Langkah kaki Rumi terhenti di depan gerbang besi yang menjulang tinggi. Cahaya lampu taman menerangi pekarangan luas yang tetap terawat, meski ia tak pernah lagi menapakinya selama bertahun-tahun. Rumah itu masih sama, mewah, megah, tetapi terasa asing. Di kepalanya, suara kakak perempuannya masih bergema. Dingin. Tajam. Penuh tuntutan yang dulu membuatnya pergi tanpa menoleh ke belakang. Kakaknya selalu mengintimidasi, menyalahkan apapun pada dirinya, tidak pernah setuju dalam banyak hal, mengkritik apapun yang ia lakukan dan berharap ia menghilangkan untuk selamanya. Tin. Sebuah mobil membunyikan klakson. Rumi berbalik, tapi tak bisa melihat jelas karena cahaya lampu sorot. Pintu mobil terbuka, seorang pria usia 43 tahun turun dari dalam mobil. Dia rapi mengenankan stelan jas berwana

