Azzura menatap kesal roti lapis dan minuman soda yang berada di meja, tepat di hadapannya. Lalu, pandangannya beralih ke Rumi yang sedang lahap menyantap roti lapis jenis yang sama.
"Kamu serius melakukan ini?" tanya Azzura kesal.
Rumi tak mau menjawab rengekan Azzura. Dan berusaha tetap menikmati roti lapisnya.
"Aku gak pernah makan makanan kaya gini, Rumi. Ini junk food," ucapan Azzura membuat beberapa orang yang duduk didekat mereka menoleh.
"Diamlah, kamu menganggu orang makan," ucap Rumi kesal.
"Dasar, mokondo!" Azzura tak sengaja mengumpat Rumi dengan julukanya semasa sekolah. Ada sedikit rasa bersalah mengatakan itu, tapi nampaknya tak berarti apapun untuk Rumi, dia tetap menikmati makanannya.
"Makalah kalau kamu lapar, masih untung gak kubeliin cilok sama es cekek!" balas Rumi karena mengatainya mokondo.
Perutnya sudah tak kuasa menahan lapar. Semalam ia melewatkan makan malamnya, pagi-pagi tidak sarapan, masa ia tak makan siang juga. Tangannya terpaksa membuka bungkus roti lapis itu. Digigitnya roti itu perlahan.
"Gak buruk kan? Bersyukurlah aku gak ngajak kamu ngelakuin dumpster diving (mencari makanan yang masih layak di tempat sampah supermarket)"
Azzura mengerlingkan mata.
"Kamu gak berubah dari jaman sekolah, tetap mokondo!" ucap Azzura kali ini tak ragu.
"Kamu gak berubah dari jaman sekolah. Menganggapku sebagai mokondo! Padahal kamu gak sadar sudah menghabiskan uang tabunganku selama tiga bulan dalam satu hari," ucap Rumi kesal.
"Aku kan bilang akan kuganti,"
"Gak usah kamu ganti. Yang penting jangan muncul dihadapku lagi setelah ini."
"Akan kuganti, kamu pikir aku gak mampu?"
"Gak usah, aku pergi dulu. Jaga diri baik-baik!" ucap Rumi sambil pergi karena dia telah selesai menghabiskan makanannya.
Rumi membuang bungkus sisa makanannya lalu pergi.
Azzura yang tak mau ditinggal Rumi langsung memasukan semua sisa rotinya ke mulut.
"Heh, tunggu!" Azzura menyedot soda untuk membantunya menelan.
Lalu dengan cepat membuang sampah bekas makanannya dan menyusul Rumi.
"Aku butuh bantuanmu sekali lagi," ucap Azzura saat mereka berjalan sejajar.
"Apalagi?" Rumi berhenti berjalan, dia terlihat sangat kesal.
"Ini yang terakhir dan akan kuganti semua uangmu plus tambahan 1000 pound,"
Tawaran itu terdengar menarik di telinga Rumi.
"Butuh bantuan apa?" Rumi tiba-tiba berhenti dan menatap tajam Azzura.
***
Azzura dan Rumi berdiri di depan pintu apartemen Davino. Azzura meminta Rumi untuk mengantarkannya mengambil barang.
"Kenapa?" tanya Rumi melihat Azzura tampak ragu untuk masuk.
"Gak kenapa-napa," ucap Azzura kemudian menekan password.
Pintu terbuka. Harusnya Davino tak ada di apartemen karena ia sedang kuliah.
"Duduklah, aku akan ambil barang-barangku dulu," ucap Azzura.
"Azzura?" Davino tiba-tiba muncul dari kamar.
"Kamu akhirnya kembali, aku udah nunggu kamu," ucap Davino dengan senyum penuh rasa bersalah. Ia lalu bersimpuh di hadapan Azzura.
"Aku mau ambil barangku. Kita udah selesai, udah putus sejak semalam," ucap Azzura tegas.
"Jangan gitu, Azzura!" pinta Davino sambil memegang tangan Azzura kencang.
"Sakit, Vin!" rintih Azzura.
"Hei, lepasin tanganmu. Dia kesakitan, tuh," relai Rumi malas.
"Hah? Siapa dia Azzura?" tanya Davino baru sadar kehadiran Rumi.
"Temenku, tolong lepasin aku!" Azzura berhasil menghempaskan tangan Davino.
Davino lalu berdiri
"Owh, aku paham sekarang, kamu semalam pergi dari aku dan HB sama dia?"
"HB, HB terus isi otakmu!" ucap Azzura kesal.
"Terus ngapain kalau gak HB? Makan kuaci semaleman? Kamu datang ke tempat dia cuma pake lingerie. Gak mungkin dong dia cuma puk-pukin kamu biar tidur nyenyak," sinis Davino.
"HB-HB, apaan sih HB. Gak ngerti!" potong Rumi masih bersikap cuek.
"Hubungan badan," jawab Azzura.
"Se* maksudnya?" Rumi kaget karena dituduh seenak jidat oleh Davino.
"Lo kalau gak tahu apa yang dialami gue pas ketemu sama dia mending diem aja, deh. Gue yakin lo yang salah sampai-sampai Azzura ninggalin semalem. Dah Azzura cepet bawa barangmu!"
Rumi ingin cepat-cepat pergi dan mendapatkan uangnya dari Azzura.
Azzura mengangguk dan masuk kamar.
"Azzura tunggu, mau kemana kamu?"
"Hem," Rumi menggeram sambil mengahalangi Davino.
"Minggir!"
"Biarin dia bawa barangnya," ucap Rumi garang.
Namun, Davino si anak jalanan tak takut dengan gertakan seperti itu. Dia langsung melayangkan tinju ke wajah Rumi.
Rumi langsung mengindar dan mengunci tangan Davino ke punggungnya.
"Jangan banyak gerak nanti bisa patah tanganmu," Rumi memperingatkan Davino.
Davino tak mau kalah dan terus memberontak. Mau tak mau Rumi sedikit mengencangkan pegangannya.
"Aw!" teriak Davino kesakitan.
"Itu belum membuat tanganmu patah, jadi jangan lebay," peringatan Rumi sekali lagi.
Usaha Davino tadi menyadarkannya bahwa tenaga Rumi jauh lebih kuat darinya. Dia akhirnya diam karena bergerak sedikit saja mungkin tangannya akan patah.
"Cincin!" ucap Azzura saat keluar kamar.
"Itu cincinku. Aku gak mau kita putus."
"Cek jari tengah tangan kirinya," ucap Azzura pada Rumi.
"Ini?" ucap Rumi sambil mengangkat cincin.
"Pria tukang selingkuh dan berotak m***m kaya kamu. Gak pantes nerima cincin dari aku. Jangan hubungi aku lagi," ucap Azzura sambil melayangkan tangan lagi, tapi kali ini tangannya terhentinya. Ia takut Davino pingsan lagi. Azzura lalu memilih pergi.
Rumi melepaskan kuncian Davino dan berjalan mundur megawasi Davino. Mencegah ia menyerang dari belakang.
Davino tak bisa berbuat apa-apa melihat wanita pujaannya pergi. Baginya, Azzura adalah wanita spesial yang berbeda dari wanita lainnya. Dia tak tersentuh, anggun dan sempurna.
Keluarga mereka pun sudah saling kenal dan berharap hubungan dirinya dan Azzura berlanjut. Davino tak mau kehilangan Azzura dan dia juga tak mau keluarganya tahu kalau penyebab putusnya mereka berdua adalah kesalahan Davino.
"Azzura, aku gak akan ngelepaskanmu," sumpah Davino.