8.Semangkuk Mie

817 Kata
Sebuah panci berisi mie instan dan telur mendidih. Nyaris masak. Asapnya mengepul-ngepul keluar dari panci, terbawa angin yang datang dari jendela, menuju hidung Azzura. Azzura yang sedang tertidur sambil duduk di sofa perlahan mulai terusik oleh aroma itu. Hidugnya terlihat mengendus pelan dua kali. Tiba-tiba matanya terbuka cepat. Aroma nikmat mie insan itu telah menarik kesadarannya. Tekejut? Deg-degan? Tak menyangka? Mungkin perasaan itu yang pertama ia rasakan ketika mendapati dirinya bisa tertidur di rumah ini. Azzura masih memandang ke depan, tetapi matanya melirik jam tangan di tangan kanannya. Jam tujuh malam? Ternyata dia sudah tidur selama itu. Masih dengan wajah tegak lurus ke depan, Azzura melirik ke sumber bau mie instan. Ia bisa melihat punggunh Rumi. Pakaiannya sudah berganti kaos putih, rambutnya basah, sepertinya dia baru selesai mandi Rumi berbalik tiba-tiba. Membuat pandangan mereka bertemu. "Nyenyak kan tidur di tempat kumuh?" sindir Rumi. "Ehem, aku tidak tidur hanya berpikir tentang saham," Azzura enggan mengakui telah menjilat ludahnya sendiri. Rumi tertawa kecil melihat prilaku Azzura yang tak berubah. Tapi, ia tak mau mendebat. Rumi kemudian mengambil satu botol air mineral dari kulkas dan meletakannya di meja makan. "Aku masak mie, duduklah kita makan malam." "Mie?" Azzura merengutkan dahi. Sudah lama sekali dia tidak pernah makan mie instan. Mungkin terakhir saat SMP. "Iya, mie," jawab Rumi meletakan panci berisi mie di meja Dia kemudian mengambil dua mangkok kosong, dua pasang sendok garpu dan magiccom kecil. Semuanya di simpan di atas meja. "Gak ada yang lain?" "Gak ada. Ingat kamu udah menghabiskan semua uangku. Cuma ini yang bisa di beli," tunjuk Rumi pada panci mie. "Entahlah, aku lapar tapi gak bisa makan mie. Tahukan mie itu gak sehat?" "Pilih gak sehat atau mati kelaparan?" tanya Rumi tegas. Rumi duduk di salah satu kursi. "Banyak kultur Indonesia yang gak bisa kutinggalkan walau di sini. Makan mie pakai nasi, gak berani minum air keran langsung, dan belum makan kalau belum kena nasi," ucap Rumi sambil mengambil nasi ke mangkuk kosong dan mengambil mie dari panci. Semerbak aroma mie yang diaduk-aduk oleh Rumi membuat perut Azzura tak tahan lagi. Rumi duduk di meja makan. "Azzura, aku makan dulu, ya?" "Hah? Ya, " Azzura terlihat terkejut saat dipanggil Rumi. Rumi melihat Azzura menelan saliva. Azzura cukup tergoda oleh bau mie itu, tapi dia tak berani memakannya. Menurutnya, makan mie tidak sehat dan akan merusak berat badannya. "Bismillah," ucap Rumi lalu mulai makan. Azzura terlihat jelas sedang mengalami perang batin. "Mau coba?" goda Rumi. "Tidak, sesendok mie instan pun gak mau. Aku gak mau, itu gak sehat," semakin banyak Azzura memberikan alasan, semakin terlihat jelas dia mau. Rumi membiarkan Azzura dengan konflik batinnya dan mulai mengaduk-aduk mie lagi. Ia memasukan cabai giling asal Indonesia ke dalamnya. Aroma kenikmatan semakin menyeruak kedalam hidung Azzura, membuat ia menelan ludah untuk kesekian kalinya Kali ini Rumi tak tega melihat konflik batin Azzura. "Hah, dasar!" Rumi bangkit dan mengambil mangkuk milik Azzura dan mengisinya dengan beberapa centong mie. "Azzura," panggil Rumi. "Ya?" ucap Azzura masih menatap tegak ke arah depan. Tanpa disadari Azzura, Rumi sudah berada di sampingnya, menepuk pundak Azzura dengan lembut. "Ayo, makan," ucapan Rumi seolah menghipnotis Azzura. Kali ini ia tak menolak dan ikut makan. "Sehari makan mie gak akan bikin kamu gendut kok," ujar Rumi. Melihat mangkuk di depannya sudah di isi mie membuat benteng pertahanan Azzura rubuh. Ia mulai duduk di depan semangkuk mie instan yang menggoda ini. "Aku akan makan sesuap saja," ucap Azzura terlihat masih ragu. "Terserah u, u, u," ucap Rumi sambil meniup-niup mie. Azzura perlahan mengambil sendok. Sudah lama ia tak memakan mie demi tetap langsing tanpa olahraga. Kuah kental mie instan sudah berada di dalam sendok. Mata Azzura menatap sendok tegang, seperti tim gegana sedang memilih kabel mana yang akan dipotong saat menjinkkan bom. Rumi menggelengkan kepala melihat konflik batin yang dialami Azzura lagi. "Makan mie doang loh itu," batin Rumi. Sruput, suara kuah masuk ke mulut Azzura perlahan. Mata Azzura terbuka lebar. Sudah lama sekali ia tak merasakan makanan seenak ini, ditambah racikan Rumi membuat rasa mie ini semakin enak. "Orang Indonesia makan mie sama nasikan?" ucap Azzura sambil membuka magicom. Lima menit kemudian, isi mangkuk milik Azzura tandas setelah dua kali mengambil mie. "Mau tambah lagi?" goda Rumi. Azzura mengeleng sambil melap mulutnya dengan anggun, "cukup". Setelah selesai mencuci piring Rumi memakai mantel dan sarung tangan, ia bersiap untuk pergi. "Kemana?" tanya Azzura. "Mau menagih uang bayaranku," jawab Rumi tak peduli. "Aku ikut," Azzura bangkit karena tak mau sendiri di rumah Rumi. "Kamu yakin?" Rumi menghentikan langkahnya. "Yakin, memang kamu mau ke mana?" "Ke tempat yang tidak kamu sukai," "Ke tempat yang tidak aku sukai?" tanya Azzura bingung. *** Azzura dan Rumi berdiri di depan lorong kecil menuju basement. Tangga lorong itu terlihat curam, sempit, menakutkan dan kumuh. Temboknya mengelupas, banyak coretan dan sedikit berlumut. Tak ada penerangan di sepanjang tangga, kecuali lampu kecil di ujung tangga. "Kamu serius kita di sini?" tanya Azzura dengan ekspresi ngeri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN