-37- Perkataan Dahayu kemarin sore masih terngiang di telinga Zayan. Pria bertubuh tinggi itu berulang kali memijat pelipis yang hari ini tak henti-hentinya berdenyut. Sebetulnya Zayan tahu pasti penyebabnya adalah karena beban pikiran yang menumpuk dan membuatnya benar-benar bingung. Indah yang mengetuk pintu berulang kali akhirnya mendorong pintu ruang kerja Zayan karena tidak juga mendapatkan jawaban salam dari bosnya tersebut. Gadis berjilbab oren itu melongokkan kepala dan memandangi Zayan yang tengah bersandar di kursi kerja sambil memejamkan mata. "Pak," panggilnya dengan suara pelan, sedikit khawatir bila dirinya akan mengganggu waktu istirahat Zayan. "Hmm?" Zayan membuka mata dan melirik ke Indah yang masih berdiri dengan canggung di dekat pintu. "Rapat dengan PT. Anugera

