Di bawah langit kelabu khas London, Azzura dan Rumi berjalan penuh kemenangan melakukan selebrasi keberhasilan merebut koper yang baru saja mereka ambil dari Davino. Gedung-gedung dengan arsitektur khas era Victoria menjulang di sepanjang jalan, trotoarnya dipenuhi jejak waktu, dihiasi batu-batu paving tua, kini mulai basah karena hujan gerimis yang baru saja turun. ,
Suara berisik koper yang Azzura tarik membuat mata orang-orang di depan toko memperhatikan mereka.
"Aduh-aduh, hujan," keduanya menepi di bawah toko buku saat gerimis mulai deras, merusak adegan selebrasi kemenangan yang hanya mereka bedua rasakan.
"Hei, kembalikan uangku lalu kita berpisah," ucap Rumi saat mereka menepi.
"Sebentar, aku akan menelepon Mika dulu," ucap Azzura sambil mengoperasikan ponsel.
"Bayar saja dulu baru menelepon temanmu," terlambat, Mika sudah mengangkat panggilan Azzura.
"Azzura, akhirnya kamu menelepon," ucap Mika dengan bahasa Inggris.
"Tolong jemput aku,"
"Sebentar, kamu darimana semalam? Tadi pagi Davino terus neleponin aku nanyain kamu. Apa yang terjadi dengan lamarannya?" tanya Mika penuh kebingungan.
"Si b******k itu ternyata tukang selingkuh dan tukang nidurin cewek. Aku udah mutusin dia," cerita kesedihan itu akhirnya secara tidak sengaja di dengar pula oleh Rumi.
"Apa? Padahal dia sangat terlihat mencintaimu. Mungkin kamu salah paham," Mika mencoba menjadi penengah.
"Nanti aku ceritain detailnya. Tolong jemput aku."
"Aku baru sampai ke Chelsea, ada kerjaan. Kamu ke hotel aja dulu. Nanti aku jemput."
"Kapan?"
"Besok, aku jemput,"
"Ya udah, aku akan ke hotel dulu."
Panggilan mereka akhirnya terputus.
Azzura menatap Rumi yang sedang merengut karena kesal.
"Ini nomor rekeningnya," ucap Rumi sambil menunjukan gawai.
"Atau mana nomormu. Biar kukirim,"
Azzura menatap Rumi dengan tatapan seolah Rumi sedang mengemis.
"Kau benar-benar menyebalkan. Terserah soal uang aku benar-benar ngantuk karena mengurusimu semalam,"
Rumi berjalan menjauh dan membelakangi Azzura karena kesal ditatap seperti tadi.
Membayar uang Rumi sekarang sama dengan ditinggal Rumi, dan Azzura sedang tak mau sendirian dengan koper ini.
"Aku butuh tempat yang nyaman untuk mengetik nomor rekening," ucap Azzura.
"Mau apalagi sekarang? Kamu penipu kan sebenarnya? Gak punya uang kan?"
"Aku punya uang kok," ucap Azzura sambil menunjuk-nujukan ponsel, tapi tiba-tiba tangannya licin dan membuat ponsel itu terjatuh.
Brak!
"Ah!" teriak Azzura.
"Hah?" ucap Rumi kaget.
Azzura memungut ponsel. Genangan air dan gerimis membuatnya basah.
"Layarnya pecah," ucap Azzura kaget.
Rumi mengasihani Azzura.
"Sudahlah lupakan uang itu. Kamu bebas." ucap Rumi kemudian berjalan membelah hujan.
"Tunggu!" ucap Azzura sambil menarik koper.
Sebuah taksi berhenti setelah Rumi melambaikan tangan.
"Pak, tolong buka bagasinya," pinta Azzura pada sopir taksi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rumi.
"Kamu pikir aku akan kemana setelah hpku rusak dan Mika baru bisa jemput besok?"
"Jangan ngerepotin aku," ucap Rumi sambil masuk taksi.
Azzura benar-benar dibiarkan kerepotan sendiri menaikan koper ke bagasi.
Taksi melanju setelah Azzura naik, menuju rumah susun murah di kota London.
"Terima kasih," ucap Rumi pada sopir taksi saat membayar ongkos di depan gedung rumah susun. .
Azzura dan Rumi turun dari taksi.
"Sudah kubilang gak usah ikut, pasti kamu akan merepotkanku," ucap Rumi saat mereka masuk ke dalam area rumah susun.
Rumi melihat tangga dan koper. Menggaruk kepalanya yang tak gatal. Koper ini pekerjaan rumah yang berat karena Rumi tinggal di lantai empat dan rumah susun ini tak memiliki lift atau eskalator.
"Jangan libatkan aku," ucap Rumi naik meninggalkan Azzura dan kopernya.
Azzura menatap kesal Rumi.
"Bener-bener 1000% mokondo. Modal tenaga aja gak mau," gerutu Azzura.
Azzura kemudian naik beberapa langkah sambil mengangkat kopernya. Dia ingin menangis karena koper ini sungguh berat, tapi dia tak punya pilihan selain mengikuti Rumi.
Rumi yang tak tega, ia kembali turun dan menggangkat koper Azzura sampai lantai empat. Pinggang dan tangannya serasa mau patah.
Azzura kembali menarik kopernya setelah mereka sampai di lantai empat. Rumi lemas kehilangan semua tenaganya. Dia langsung tidur di kasur setelah membuka pintu rumah. Dan meninggalkan Azzura dengan rasa canggung.
"Hei, ini beneran rumahmu?" tanya Azzura heran karena baru petama kali melihat rumah seperti ini.
"Bisa betah ya orang tinggal di sini?" ucap Azzura melihat sekeliling.
Rumah dengan satu ruangan ini terasa sempit bagi Azzura. Semuanya berada dalam satu ruangan. Kamar tidur, dapur, ruang tamu. Hanya kamar mandi dan ruang jemuran saja yang memiliki sekat.
Azzura kemudian duduk di sofa.
"Ya, ampun aku gak mungkin bisa tidur ditempat kaya gini," ucap Azzura.
"Rumi, aku pinjam hpmu mau pesan tiket pesawat," panggil Azzura.
Tak ada jawaban dari Rumi. Rumi serius lelah dan ngantuk. Dia sudah kehilangan banyak tenaga dan waktu istirahat sejak beberapa hari lalu untuk pentas kemarin malam, ditambah bertemu Azzura yang pingsan.
"Orang ini benar-benar sudah tidur?" tanya Azzura sambil melangkah mendekati kasur Rumi.
Dilihatnya wajah Rumi intens. Kenangan saat duduk di bangku kelas tiga SMA terlintas.
Kelas masih sepi. Rumi selalu menjadi orang pertama yang datang. Dia tak pernah bicara pada siapapun setiap harinya, hanya duduk di bangkunya yang berada dipinggir jendela luar. Telinganya menggunakan earphone kebel berwarna hitam, matanya tertutup seperti orang tidur, dan bagian terbaiknya sinar matahari pagi yang menerpa wajahnya membuat Rumi nampak seperti malaikat.
"Dia masih tampan seperti dulu," batin Azzura kemudian mengalihkan pandangan mencoba menepis pikiran itu.
Ini bukan hal yang aneh, ini bukan perasaan cinta. Semua orang pasti akan mengatakan Rumi adalah pria tampan jadi sangat wajar.