Syarat menikah yang diberikan Putra Handoko pada Azzura membuat mata Azzura terbelalak. Selama ini obrolan menikah belum pernah keluar dari siapapun di rumah ini. Jadi, dia berpikir keluarga ini santai dalam urusan pernikahan.
"Apa mereka mulai membicarakan ini karena usiaku sekarang sudah 28 tahun?" batin Azzura.
"Kenapa, kamu nggak sanggup?" Putra Handoko sengaja menantang Azzura. Ia paham kalau Azzura tak akan mau kalah jika diremehkan. Dia tipe anak yang kompetitif sejak kecil.
"Gak masalah," ucap Azzura penuh percaya diri.
Tentu saja, Azzura merasa percaya diri dengan tantangan Putra Handoko karena Azzura memiliki kekasih, Davino, yang sangat mencintai dirinya. Sudah pasti Davino mau jika diajak menikah.
"Tapi, perjanjian ini harus ditulis hitam di atas putih, oke?" tantang Azzura balik.
"Oke, nanti kita atur jadwal untuk mengurusnya."
"Setuju," ucap Azzura semangat.
Putra Handoko mengulurukan tangannya yang disambut baik oleh tangan Azzura.
"Ingat pernikahannya harus terjadi tahun ini. Jika kamu tidak menikah tahun ini maka 5% saham tidak akan Kakek berikan," ucapan Putra Handoko mengejutkan Azzura.
***
Cahaya lampu putih terang langsung menusuk pandangan Azzura, membuatnya menyipitkan mata. Tubuhnya terasa lemah, tapi lebih baik dibandingkan sebelumnya. Mungkin karena cairan infus yang sudah masuk ke tubuhnya.
Azzura terbaring sendirian dikelilingi tirai biru muda, suara samar orang-orang di sekitarnya mulai terdengar jelas, ingatan terakhir pun mulai jelas di kepalanya.
Pertanyaan pertama kepalanya, "siapa yang membawaku ke sini?"
Orang itu menyebutkan namanya dengan jelas. Apa itu Mika? Temannya yang tinggal di London juga? Tapi itu terdengar seperti suara lelaki. Apa itu Davino? Tapi tak terdengar seperti Davino.
Tubuhnya lemah dan perutnya lapar, Azzura ingin cepat keluar dari sini. Dia baru ingat tak sempat makan apapun sejak turun dari pesawat. Si Davino b******k itu, bahkan tak menyuguhkannya segelas minuman.
Air mata Azzura menetes saat ingat Davino. "Tukang selingkuh, pembohong, c***l, tak peka, jahat! Manusia jahat itu tak pantas hidup!" batin Azzura.
"Kamu udah sadar?" tanya seseorang menggunakan bahasa Indonesia.
Azzura menengok ke sumber suara. Seorang pria tampan muncul dari balik tirai. Tangan kanananya masih diam di tirai hendak menyibaknya. Ia menyipitkan mata, memokuskan pandangan pada lelaki yang tak asing wajahnya. Sebelas tahun tak berjumpa, wajahnya tak mengalami perubahan yang jauh.
"Rumi Zafran Malik?" tanya Azzura memanggilnya dengan nama lengkap.
"Azzura Qalesya Handoko nomor absen kedua di kelas," panggil balik Rumi lengkap dengan nomor absennya.
Tak disangka, saat pingsan di London, Azzura malah ditolong teman sekelasnya di kelas dua belas SMA yang tak pernah ia lihat lagi sebelas tahun lamanya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Azzura lemah.
"Karena kamu pingsan di depanku," jawaban Rumi benar, tapi bukan yang dimaksud Azzura.
"Maksudku, kenapa kamu ada di London? Bukan itu juga, maksudku, kenapa kamu ada di depanku pas aku pingsan? Maksudku, kebetulan ini terasa aneh."
"Kamu gak diberi anastesi, tapi kenapa seperti orang linglung. Jangan banyak bicara, akan kupanggilkan perawat," Rumi pergi.
Seorang dokter dan seorang perawat datang setelah mendapatkan laporan dari Rumi bahwa Azzura sadar.
"Pasien baik-baik saja. Boleh pulang kalau vitaminnya sudah habis," ucap dokter pada Rumi.
"Gak perku di CT scan atau semacamnya? Karena dia nampak aneh, tak seperti dirinya yang biasanya."
Dokter menggelengkan kepala karena sepanjang pemeriksaan Azzura nampak sehat. Dia hanya flu, kecapean dan kelaparan. Setelah istirahat yang baik dan makan yang baik Azzura akan pulih kembali.
Dokter dan perawatpun pergi setelah tidak ada pertanyaan lagi.
"Makanlah itu dari rumah sakit," ucap Rumi menunjuk nampan makanan di atas meja kecil.
Nampan itu berisi bubur, s**u dan sebuah apel.
Azzura mengambil s**u untuk mengganjal lapar dan menghilang dahaga.
"Berapa nomor keluargamu biar aku telepon," ucap Rumi sambil mengeluarkan gawai.
"Aku lapar," ucap Azzura setelah menenguk sebotol s**u hingga habis.
"Makan bubur itu," saran Rumi.
"Aku tak mau, warnanya terlalu pucat."
Rumi menarik napas panjang karena kesal penderitaannya belum berakhir, "Akan kubelika makanan."
"Tunggu," cegah Azzura.
"Aku gak mau makan di sini,"
"Tapi Dokter nyuruh kamu abisin vitamin itu baru boleh pulang," Rumi menunjuk labu infus yang menggantung.
"Aku udah baikan, cuma laper."
"Di luar dinging mantel kita basah," tolak Rumi.
Azzura menatap Rumi dengan sedih.
***
Pada akhirnya, Rumi kalah dengan tatapan sedih Azzura dan bersedia mengantarkan Azzura ke sebuah mall.
Azzura langsung masuk ke sebuah toko pakaian mencoba beberapa setel baju dan mantel. Setelah menemukan yang cocok dia langsung memakainya.
"Bayarkan dulu."
"Ha? Aku juga yang bayar? Uangku hampir habis karena membayar biaya rumah sakitmu."
"Nanti uangnya aku ganti," ucap Azzura pada Rumi di kasir.
"Dasar mokondo," batin Azzura.
Rumi mendekat ke kasir mengeluarkan kartu ATM.
"Maaf kartunya tak bisa,""
"Memang berapa totalnya?"
"2000 pound,"
"Hah? Sampai 2000 pound," ucap Rumi kesal sambil melirik Azzura.
Azzura hanya mengangguk santai seolah itu bukan hal yang besar.
Terpaksa Rumi menggunakan kartu kredit untuk membayar pakaian itu.
"Ayo kita makan dan langsung pulang," ajak Rumi.
"Sepatuku gimana? Kamu gak lihat aku pakai sepatu basah? Dan lihat, ini sepatu cowok."
Rumi tak bisa menahan Azzura. Kali ini ia harus mengeluarkan 1000 pound untuk sepatu yang dibeli Azzura.
"Dasar wanita gila! Aku saja gak pernah membeli barang-barang semahal ini," batin Rumi.
"Sekarang, ayo makan," ajak Azzura menuju sebuah restoran mewah.
"Kali ini biar aku yang nentuin," cegah Rumi.
"Kamu punya rekomendasi restoran enak?" tanya Azzura semangat.
"Ya, semacam itu," ucap Rumi sambil berjalan.
Azzura percaya bahwa Rumi punya rekomendasi restoran enak karena dia tinggal di sini.
Rumi berjalan ke lantai satu dan masuk ke sebuah restoran cepat saji.
"Tunggu, Rumi," cegah Azzura.
"Kenapa?" tanya Rumi sudah tahu apa yang akan dikatakan Azzura.
"Kamu gak akan ngajak aku makan di sana kan?"
"Kenapa emang?"
"Kamu ingatkan, kantin sekolah kita aja gak bolehin makanan yang kaya gini, kamu mau ngajak aku makan di sini?"
"Terserah!" ucap Rumi sambil masuk ke dalam restoran cepat saji itu.