4. Alasan Menikah

859 Kata
"Jadi, kamu peringkat nomor satu saat ujian kemarin?" tanya Putra Handoko dengan wajah bangga pada cucu keduanya, William Edward Handoko. Willy mengangguk dengan tenang sebagai jawaban. "Hahaha." Lelaki berusia 85 tahun ini tertawa bangga. Tawa itu diikuti oleh Bagus Handoko dan Indira, kedua orang tua Willy yang sama merasa bangga. Sheryl Arlena Handoko, cucu bungsu di keluarga Handoko nampak jijik dengan perbincangan ini. Sementara, kakak tertua mereka, Azzura tak menampilkan reaksi apapun. Ia tetap tenang menikmati steak berbalut emas yang dihidangkan sebagai menu makan malam ini. Ketenangan Azzura tiba-tiba terusik saat Indira, ibu tirinya, mulai membicarakan perusahaan. "Kalau Willy bisa lulus sebagai peringkat terbaik di Universitas Kanada, apa ada hadiah kelulusan untuk Willy?" tanya Indira. "Tentu saja harus ada," jawab Putra Handoko bersemangat. "Apa itu?" tanya Indira tanpa tahu malu padahal mulai kuliah saja belum. "Mobil? Rumah? Apa saja boleh," ucap kakek. "Kalau posisi strategis di perusahaan?" tanya Indira hati-hati. Putra Handoko tak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia berganti menatap Willy. Ada ketegangan di wajah Indira, ia takut jika dianggap lancang oleh mertuanya. Ada ketegangan juga di wajah Azzura, ia tak senang jika Willy tidak melalui proses yang sama seperti dirinya. "Tentu boleh," jawab Putra Handoko sambil tertawa lagi diikuti oleh tawa Indira dan Bagus Handoko. Azzura mendengkus tak suka dengan jawaban kakeknya. Usai makan malam, Azzura mendatangi kakeknya di kamar untuk protes. Azzura berjalan kesal sambil hatinya mengoceh. "Apa-apaan itu? Membuatku jengkel saja!" batin Azzura sambil berjalan tetapi wajahnya tetap santai. Saat sampai di depan pintu kamar Putra Handoko, Azzura berpapasan dengan Irwan, male nanny atau orang yang dipekerjakan untuk merawat dan membantu aktifitas sehari-hari Putra Handoko. "Kakak Azzura," Irwan tampak terkejut dengan kedatangan Azzura. "Aku akan menemui Kakek," ucap Azzura dingin. "Kakek baru saja selesai minum obat dan akan tidur," jawab Irwan mencoba menghalangi Azzura bertemu dengan kakeknya. "Minggir!" ucap Azzura yang merasa jalannya terhalang oleh Irwan. Akhirnya, Irwan menyingkir karena tak mau menimbulkan masalah, ia tahu sikap Azzura keras kepala. Dok dok dok. "Satu, dua, tiga," hitung Azzura dalam hati. Kemudian Azzura langsung masuk setelah hitungan ke tiga. Putra Handoko yang masih duduk bersandar di ranjang tidak terkejut dengan kedatangan Azzura. Ia sudah bisa menebak kalau malam ini akan dilabrak oleh cucunya. "Kenapa Kakek berbicara seperti tadi?" tanya Azzura kesal tapi manja. Hanya pada Putra Handoko, Azzura menunjukan sisi manjanya. "Seperti apa?" Putra Handoko melihat Azzura dari atas kacamatanya. "Menjanjikan posisi strategis untuk Willy. Kakek sudah berjanji untuk mengutamakanku." "Kakek akan terus mengutamakanmu." "Itu namanya tidak mengutamakanku kalau aku dibiarkan merangkak dari anak magang, sedangkan Willy langsung dapat 'posisi strategis'," Azzura mendengkus kesal. "Duduklah dulu, leher Kakek pegal jika harus melihatmu berdiri," perintah Putra Handoko. Azzura menurut dan duduk di sofa samping ranjang. "Kenapa kamu selalu gak suka sama Adik-adikmu, Kak?" tanya Putra Handoko tenang. Azzura terdiam. "Meskipun lahir dari Ibu yang berbeda tapi Ayah kalian sama. Kalian harus saling menyayangi," nasihat Putra Handoko. "Aku justru melindungi adikku dari sikap bergantung pada keluarga. Dia harus belajar dari bawah, apalagi dia anak laki-laki," bantah Azzura dengan wajah setengah kesal. "Benarkah itu?" selidik Putra Handoko. "Lagi pula, kenapa kakek nuntut aku untuk menyayangi istri Ayah dan anak-anaknya, sih? Mereka aja gak menyayangiku." "Indira sudah berusaha untuk menyayangimu selama ini." "Enggak, tuh. Menantu Kakek itu cuma menyayangi anak-anaknya aja. Kakek enggak ingat dulu aku lebih dulu masuk di Universitas terbaik di Australia dengan beasiswa? Meskipun nilaiku tidak menjadi yang terbaik saat ujian masuk, tapi nilai itu lebih besar daripada punya Willy sekarang. Dan aku gak pernah denger tuh menantu Kakek membangga-banggakanku seperti dia membanggakan Willy atau bahkan meminta jabatan kepada Kakek untukku." Putra Handoko tidak ingin mendebat Azzura lagi karena bukannya selesai pasti akan tambah runyam. "Ya sudah kalau begitu. Kamu harus tetap percaya kalau Kakek paling menyayangi Kakak," ujar Putra Handoko berusaha meredam amarah cucunya yang kekeh pendirian ini. "Awalnya aku yakin kalau Kakek satu-satunya orang yang paling menyayangiku, tapi setelah mendengar Kakek menjanjikan 'posisi strategis' untuk Willy bikin aku gak percaya lagi. Gak ada yang menyayangiku dirumah ini kalian semua terus ngelanggar janji. Dulu pas aku minta Ayah gak nikah lagi dia bilang iya, tapi setengah bulan kemudian ayah bawa pulang istri baru, tanpa kita tahu kapan mereka nikah. Dulu aku minta kepada istri Ayah untuk gak ngusik foto Ibu dia malah nyingkirin foto Ibu dan ganti sama foto keluarga yang baru. Lalu sekarang, Kakek berjanji akan mengutamakanku, tetapi dengan mudahnya memberikan 'posisi strategis' buat Willy saat dia lulus nanti." Ia benar-benar meluapkan semua emosinya pada Putra Handoko. "Maafin Kakek. Kakek nggak mau kehilangan kepercayaan darimu. Kalau begitu...," Putra Handoko memikirkan sesuatu sebelum melanjutkan kalimatnya, "Kalau begitu...untuk mengembalikan rasa percaya Kakak Azzura kepada Kakek, Kakek kasih Kakak Azzura 5% saham, gimana?" Azzura terkejut mendengar ucapan Putra Handoko. "Saham? Kakek serius?" tanya Azzura tak percaya. Putra Handoko memang gemar menghadiahkan saham pada anak cucunya, tapi itu biasanya diwaktu tertentu. Seperti acara kelulusan SMA dan penikahan dengan nilai 1% saja. Jika Azzura mendapatkan 5% saham lagi maka selisih saham miliknya dengan Bagus Handoko hanya 2%. "Serius, masa bercanda," ucapnya sambil tersenyum. "Aku mau," ucap Azzura semangat. "Tapi tunggu sebentar, ada satu syarat." "Syarat? Apa itu?" tanya Azzura penuh semangat. "Menikahlah, dengan pria yang baik dan mencintaimu." "Menikah?" pekik Azzura.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN