Villain: Chapter Sembilan

2029 Kata
Shanna menatap aliran air yang ada di bawah kaki nya. Dia harus melalukan ini daripada mati di tangan kedua saudara nya yang kejam. Setelah sebelumnya dia di sekap, di lecehkan dan kini akan di bunuh. "Mereka gila! Demi kekuasaan mereka bertindak sejauh ini." gumam Shanna Dia tersentak kaget setelah mendengar suara teriakan yang semakin mendekat. "BERHENTI, NONA! KAMI HANYA INGIN MENGAJAKMU BERSENANG SENANG." Shanna menatap enam laki laki bertubuh besar yang berlari hendak menuju ke arahnya. "Astaga, lagi?!" kesalnya Dia mengambil pistol kecil yang tadi sempat dia rampas dari salah satu dari mereka. Dia mengkokang pistol itu dan mengarahkan moncong senjata itu pada salah satu dari mereka. "Pergilah ke Neraka" umpat Shanna. Dia tersenyum tipis ketika melihat orang yang menjadi target nya tewas dengan lubang di bagian d**a. Shanna kembali menatap air di bawahnya sebelum akhirnya melompat dari ketinggian 30 meter. Tidak! Bukan melompat! Tapi seorang pembunuh bayaran yang tadi melesatkan satu tembakan pada Shanna kembali melesatkan tembakan lain tepat di bahu Shannaya. Hal itu membuat tubuh lemas Shanna dengan mudahnya terhempas ke belakang dan terjun bebas ke dalam air. 'Jika aku mendapat kesempatan untuk hidup kembali, aku akan membalaskan dendam ku. Akan aku tunjukan siapa penjahat yang sebenarnya.' Kilas balik kehidupannya turut mengiringi Shanna. Bersamaan dengan tubuhnya yang melayang di udara. Sebelum akhirnya, terhempas masuk ke dalam air yang dingin. Gelap. Kilas balik kehidupannya yang selama ini di siksa secara perlahan oleh Annie dan Dion, tanpa sadar.. Membuat Shanna membawa dendam bersama dengan kematiannya. 'Mereka tidak akan mendapatkan persetujuan dari ku untuk merampas The Legiond. Jika aku mati, maka kakek sendiri yang akan menunjuk langsung penggantiku.' Rasa lelah dan keputusasaan nya membuat nya menyerah. Dia membiarkan tekanan gravitasi di dalam air yang menariknya masuk semakin dalam. Semakin dalam hingga menyentuh titik tergelap dalam air itu. Nafasku... Semakin berat. Selamat tinggal. Sampai jumpa, di kehidupan yang lainnya. ♾♾♾♾ Rachell terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu. "Sayang? Kau baik baik saja?" tanya Ryan khawatir Rachell mencengkram selimut nya. Dia menatap Ryan dengan sendu sebelum akhirnya menangis terisak. "Aku tidak akan baik baik saja selama Shanna belum ditemukan." lirihnya Ryan menghela nafasnya dan memeluk Rachell dengan erat. "Sabar ya? Aku sudah memerintahkan semua anak buah ku untuk mencarinya." sahut Ryan Shanna tidak di temukan sejak dua hari yang lalu. Ternyata dia sama sekali tidak kembali ke rumah. Semua pilot pribadi maupun co pilot yang bekerja pada The Legiond sama sekali tidak mengantar Shanna pulang. Jiro Tanaka bahkan terkejut ketika Ryan bertanya tentang Shanna padanya. "Nona Shanna? Bukan nya dia masih berada bersama kalian untuk acara amal?" Jiro bahkan menunjukan sebuah Email dari Shanna yang mengatakan jika Shanna masih harus melaksanakan acara amal hingga beberapa hari ke depan. Hal itu membuat Ryan frustasi dan memerintahkan semua bawahannya untuk mencari informasi tentang hilangnya Shanna. Dia bahkan menaikan berita ini ke media dengan imbalan yang besar bagi siapapun yang menemukan Shanna. Hal itu membuat banyak orang berfikir jika Shanna mungkin kabur dan melarikan diri dari tugas nya sebagai pemimpin The Legiond. Tapi hal itu di tepis dengan berbagai argumen yang mengatakan jika Shanna justru selalu bekerja tanpa tekanan. "Aku bermimpi... Shanna kita berada di tempat yang gelap dan dingin. Dia kesakitan dan kelelahan." lirih Rachell "Itu mungkin hanya sekedar bunga tidur. Kamu kelelahan dan cemas karena Shanna menghilang." gumam Ryan menenangkan "Tolong, cari Shanna disemua tempat. Aku yakin dia tidak baik baik saja sekarang." pinta Rachell Ryan tersenyum tipis dan mengusap pipi istrinya yang basah karena air mata. Dia mengecup kedua mata istrinya dengan lembut. "Pasti. Aku pasti akan menemukan anak kita segera." ujar Ryan lembut Sejujurnya, Ryan cemas. Ponsel milik Shanna bahkan tertinggal begitu saja. Hal itu akan menyulitkan untuk melacak keberadaan Shanna. Dia kembali mengingat benda elektronik apa yang Shanna pakai sebelum menghilang. Matanya melebar ketika mengingat jika Shanna memakai jam tangan pemberian nya yang di pasang sebuah alat pelacak secara diam diam olehnya. "Sayang, diam di rumah ya. Aku harus pergi ke kantor untuk melakukan sesuatu yang mungkin dapat membawa Shanna kembali pada kita." pinta Ryan Rachell mengusap air matanya dan mengangguk. Dia mencium pipi Ryan sebelum berkata "Hati hati." Ryan mengusap rambut Rachell dan mengangguk. Dia segera turun dari ranjang, memakai jas nya dengan tergesa dan segera keluar dari kamar. Dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menahan diri untuk tidak menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. Tangannya meraih sebuah earphone dan langsung memasangkan benda itu ke dalam telinga nya. "Ya, Tuan?" sahut suara dari sebrang "Aku ingat jika Shanna memakai jam tangan yang aku berikan. Disana sudah kau masukan sebuah chip pelacak. Bisa kau cari dia lewat benda itu, Ned?" tanya Ryan "Tentu, Tuan. Jam itu bahkan tahan di dalam air. Tidak akan sulit mencarinya." sahut Ned, seorang hacker handal yang bekerja di bawah Legiond Tech Sahutan Ned membuat Ryan tersenyum tipis. Tidak salah dia mempekerjakan laki laki berusia 18 tahun itu. Ryan menunggu beberapa saat hingga dia mendengar suara Ned yang terkesiap. "Aku sudah menemukan titik koordinat nya, Tuan. Tapi sepertinya anda harus datang kemari. Karena sepertinya anda familiar atau bahkan mungkin mengenali tempat ini." seru Ned Ryan mengerutkan dahinya dan bergumam "Aku akan segera sampai. Tunggu aku di ruanganku." "Siap, Tuan!" sahut Ned Ryan mematikan sambungan telfon nya dan segera mempercepat laju mobilnya. Terlebih ketika melihat jalanan yang sepi dan bebas hambatan. Hingga beberapa menit kemudian, Ryan sudah sampai di perusahaan miliknya. Dia memberikan kunci mobilnya pada petugas Vallet dan langsung memasuki perusahaan dengan tergesa. Dia bahkan tidak memperdulikan sapaan dari beberapa karyawan nya. "Bagaimana?" tanya Ryan dengan nafas memburu ketika memasuki ruangan nya Ned, pria itu masih menunduk dengan kacamatanya menatap laptop di depannya. "Lihat ini, Tuan. Aku berhasil menemukan titik koordinat yang terdapat pada jam tangan milik Nona Shannaya." sahut Ned Ryan berjalan mendekat dan turut menatap layar laptop di depannya. "Sebuah pulau?" tanya nya Ned mengangguk dan menatap Ryan dengan tatapan tidak yakin "Sejujurnya pulau ini adalah sebuah pulau pribadi. Apa mungkin Nona Shanna pergi kesana?" tanya nya Ryan menggelengkan kepalanya "Aku sudah bertanya pada semua pilot dan co pilot yang bekerja pada Legiond. Tidak satupun dari mereka mengantar Shanna pergi. Dia seolah olah menghilang di telan bumi." Ned terdiam sejenak. Dia menatap orang yang mengajak nya bekerja di perusahaan besar itu dengan ragu ragu. "Pulau pribadi ini dijual oleh salah seorang pengusaha dari Amerika satu setengah tahun yang lalu. Pulau nya terdapat di dalam negara ini, lebih tepatnya dekat dengan pulau besar yang terletak di bagian Utara negara ini." ujar Ned ragu ragu Ryan mengalihkan tatapan nya pada Ned "Ada informasi lain yang bisa kau dapatkan?" tanya nya "Sesuai yang aku ucapkan tadi. Pulau ini dijual satu setengah tahun yang lalu dan langsung mendapatkan pembeli disaat itu juga..." sahut Ned menggantung "Dan?" "Dan pulau itu kini beralih nama atas nama Legiond." lanjut Ned dengan suara pelan "APA?!" seru Ryan "Tapi tidak mungkin itu milik Shanna. Dia selalu bilang jika ingin membeli sesuatu." ujar Ryan Ned mengangguk. "Kita mungkin bisa mencari tahu siapa pemiliknya? Itu pun jika Tuan Ryan mengizinkan." sahut Ned Ryan terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng "Nanti saja. Asalkan aku sudah mengetahui dimana anak ku berada." Ned terdiam sejenak. Matanya kembali melirik sebuah titik merah yang berkedip dari layar laptopnya. Dia menghela nafasnya. "Titik ini berasal dari Nona Shanna. Tapi dia tidak ada di pulau itu." ujarnya Ryan kembali menatap Ned dengan pandangan bingung "Lalu?" "Titik ini ada beberapa meter dari tepi pulau. Tepatnya dari sebuah sungai besar dengan kedalaman tidak lebih dari 25 meter dari permukaan tanah." sahut Ned Dan kali ini, Ryan tidak bisa membiarkan jantung nya berdetak dengan tenang. ♾♾♾♾ Dionald mendongkak ketika mendengar suara Heli tidak jauh dari posisi nya. Dan tidak lama kemudian, Heli itu mendarat sempurna di pekarangan rumah nya. Dia berjalan cepat memasuki Heli itu. Wajahnya yang datar terlihat mengerikan dengan darah yang terciprat disana sini. "Jika aku tidak mengetahui itu kau, aku yakin 100% jika aku akan mengira kau adalah monster." komentar Annie yang sudah duduk di dalam Heli menunggu Dionald "Diamlah." desis Dionald "Jadi Shanna bunuh diri?" tanya Annie "Anggap saja begitu. Biarpun aku tidak berhasil membunuhnya, tapi jika dia sudah mati, setidaknya tidak akan ada lagi penganggu. Kakek akan segera menunjuk pengganti Shanna." jawab Dionald Heli nya kembali naik. Membelah langit dengan kecepatan nya. "Aku justru lebih harus waspada pada Uncle Ryan atau Aunty Rachell. Keduanya punya pengaruh besar. Kau tidak lupa jika Uncle Ryan adalah pemilik dari perusahaan yang menciptakan senjata dan bodyguard profesional, kan? Belum lagi dengan keluarga Aunty Rachell. Shannaya adalah cucu kesayangan dua keluarga yang berpengaruh pada perekonomian negara. Entah apa yang terjadi jika Shanna masih hidup dan melaporkan hal ini pada mereka." gusar Annie "DIA SUDAH MATI, ANNIE! DIA SUDAH MATI!" teriak Dionald Annie terlonjak kaget dan menatap Dionald kesal "TIDAK PERLU BERTERIAK! AKU HANYA INGIN AGAR KAU BERHATI HATI!" Dionald menghembuskan nafasnya kesal dan menyandarkan tubuhnya. Berusaha rileks dan tidak memikirkan hal lain. "Tidak perlu khawatir. Shanna sudah mati. Kita harus merayakan hal ini dengan menari diatas pemakaman nya." ujar Dionald Dia melirik Annie yang terdiam dengan wajah kesal. Akhirnya dia mengambil sebuah tissue basah dan mengusap darah di wajahnya agar tidak mencurigakan. Pakaian nya yang penuh darah sudah di ganti dengan pakaian baru. Hanya saja dia tidak