, aroma yang sama saat pertama kali mereka bertemu. Aroma minyak telon bayi.
Seketika bola mata Dara terbuka lebar. Bang Elang macho kayak gini tapi wanginya minyak telon? Uhhh ... unyu banget sih.
Keyakinan seratus persen, Dara kembali mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Elang. Detik kemudian, nyali Dara cukup besar, ia memeluk Elang dari belakang. Menghirup apapun yang bisa ia hirup dari tubuh Elang.
Pria itu langsung mengadahkan tubuhnya hingga pelukan Dara terlepas. Ia menatap wanita di hadapannya dengan tajam. "Dengan kamu pakai lingeri kayak gini, kamu pikir saya berhasrat?" Elang kembali duduk dengan seperti semula. "Tampilanmu itu kumel, lagi pula saya tidak akan sudi jika tubuh kotormu itu memeluk badan saya."
Masa bodo. Dara duduk di kursi sebelah Elang, lalu menyantap roti bakar yang entah sejak kapan sudah ada di meja makan. Mungkin Elang memesannya kepada service room.
"Tapi gini-gini aku Putri Daerah Sumatera Utara tahun 2015," gerutu Dara tidak terima.
"Saya tidak peduli. Sekalipun kamu Miss Universe, kalau bangun pagi aja masih telat, nggak ada bedanya sama kerbau petani." Elang meneguk minumannya. "Kamu wanita terburuk yang pernah saya temui. Sebagai seorang istri seharusnya kamu lebih dulu bangun daripada saya. Ini, bangun jam sepuluh pagi. Kamu tahu? Saya sudah bangun sejak jam 6 pagi. Bisa lihat perbandingannya?"
Dara kembali mengambil roti dan menggigitnya sedikit. "Namanya juga pengantin baru, Bang. Capek tau, malah tamunya semalam banyak," jawab Dara seraya mengunyah roti.
Elang berdecak kesal. "Habiskan makananmu dulu baru bicara. Astaga, kok saya bisa menikah dengan wanita sepertimu, ya?" Elang menghela napas seraya menggelengkan kepala, saat melihat Dara yang semakin asik memakan sarapannya tanpa menggubris sindiran Elang. "Kamu memang tidak punya sopan santun, ya? Belum mandi, minimal cuci muka dulu, baru sarapan. Apa keluargamu tidak mengajarkan itu?" Elang tertawa merendahkan.
Dara melihat penampilannya pada lapisan cermin di dinding dapur. Rambut berantakan seperti singa, ada bekas iler di pinggir bibir, belum lagi wajahnya yang berminyak. Dara merutuki dirinya sendiri. "Maaf Bang, namanya aku kelaparan. Bangun jam 10 pagi, siapa yang nggak lapar coba? Malah tadi malam aku makannya cuma dikit."
"Saya kasihan sama keluargamu. Ayah kamu mimiliki jiwa moral yang tinggi, sedangkan Ibu kamu memiliki jiwa ketegasan sekaligus keibuan yang hebat, sedangkan anak mereka? Wanita pemalas yang sama sekali tidak memiliki bobot sebagai manusia di dunia ini." Senyuman sinis bertengger pada kedua bibirnya yang tipis. "Bahkan pekerjaan saja kamu tidak punya. Untuk ukuran wanita seusiamu, seharusnya adalah wanita karir yang berhasil, bukan malah menyusahkan orangtua. Menyedihkan ya hidupmu. Tidak ada yang bisa dibanggakan."
Detik itu juga buliran bening mengalir begitu saja dari pelupuk mata Dara. Hatinya sakit saat Elang berkata seketus itu. Dara pikir, setelah ia menjadi istri Elang, akan mudah baginya untuk menaklukan hati Elang, ternyata pikiran itu salah besar. Perkataan Elang barusan layaknya sebuah belati yang menusuk tubuh Dara berkali-kali.
"Lihat sekarang, kamu hanya bisa menangis. Dasar wanita cengeng. Apa tidak ada yang bisa kamu lakukan selain menangis? Tidak ada pilihan lain?" Dara semakin menangis sejadi-jadinya. Roti yang sudah ia gigit separuh itu, terjatuh di atas meja. "Saya sudah pernah bilang bukan? Kalau saya membenci wanita cengeng!"
Sabar Dara, sabar ... ini juga kesalahan kau. Dara menghapus air matanya lalu tersenyum bahagia. "Kalo aku senyum kayak gini, apa Abang suka?"
Elang mengkernyitkan dahinya. Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Dara. "Dasar wanita aneh." Elang segera mengambil ponselnya di atas meja, lalu bangkit dari kursi. "Setelah ini bersihkan dirimu, karena kita harus segera kembali ke Jakarta. Dan saya mohon, jangan melakukan kesalahan yang memalukan. Karena saya orang yang dihormati, jadi jangan pernah memalukan saya dengan tingkah lakumu itu!"
Elang melanjutkan langkahnya ke dalam kamar. Tidak berapa lama ia sudah keluar dengan koper hitam yang ia seret. "Saya tunggu di lobi hotel. Jika dalam waktu 15 menit belum selesai, maka kamu terpaksa saya tinggal."
Dara mengangguk dengan ekspresi wajah sendu. Ia menuruti perkataan Elang. Setelah suaminya keluar dari ruangan hotel, Dara berteriak sekencang-kencangnya. "Arggghhh!!! Bodoh! Bodoh! Kenapa susah kali buat kau luluh sih, Bang? Heran aku, kenapa kau bisa berubah kayak gini!! Mati kali, bah."