Di dalam kamar seluas empat meter, ada Dara yang sedang gundah gulana memikirkan bulan madu mereka. Ia menatap langit-langit kamar sejak setengah jam yang lalu namun belum ada satu ide pun terpikirkan.
Seharusnya hal ini yang Dara tunggu-tunggu, namun rasanya kurang lengkap kalau hanya sekedar bercinta tanpa ada kesan. Dara ingin bulan madunya ada sesuatu yang bakal sulit untuk dilupakan tetapi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Dara mengubah posisi tidurnya menghadap ke samping. Ia tatap pintu kamar dengan saksama. Pintu kamar sedikit terbuka, dan hal itu membuat Dara ingin mengintip apa yang dilakukan Elang di luar, apakah suaminya itu juga melakukan hal yang sama dengannya. Memikirkan masalah bulan madu mereka.
Dara bangkit dari kasur dan berjalan dengan sangat pelan menuju pintu. Ia buka sedikit lagi pintu kayu tersebut, lalu Dara melongokan kepalanya keluar, namun apa yang ia lihat tidak sesuai dengan ekspetasinya. Dara hanya melihat Elang yang sedang menonton serial kartun seraya menikmati minumannya.
"Kukira kau juga bingung, Bang." Dara mengacak rambutnya frustrasi. "Sama siapa aku minta saraaaaannnn??"
Wanita dengan daster merah muda itu terus berjalan mondar-mandir seraya memejamkan mata. Mungkin dengan cara seperti ini ia akan mendapatkan sebuah ide. Dan benar saja, tidak lama kemudian ada satu ide yang terlintas di pikirannya.
Dara segera menghampiri kasurnya. Ia duduk di pinggiran kasur lalu mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Ia mencari kontak nomor Delia, dan lekas mengirim pesan kepada wanita itu.
To Delipet:
Saran buat HM apa, coy?
Setelah pesannya terkirim, Dara kembali meletakkan ponselnya di tempat semula. Kakinya terus bergetar saking antusias menyambut honey moon bersama Elang di Danau Toba.
Iya, saat di rumah Mami, mereka sudah berunding menentukan tempat yang pas untuk melaksanakan bulan madu yang indah. Awalnya Elang meminta ingin ke Lombok, tetapi Dara bersikukuh ke Danau Toba, dan ternyata Mami setuju dengan Dara maka Danau Toba-lah yang akhirnya menjadi tempat yang pas untuk bulan madu mereka.
KRIING!! KRIING!!
Pikiran tentang Danau Toba hancur seketika saat deringan ponselnya berbunyi nyaring. Lantas Dara segera meraih ponselnya dan menyapu tombol hijau ke kanan.
"Halo, HM itu apa? Nggak ngerti aku bahasa kau," senggak Delia ketika Dara mengangkat panggilan teleponnya.
Dara mengulum senyum malu. Tangan kirinya memilin ujung daster. Sejujurnya Dara malu memberi tahu kalau ia akan berbulan madu. "Kalo nelepon itu bahasanya lembut dong. Kau langsung ngegas aja, kaya Komeng."
"Paok, itu Yamaha—Semakin di depan." Delia tertawa sendiri. "Lagian aku lagi di Amerika, jadi mahal biaya nelepon. Udah langsung ke inti aja, banyak kali cengkonek kau."
Baca: (Cengkonek = modus)
Dara meringis ketika suara Delia memekikkan telinganya. "Suara kau santai aja, bodat." Dara mengusap telinganya yang terasa pekak. "Ini, aku sama Bang Elang mau HM di Dantob, jadi menurut kau—aku harus ngelakuin apa supaya HM kami berkesan?"
Di Amerika sana, Delia mengkernyitkan dahinya hingga berkerut. "HM apa lagi? Bahasa kau itu."
"Honey Moon. Malu aku bilangnya, jadi aku singkat aja HM. Kek mana? Ada saran supaya ada kesan gitu pas kami blaem-blaem."
Sontak Delia langsung tertawa terbahak. Ternyata diumur 28 tahun, tidak membuat Dara menjadi sosok wanita yang dewasa. Bahkan, soal urusan kamar saja ia masih bertanya.
"Ha ha ...." Delia menghembuskan napasnya agar berhenti tertawa. "Polos kali kau, bah. Ngakak aku."
"Isshhh ... cepatlah, kek mana? Namanya ini baru pertama kali, lucu lah kau."
"Kau mau berkesannya kek mana?"
Dara memejamkan matanya. Ia bertanya pada diri sendiri—mau seperti apa kesan yang ingin ia ciptakan. "Kepuasan dalam bercinta."
Sekali lagi Delia tertawa dibuat Dara. "Bego kali kaulah. Nggak pande goyang kau rupanya?"
"Ishh ... udah, cepatlah. Aku sama sekali nggak tahu."
"Yaudah, kau suruh aja Elang minum jamu kuat. Nanti kau beli di tukang jamu."
Bola mata Dara membelalak, ia tertarik dengan saran yang Delia berikan. "Jamu kuat? Untuk apa?"
"Biar burung si Elang nggak lemes-lemes, terus keluarnya juga lama. Tapi nanti kau pancing juga, waktu Elang lagi mandi, kau pakek lah lingeri yang aku kasih itu. Dijamin pasti berkesan!"
"Bol—" ucapan Dara terhenti saat Elang memasuki kamar.
Keduanya saling tatap dengan kurun waktu lima detik, karena setelahnya Dara menunduk. Melihat gerak-gerik yang mencurigakan dari istrinya, dahi Elang mulai berkerut dengan mata yang memicing.
"Bol apa? Kenapa nggak dilanjuti aja neleponnya?" tanya Elang seraya berjalan mendekat dengan Dara.
Wanita itu menggeleng dengan cepat. Rona pipinya sudah memerah. "Nggak pa-pa kok, Bang."
"Ha?"
Dara kembali menggeleng. "Ini, cuma mau nanya, tukang jamu di mana Bang?"
"Di depan komplek ada." Dara langsung keluar dari kamar meninggalkan Elang—yang otaknya masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan mencurigakan.
Ia mengedikan bahu setelah tubuh Dara ditelan pintu kamar. "Wanita aneh."
-00-
"Ahhhh ...!"
Hari ini jantung Dara seperti diuji kualitasnya, sebab sudah dua kali ia merasa terkejut dalam satu hari. Pertama; tadi saat Dara terpergok oleh Elang di kamar. Dan kedua; tiba-tiba saja Raja berada di hadapannya saat hendak keluar rumah.
"Kenapa teriak?" tanya Raja dengan polosnya tanpa menyadari mengapa Dara berteriak kalau bukan karena ulahnya yang tiba-tiba saja muncul.
"Nggak pa-pa." Dara mengatur napasnya agar kembali normal. "Kenapa?"
"Elang ada?"
Dara mengangguk, lalu menyingkirkan tubuh Raja dari hadapannya agar ia bisa melangkah keluar. Saat Dara sudah melewati dapur, Raja mengedikkan bahunya.
"Aneh," gumam Raja.
Dara sudah yakin sekali kalau Raja pasti mengumpat mengenai dirinya. Ini semua karena jamu dan bulan madu, sehingga Dara bertingkah aneh hari ini.
Dengan rambut yang diikat asal, baju daster kebesaran, serta sandal jepit kusam—membuat semua warga komplek memperhatikan Dara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mungkin karena penampilannya yang kumal. Karena yang mereka tahu, Elang adalah seorang Pengacara terkenal dan yang pasti memiliki uang berlimpah, namun melihat penampilan Dara yang sekarang membuat mereka kurang yakin kalau wanita itu adalah istri Elang.
Mati kali bah liat emak-emak komplek ini. Pake baju gembel aja digosipi, apalagi kalo aku pake BH sama sempak doang.
Lekuk senyuman terukir manis pada kedua bibir Dara yang lembab. Tukang jamu yang Elang bilang tadi, kini hanya berjarak dua meter dari posisi Dara berdiri saat ini. Ia menghampiri tukang jamu tersebut.
"Pak, mau beli jamu."
Bapak-bapak yang diperkirakan berumur 50 tahunan itu menoleh. Ia tersenyum ramah kepada Dara. "Beli jamu apa?"
Dara mengigit bibir bawahnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, sekiranya ada 3 bapak-bapak yang sedang menikmati jamu seraya bermain catur. Dara mendekatkan kepalanya pada telinga sang penjual.
"Beli jamu kuat, Pak," bisik Dara pelan.
"Ha? Jamu kuat? Kok nggak suaminya aja yang beli?"
Dara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia gugup sekaligus menahan malu yang luar biasa. Ini di luar dari kata nekat. "Suami saya lagi kerja, Pak."
"Yaudah, mau jamu kuat yang gimana?"
"Ya ... gitu Pak. Jamu kuat untuk bulan madu."
Sontak Bapak itu tertawa lepas—yang diikuti sekumpulan Bapak-bapak yang berada di situ karena dapat mendengar apa yang Dara katakan.
Bisa dipastikan, kini pipi Dara bersemu merah layaknya sebuah tomat yang matang. Wajahnya mulai terasa panas, bulu kuduknya juga berdiri saking malu atas ucapannya sendiri.
"Jamu kuat ada dua tipe, Dek. Jamu yang pertama; bisa buat si anu tegang maksimal. Dan jamu yang kedua; bisa memperlama keluar sperma." Bapak tersebut menutup mulutnya agar tidak kelepasan lagi. Ia kasihan melihat wajah Dara yang sudah merah padam. "Jadi, mau yang mana, Dek?"
"Dua-duanya aja deh."
"Pengantin baru ya, Mbak?" tanya si Bapak yang duduk dekat pintu masuk.
Dara menoleh. "Hihi ... iya, Pak."
-00-
Saat kakinya melangkah masuk ke dalam rumah, ternyata Raja belum juga pulang. Ia masih betah bercerita bersama Elang di ruang TV. Entah apa yang dibicarakan kedua pria itu.
Ketika Dara melewati ruang TV, keduanya langsung terdiam. Elang memandang kantung plastik yang dibawa Dara. Dahi pun mulai berkerut, sebab untuk apa Dara tadi bertanya soal tukang jamu dan sekarang membawa kantung plastik yang Elang yakini kalau itu adalah jamu.
"Kamu beli apa?" tanya Elang dingin.
Langkah kaki Dara terhenti. Bulu kuduknya meremang seketika. Suara barinton itu terasa mencekam permukaan atmosfer diantara mereka.
Dara menoleh ke belakang lalu tersenyum kikuk. "Jamu Bang."
"Jamu apa?"
"JAnji MUnafik—eh, maksudnya jamu sehat." Takut Elang kembali bertanya, Dara langsung berlari menuju kamar.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Elang. Ia menatap Raja seolah-olah ingin memberitahu kalau 'beginilah binik gue. Aneh. Gila. Bikin emosi'. Raja yang mengerti maksud dari tatapan itu hanya tersenyum.
"Aneh kan? Istri gue?"
"Sabar Bro." Raja berdeham sejenak. "Nggak ada istri yang aneh di dunia ini. Mungkin dengan cara seperti itu, istri lo mau nunjukin kalau begitulah dia. Cari istri yang polos dan apa adanya kayak Dara, jaman sekarang udah nggak ada lagi. Jadi bersyukur aja."