sempat membersihkan bercak darah di wajahnya. "Sebenarnya apa pekerjaan mu hingga bisa membeli semua ini?" tanya Annie "Apa maksudmu dengan 'semua ini'?" sahut Dionald "Heli, sebuah pulau yang cukup besar, pembunuh bayaran hingga orang orang yang dapat kau perintahkan." jawab Annie "Tentu saja sebagian besar dari Nona muda kesayangan kita. Uang yang dia kirim setiap bulan bisa digunakan untuk membayar orang orang itu. Dan jika di kumpulkan selama setahun, uang darinya dan gaji ku selama ini bisa untuk membeli sebuah pulau." jawab Dionald Annie terdiam dan melirik Dionald. "Dan... Sebagian lagi kau tidak perlu tahu." lanjut Dionald ♾♾♾♾ "Siapa kau?" Shanna menoleh dengan kening berkerut ketika menatap sosok pria di hadapannya. Sepasang tanduk dan sayap hitam seakan menegaskan jika laki laki yang bertanya tadi bukanlah manusia. "Seharusnya aku yang bertanya. Siapa kau?" sahut Shanna "Seharusnya aku sudah mati. Tapi nyata nya aku terdampar di antah berantah." ujar Shanna Pria di hadapannya terkekeh ketika menatap wajah datar Shanna. Dia seakan tidak ketakutan melihat tempat yang penuh dengan nuansa merah. "Ini tempat ku, Nona. Kerajaan Iblis." ujar Damian, pria yang tadi bertanya pada Shanna Shanna terkekeh. "Wow, apa aku sebegitu jahatnya hingga Dia langsung mengirim ku ke Neraka? Bahkan kerajaan Iblis?" tanya Shanna Damian mengamati Shanna. "Mungkin Malaikat bingung dimana harus menaruhmu. Kau bukan orang baik, tapi kau juga bukan orang jahat." jelas Damian "Apa yang sebenarnya sudah kau lalui hingga aura mu bahkan menakuti pelayan ku?" tanya Damian Shanna melirik beberapa makhluk yang berada di belakang Damian. Makhluk pendek yang tinggi nya tidak lebih dari satu meter dan memiliki sepasang tanduk itu nyata nya mengkerut ketakutan di bawah tatapan datar Shanna. "Aku bunuh diri. Setidaknya hal itu jauh lebih baik daripada harus mati terbunuh karena pembunuh bayaran yang diperintah oleh saudara saudara ku." jawab Shanna Damian menyeringai. Sepertinya gadis di depannya tanpa sadar membawa dendam yang gelap dan pekat saat kematian nya. 'Menarik. Apa harus aku jadikan dia Ratu di kerajaan ku?' Damian semakin tertarik ketika melihat aura Shanna yang hanya manusia biasa bisa membuat pelayan iblis nya ketakutan. "Dan kau akan membiarkan saudara saudara mu menari di pemakaman mu?" Shanna terdiam. Tangannya mengepal erat membayangkan Annie dan Dion menari di atas pemakaman nya. "Jangan biarkan itu terjadi, Shanna. Kau harus tetap hidup dan buat saudara mu itu menelan kekecewaan." ujar Damian. Semakin menyeringai senang ketika melihat aura Shanna yang semakin menggelap. "Tidak mungkin aku bisa kembali hidup. Aku sudah mengambil keputusan untuk membunuh diriku sendiri." sahut Shanna datar "Aku bisa membantu mu. Menjadi perisai dan membantu mu dalam mewujudkan semua keinginan mu." balas Damian. Dia berjalan mendekat pada Shanna dan mengusap pelan wajah Shanna. "Bagaimana?" desak Damian. Dia jelas benar benar tertarik dengan aura Shanna dan akan melakukan apa saja agar bisa menjadikan Shanna sebagai miliknya. Shanna menatap Damian dengan yakin sebelum akhirnya mengangguk pasti. Damian menyeringai senang. Jika dia menginginkan nya, maka dia harus mendapatkan nya. Damian menunduk, mengambil tangan kanan Shanna dan menecupnya perlahan. "Sure, My Lady. Keinginan mu adalah perintah bagiku." :: Author Note:: Huh, Damian ╥﹏╥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN