Villain: Chapter Tujuh

1681 Kata
"Apa yang terjadi?" tanya Dionald sambil menoleh pada Jeffrey yang sedang mengusap peluh di dahinya "Seorang warga kejang tiba tiba. Keracunan makanan." jawab Jeffrey singkat Dionald mengangguk mengerti dan menatap Jeffrey yang saat sini sibuk mengedarkan tatapan ke sekitar. "Mencari sesuatu?" Jeffrey menoleh dan mengangguk "Aku tidak melihat Shanna." Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya berdiri dan menepuk nepuk celana nya yang kotor karena duduk di tanah. "Aku akan pergi. Sampai jumpa." pamitnya pada Dionald Dionald menatap Jeffrey dengan tatapan datar sebelum akhirnya seulas senyuman miring terlukis di wajahnya. "Carilah dia, Jeffrey. Kau tidak akan menemukan nya sampai kapan pun." gumam Dionald ♾♾♾♾ "Apa?! Shanna tiba tiba menghilang?!" seru Ryan sambil menatap Jeffrey dengan raut terkejut "Aku sudah mencarinya kemana mana tapi dia tidak ada. Ketika aku mencoba menelfon nya, ponsel milik Shanna justru tertinggal di tenda." sahut Jeff sambil menyodorkan ponsel Shanna pada Ryan Ryan menerima nya dengan tergesa. Dia membuka ponsel milik Shanna dan memeriksa riwayat panggilan milik Shanna. Lalu tatapan nya teralihkan pada riwayat aplikasi yang Shanna pakai sebelum menghilang. Ada Email masuk dari Jiro Tanaka yang mengabarkan jika terjadi keadaan darurat di perusahaan. "Ah, sepertinya dia pergi ke perusahaan. Ada Email dari Jiro Tanaka." ujar Ryan Jeffrey menghela nafasnya lega. Rasa panik karena Shanna menghilang membuat nya panik hingga tidak ingat untuk membuka ponsel milik Shanna. "Ah benar. Mungkin saja." gumam Jeffrey "Lagipula besok kita akan kembali ke rutinitas biasanya. Acara amal sudah selesai. Jadi tak apa jika Shanna pulang malam ini." ujar Ryan Jeffrey mengangguk dan berpamitan pada Ryan untuk kembali ke tenda. Malam sudah semakin larut. Mata dan tubuhnya sudah meraung raung meminta untuk diistirahatkan. Apalagi mengingat jika sejak pagi dia sibuk memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat. Jeffrey berjalan cepat menuju tenda nya. Dia menyempatkan diri mengganti celana panjang nya dengan training. Dia membaringkan tubuhnya. Menatap teman satu profesi nya sudah terlelap dan mungkin sudah menjelajah alam mimpi di tempat tidur lainnya. Matanya sudah akan terpejam ketika suatu argumen masuk ke dalam kepalanya. "Jika Shanna membuka ponselnya sebelum akhirnya pergi, bukan kah seharusnya ponsel itu ada bersama nya saat ini?" gumamnya dengan mata terpejam Hening sejenak. "Shannaya bukanlah orang yang ceroboh." gumamnya lagi Jeffrey seketika membuka kedua matanya. Tubuhnya tersentak kecil ketika menyadari jika kepergian Shanna bersamaan dengan Dion yang tidak turun membantunya menangani warga tadi. Jeffrey langsung mengambil jaketnya. Dia memakainya sedang sedikit tergesa dan berjalan cepat menuju tenda besar dengan sebuah lambang L besar di pintu masuknya. Tanpa berbasa basi, dia langsung memasuki tenda milik Dion. Dia menemukan pria itu sedang berbaring nyaman di tempat tidur miliknya. "Dion, bangunlah. Ada yang ingin aku tanyakan." ujar Jeff sambil menepuk pelan kaki Dion Dion yang memang mudah di bangunkan langsung membuka kedua matanya dan menatap Jeff dengan satu alis terangkat. "Apa?" "Saat ada warga yang kejang, dimana kau berada? Kenapa tidak membantu ku?" tanya Jeff "Aku menjadi fotographer dadakan untuk Annie. Kau tahu dia harus menjaga image nya sebagai 'Ibu Peri'" jawab Dion Jeff terdiam. Dia memang sering melihat Dionald yang diminta oleh Annie untuk memfotonya. "Kenapa kau bertanya?" tanya Dion Jeff terdiam sejenak "Hanya sekedar penasaran karena aku tidak melihatmu saat itu." "Yasudah. Hanya itu yang ingin aku tanyakan. Maaf mengganggu." lanjut Jeff sambil beranjak keluar dari tenda Dionald Apa Jeff langsung percaya seperti itu? Tentu saja tidak. Setelah keluar dari tenda milik Dionald, Jeff langsung memasuki tenda base camp yang berisi obat obatan. Dia memeriksa stok obat yang terdata, terpakai dan sisa obat dari acara amal hari itu. Dahinya berkerut ketika tidak menemukan apapun yang janggal atau ketidak-akuratan dari jumlah obat yang ada. Jumlah yang tertera dalam catatan dan jumlah obat aslinya memang sama. "Apa Shanna memang pulang?" gumam nya ♾♾♾♾ Sementara kesadaran Shanna perlahan lahan mulai pulih. Dia juga merasakan jika tekanan udara yang di terima nya sedikit lebih dingin. Belum lagi dengan suara berisik khas baling baling yang sangat familiar di telinga Shanna. 'Helikopter.' batin Shanna "Kau kira apa yang akan boss lakukan padanya?" Dengan jelas, Shanna dapat mendengar jika ada beberapa suara tawa yang menyahuti pertanyaan itu. 'Ada berapa orang di sekeliling ku?' pikirnya Kepalanya yang di tutup oleh kain hitam membuatnya tidak bisa melihat apapun. Hanya kegelapan hampa yang dapat dilihat olehnya. Tapi hal itu juga merupakan suatu keuntungan bagi Shanna. Asalkan dia bisa mengatur nafasnya agar tetap tenang dan tidak banyak bergerak, orang orang ini tidak akan tahu jika Shanna sudah tersadar dari pengaruh obat bius yang di suntikan Dionald. "Boss sepertinya akan memperlakukan dia seperti seorang boneka." sahut suara berat yang lain "Kalian tidak lupa kan jika perempuan ini adalah penyebab ayah boss Dionald mendekam di penjara." ujar suara lain "Sejujurnya, akal sehatku masih ada. Mendengar cerita boss yang satu itu, jelas yang bersalah adalah ayahnya. Perempuan ini tidak bersalah sama sekali." Shanna juga mendengar suara terakhir yang agak jauh dari posisi nya. Mungkin dia adalah pilot atau... Orang lain? "Akal sehatmu masih ada tapi kau justru bergabung dengan kami menculik wanita ini!" seru suara pertama "Aku butuh uang. Istriku akan segera melahirkan. Lagipula tugasku hanya menjadi pilot untuk saat ini. Setelah mengerjakan ini, aku menerima bayaran dan akan segera pergi dari negara ini untuk hidup berdua dengan istriku." Shanna terdiam mendengarnya. Begitupun para pria yang berada di sekeliling nya. Hingga beberapa menit kemudian, percakapan kembali dimulai. Sementara Shanna hanya bisa terdiam sambil memperkirakan jumlah pria yang ada serta apa yang harus dia lakukan untuk melawan mereka. '3 orang pria di sekitarku dan 1 lagi adalah seorang pilot. Jadi ada 4 pria yang mungkin harus aku hadapi.' batin Shanna 'Tapi kemana aku akan pergi? Sudah berapa lama sejak aku diculik oleh Dionald?' lanjutnya "Hei kau!" panggil seseorang "Periksa perempuan itu! Dia tidak terlihat hidup." lanjut suara itu "Apa aku harus membuka kain ini?" sahut suara lain "Ya, buka kain itu. Sekedar periksa apakah dia masih hidup atau tidak." ujar suara pertama Shanna dengan cepat menutup kedua mata nya ketika merasa jika kain yang menutup wajahnya ditarik lepas. "Sepertinya dia masih ada di bawah pengaruh obat bius. Sudah lebih dari satu jam sejak kita membawa nya. Apa memang obat bius sekuat itu pengaruhnya?" tanya si orang kedua "Entahlah. Semua itu berdasarkan dosis yang di pakai oleh boss Dionald. Semakin besar dosis nya, semakin lama dia tersadar. Tapi aku tidak mengetahui secara pasti berapa lama." sahut si pilot Dapat Shanna rasakan jika wajahnya kembali di tutup dengan kain hitam itu. "Bersiaplah. Sebentar lagi kita akan mendarat." ujar si pilot Para pria itu berseru senang. Begitupun dengan Shanna yang sedikitnya sudah memikirkan apa yang harus dia lakukan nanti. Jelas saja jika dia hanya bisa melawan ketika kedua kaki nya sudah menyentuh tanah. Dia tidak bisa membayangkan jika dia berhasil melawan para pria ini di ketinggian berpuluh puluh meter dari permukaan tanah. Memang nya apa yang akan dia lakukan setelah berhasil mengalahkan semuanya diatas udara? Melompat? Sama saja dengan ide bodoh dan konyol. Lagi pula, Shanna tidak bisa mengemudikan sebuah Helikopter. Hal yang sia sia jika dia menghabisi para orang orang itu diatas udara. 'Jika Dionald dalang dari kejadian ini, maka dia tidak akan meminta harta.' pikir Shanna 'Dia menginginkan hal yang lebih. Entah kematian ku... Atau sesuatu yang lain.' lanjutnya Beberapa menit kemudian, Shanna merasa jika heli yang di tumpangi nya mulai terbang rendah. Telinga dan tubuhnya merasakan dengan jelas jika baling baling dari heli dan tekanan udara yang di rasakan nya sudah sedikit berbeda dibandingkan tadi. "Baiklah, sudah sampai." ujar seseorang Tak lama kemudian, dapat Shanna rasakan jika tubuhnya diangkat oleh seseorang. Tangan nya terasa sakit karena simpul tali yang diikat oleh salah satu dari mereka. Belum lagi dengan lehernya yang pegal karena harus terus menunduk agar tidak ada seorang pun yang sadar jika Shanna sudah tidak terpengaruh obat bius. Dapat Shanna rasakan jika orang orang ini berjalan melewati gemerisik rumput. Hingga sekitar 5 menit kemudian, dapat Shanna dengar jika seseorang dari mereka membuka sebuah pintu. Entah sudah berapa suara pintu terbuka yang Shanna dengar sebelum akhirnya Shanna merasa jika dirinya di dudukan di sebuah kursi kayu. Tubuhnya bahkan diikat di kursi tersebut agar tidak jatuh. "Tinggalkan dia. Boss bilanya besok dirinya akan kemari dengan Nona Annie." perintah salah satu suara itu pada temannya yang lain Shanna menunggu beberapa lama hingga suara derap langkah dari orang orang itu semakin menjauh. Dia mendengar suara pintu ditutup, disusul dengan sebuah kuncian pintu dan derap langkah pelan yang tidak terdengar lagi setelahnya. Shanna langsung menggerakan lehernya yang terasa kaku. Dia menegakkan kepalanya beberapa saat untuk menghilangkan pusing di kepalanya. Dia juga menegakkan tubuhnya. Tangannya yang terikat di belakang tubuhnya pun dia gesekan perlahan lahan, mencoba agar ikatan itu sedikit longgar dan bisa membebaskan kedua tangan nya. Cukup lama Shanna melakukan itu hingga pergelangan tangannya terasa panas dan mulai perih. "Ikatan nya tidak mau melonggar." decak nya pelan Shanna kembali menggerakan kedua tangannya. Berharap usaha nya membuahkan hasil biarpun sedikit. Tapi nyatanya, ikatan itu tidak melonggar sama sekali. Menyerah dengan keadaan, Shanna kembali melemaskan tubuhnya untuk bersandar pada sandaran kursi. Tubuhnya yang kelelahan, lemas karena tidak ada asupan makanan sejak siang dan ditambah dengan rasa terbakar di pergelangan tangannya membuat Shanna kesal setengah mati. Shanna mendesah kesal. Dionald bukan orang yang bodoh. Dia pintar dan orang yang terencana. Shanna yakin jika Dionald sudah merencanakan hal ini sejak lama. Dia mengajak Annie bekerja sama hanya sebagai topeng. Annie yang bodoh tentu saja dapat di manfaatkan dengan mudah. Tubuhnya kedinginan karena hanya memakai kaos putih dan celana denim biru. Tidak ada mantel ataupun jaket yang dapat menghalau Shanna dari angin malam yang berhembus dari sela sela ventilasi. Satu satunya yang bisa di syukuri hanyalah kaki nya yang tidak diikat. Karena jika Shanna mencoba meronta ronta dengan kaki terikat, dapat dipastikan dia akan terjatuh dari kursi dengan suara keras dan akan memancing atensi dari orang orang suruhan Dionald. "Untuk pertama kali nya, aku membutuhkan sebuah keajaiban." gumam Shanna :: Author Note:: Hai semua! It's been a long time sejak aku publish chapter pertama. Setelah satu bulan, akhirnya aku bisa Say Hi ke kalian semua. Did you enjoy the story? Kalau iya, boleh dong minta Tap Love nya? It will boost my Energy to update this story. Thanks~ :: End of Author Note::
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN