Elang keluar dari kamar mandi dengan kebiasaan uniknya, hanya memakai celana pendek sepaha. Bola mata Dara lagi-lagi terpikat pada gundukan besar di s**********n Elang, ia sungguh penasaran isi di dalam celana pendek itu. Otak m***m Dara kembali mengulah ketika Elang hendak mengoleskan minyak telon ke badan kekarnya.
Mati kali bah. Aku yang cewek, aku pula yang kegatalan.
Sedikit demi sedikit Dara menelan ludahnya ketika melihat tubuh Elang yang kini sudah mengkilap.
"Kenapa nelen ludah kaya gitu?!"
Sontak Dara langsung gelagapan ketika Elang memperkogi tingkah bodohnya. "Anu, itu Bang ... anu Abang besar—eh."
"Apa? Maksudnya?" tanya Elang reka ulang, karena ia tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Dara.
Satu per satu bulir keringat membasahi dahinya, sekarang Dara benar-benar gugup, sekaligus beruntung karena Elang tidak mendengar apa yang ia ucapkan.
"Nggak ap—" kali ini deringan ponsel Elang menghentikan aksi bicara Dara.
Pria itu mengambil ponselnya di atas meja lalu melihat siapa yang meneleponnya di tengah malam seperti ini. Ternyata orang itu adalah Mami.
"Halo? Ada apa, Mi? Tumben larut malam gini nelepon, sakit Mami kambuh, ya?"
"Bukan itu, Nak. Mami baik-baik aja kok." Ada jeda sedikit dari ucapan Mami. "Mami cuma mau bilang, besok kalian berdua datang ke rumah, ya ...."
"Emang ada apa, Mi? Ada acara keluarga, ya? Bukannya arisan keluarga dua minggu lagi?" tanya Elang bertubi-tubi.
Berbeda dengan Dara yang kembali fokus memandangi tubuh kekar Elang dari arah samping. Sungguh beruntung ia memiliki suami yang peluk-able. Dan seketika Dara melotot saat menyadari bahwa Elang memiliki tato burung elang di d**a kanannya, dan inisial 'L' di pinggang kanan.
"Bang Elang bertato? Kok aku bodoh kali, ya? Baru sekarang taunya," gumam Dara pelan.
"Oh, yaudah, Mi. Entar aku sampaikan sama menantu Mami. Oke, bye." Elang kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu ia ikut berbaring di atas kasur bersama Dara.
Dengan posisi tidur seperti biasanya, Elang memunggungi Dara. Di belakang punggungnya, ada Dara yang kini kembali menyadari bahwasanya Elang juga memiliki tato tepat di leher belakangnya yang bertuliskan 'Kill Me if that Make You're Happy'—dengan tulisan ukiran.
"Bang, aku—"
"Tidur sekarang karena besok pagi kita akan ke rumah Mami," interupsi Elang saat Dara hendak bertanya mengenai makna dari tato yang ada pada tubuhnya.
"Tapi—"
"TIDUR!"
-00-
KRING!! KRING!!
Sontak Dara langsung terbangun dari tidurnya karena terkejut saat suara deringan ponselnya berbunyi nyaring. Entah sejak kapan ponselnya berada di sebelah telinganya, padahal tadi malam ia letak di atas nakas.
Dara mengerjapkan bola matanya beberapa kali hingga penglihatannya kembali normal, lalu ia melihat siapa yang meneleponnya sepagi ini—menurut Dara.
"Bang Elang?" gumam Dara kepada dirinya sendiri. Ia sapu tombol hijau pada layar ponsel, hingga panggilan itu tersambung. "Ada apa, Bang? Nggak tau apa ini masih pagi? Astaga naga bonar ... lagian ngapain pake nelepon segala sih, kan kita—"
"Lamban! Kamu tidak tahu ini sudah jam berapa? Ini sudah jam 10 pagi, dan kamu baru bangun?! Sekarang temui saya di ruang makan!"
TUT!!
Raut wajahnya langsung berubah cemas. Dengan gesit Dara menyingkap selimut dari tubuhnya, dan berlari menemui Elang sebelum pria itu akan marah besar.
Pagi ini Dara merutuki dirinya sendiri karena melakukan kecerobohan yang sama, tidak hanya itu saja, ia juga merutuki kebiasaannya—bangun kesiangan. Dara bodoh! Kek mana Bang Elang mau jatuh cinta sama kau, kalo bangun pagi aja nggak bisa.
Seketika langkah kaki Dara terhenti. Pagi ini suaminya terlihat santai dengan kaos polo putih yang melekat pada tubuh kekarnya. Dara berjalan lebih dekat dengan Elang, lalu ia duduk di kursi sebelah Elang.
"Kamu tahu apa kesalahanmu?"
Dara mengangguk seraya tersenyum. Bola matanya berbinar. Elang terlihat lebih seksi dengan brewok di sekitar dagunya. Astaga ... cipok adek Bang, cipok ....
"Hei! Kenapa kamu senyum-senyum kaya orang bodoh?!" senggak Elang. "Ini peringatan terakhir untuk kamu, jika masih mengulangi kebiasaan bodoh kamu itu, maka konsekuensinya kita akan berbeda atap. Kamu di rumah Mami, sedangkan saya di sini."
"Iya Bang Ma—"
"Sudah berapa kali kamu minta maaf tapi masih melakukan hal yang sama?! Saya nggak butuh maaf darimu, tapi saya butuh kerja nyata darimu!" Elang menatap Dara dengan sorot tajam, hampir saja ia frustrasi menghadapi sikap istrinya. "Jika di dunia ini memiliki penduduk 70% seperti kamu, maka bisa dipastikan penduduk yang 30% lainnya memilih pindah planet. Saya sempat berpikir seperti itu. Jadi, kalau kamu mau dihargai, maka kamu juga harus menghargai."
Dara menunduk seraya memilin ujung baju tidurnya. Setelah ia rasa Elang tidak marah lagi, Dara mendongak dan melihat Elang memohon.
"Itu masih ada belek di matamu. Sana, mandi!" Dara mengangguk lalu berjalan ke dalam kamar.
Mau dimandiin sama Abang, rengek Dara dalam hati.
-00-
Elang mengelap bibirnya dengan serbet. Sarapan sederhana yang ia buat, cukup membuat perutnya kenyang. Hanya semangkuk sereal dan secangkir cokelat panas.
Aroma strawberry menguap di daerah ruang makan. Elang yakin kalau itu adalah Dara—yang baru saja selesai berpakaian. Tanpa peduli dengan kehadiran Dara, Elang memilih memainkan ponselnya, mengecek apakah ada Email masuk dari Wira.
"Aku lapar, Bang. Masih ada serealnya?"
Elang mendongak, melihat Dara yang kini sudah duduk di kursi yang tadi. "Udah sarapan di rumah Mami aja, kita sudah telat, kasihan Mami udah nunggu setengah jam karena kamu!"
"Tap—"
"Istri yang menentang ucapan suaminya, maka dosa yang akan ia terima. Jadi kamu jangan pernah menentang perkataan saya!"
"Tapi ini bukan menentang, aku lapaaarrr ...."
Elang berdecak. "Makan serbet aja, bawel banget!!"
-00-
Sepanjang perjalanan menuju rumah Mami, radio di dalam mobil Dara yang menguasai. Tapi, saat ia hendak menukar lagu, Dara teringat akan foto seorang wanita yang ada di dashboard mobil, namun sekarang foto itu tidak ada.
"Bang."
"Hm."
"Kalo nggak salah ya Bang, waktu kita mau fitting kebaya, aku kek pernah liat foto ceweklah di dashboard mobilmu Bang," ungkap Dara seraya menepuk-nepuk dashboard yang ia maksud.
Seketika tenggorokan Elang terasa tercekik. Pertanyaan itu hampir aja membuat Elang membanting setir mobil ke kiri. Calm down, Lang.
"Perasaan kamu aja."
"Betol lho Bang. Orang mukanya aja aku masih ingat. Dia pake gaun polkadot gitu."
Elang kembali diam. Ia mencoba untuk menetralkan pernapasannya. Dara tidak boleh tahu tentang itu, dan untung saja foto itu sudah ia simpan di dalam laci.
"Nggak ada foto apapun." Elang membelokan setir mobilnya ke kanan, mungkin dengan ia singgah sebentar ke warung bubur ayam bisa mengalihkan pembicaraan mengenai foto Luna. "Kamu lapar, kan? Mau bubur ayam, nggak?" tanya Elang setelah ia sudah memakirkan mobilnya di depan warung.
"Boleh Bang. Mantap kali pun kurasa, pagi-pagi makan bubur. Jadi keinget sama bubur pedas di Mesjid Raya kalo bulan puasa."
Elang tersenyum kikuk, lalu ia memberikan uang 100 ribu kepada Dara. "Beli dua, sekalian punya Mami."
Dara menerima uangnya dan keluar dari mobil. Setelah Dara keluar, Elang melepaskan seatbelt. Setidaknya ia bisa bernapas lega karena terhindar dari pembicaraan mengenai foto Luna.
"Hampir aja, untung semalam gue simpan di laci." Elang menoleh ke arah luar jendela, di sana ia melihat Dara yang sedang memakan keripik. "Salah apa aku? Bisa nikah sama wanita ceroboh kaya dia?"
-00-
Joglo di belakang rumah, ada Elang yang sedang tiduran di atas paha Mami sedangkan Dara memandang iri kepada Mami. Bukan karena benci, tetapi ia juga ingin Elang bertingkah laku manja kepadanya. Mengelus rambut ikal pria tersebut, memeluk tubuhnya, dan yang paling Dara inginkan merasakan bercinta dengannya.
Memiliki keturunan dari suami adalah impian setiap istri, namun Dara tidak tahu kapan ia mendapatkannya.
"Kamu ini, ada istri tapi manjanya sama Mami. Nggak malu ih."
Elang mengedikan bahu acuh tak acuh. Ia tetap fokus pada layar ponselnya, sebab Elang sedang asik bermain game Zombie Tsunami. Jari-jarinya terus menekan layar ponsel agar para zombie tidak mati.
"Hei, lihat tuh istri kamu, masa dianggurin."
"Tau tuh Mam. Padahal ada aku, masa manjanya sama Mami," sambung Dara kesal. "Padahal ada istrinya yang siap sedia."
Karena kesal dengan tingkah Elang yang tidak sopan, Mami mengambil ponsel Elang dan memberikannya kepada Dara. "Kamu itu, udah dewasa tapi masih kaya anak-anak. Kalau Mami atau orang lain bicara, itu didengar, disahuti, bukan asik sendiri." Mami menjewer telinga Elang hingga meninggalkan jejak merah. "Sekali lagi kamu asik main HP mulu, Mami potong tanganmu baru tahu."
Haha ... kena sama Mami kau kan Bang. Itulah, merepet ajalah kerjaan kau, gantian kan kau yang direpetin, batin Dara bahagia. Baca: (Merepet = mengomel)
Bibir Elang langsung mengkerucut seraya mengusap telinganya yang merah. "Mami kenapa manggil kami ke mari? Padahal hari ini Elang mau olahraga tembak."
"Jadi kamu nggak ikhlas, nih? Yaudah, sana pulang," usir Mami merajuk.
Elang tersenyum tipis. Ia menyadari kalau sikap Mami seperti anak kecil. Mungkin memang sudah faktor alam, semakin tua maka sifatnya juga semakin kaya anak-anak.
"Masa udah tua sifatnya kaya anak-anak," ledek Elang dan berhasil membuat Mami tersenyum. "Jangan ngambek dong Mam, emang ada apa?" Elang bangkit lalu menggenggam tangan Mami.
Senyuman licik kembali mengukir bibir Mami. Rencananya sukses membuat Elang terpancing. "Mami pengin cucu."
"Ha? Cucu?!" teriak Elang dan Dara serentak.
"Iya, cucu ...."
Elang menghela napas berat sedangkan Dara mengulum senyum. "Harus, Mi? Kan kapan-kapan bisa," tolak Elang secara halus.
Wajah Mami langsung tertekuk. "Kapan-kapan Mami pun juga bisa mati." Setelahnya Mami pergi meninggalkan mereka berdua.