Tidak mungkin!
Aku sudah terlambat datang bulan selama dua Minggu, apakah artinya aku hamil?
Ah! Tidak mungkin.
Aku langsung lemah, kakiku tidak kuat menopang tubuhku hingga aku tersandar di dinding toilet, tidak peduli bagaimana joroknya tempat ini.
Perutku yang rata aku sentuh dan mengusapnya, apakah Tuhan sedang menguji diriku?
Benarkah aku hamil? Sudah lima tahun aku berumah tangga dengan Mas Guntur, aku sangat menunggu momen-momen terlambatnya datang bulan, itu adalah mimpiku, begini kah rasanya terlambat datang bulan? Benarkah aku hamil? Pertanyaan yang sama terus menari-nari di dalam benakku, namun tidak ada jawabannya yang pasti.
"Sayang, kamu kenapa?" Mas Guntur datang membawa sebotol air mineral, wajahnya terlihat cemas, dengan berhati-hati dia menuntunku untuk berdiri, kemudian membawaku keluar dari toilet.
Aku masih syok, tidak bisa berkata apa-apa.
"Syala, kamu sakit?" Mas Guntur menyentuh dahi ku, aku hanya menggeleng.
"Tapi kenapa? Jangan-jangan kamu hamil Sya." Mas Guntur menatapku penuh pengharapan.
Tapi aku lekas menggeleng "Tidak mungkin Mas, Aku baru saja datang bulan." Cepat aku berdusta, kalaupun aku hamil aku tidak ingin di ketahui oleh mas Guntur.
Jika ada yang bertanya apa aku egois, tentu saja aku egois, karena mas Guntur telah menggores kepercayaan serta luka yang teramat dalam di hatiku.
"Lho, biasanya kamu datang bulan di awal bulan, bukan di pertengahan bulan." Mas Guntur sepertinya tidak percaya, tentu saja dia tidak percaya karena aku sebenarnya tidak pandai berbohong, lagi pula aku rutin memberinya nafkah batin, bahkan setiap malam.
"Aku tidak pandai berbohong seperti dirimu Mas, lagipula apa untungnya berbohong."
"Maaf Sya." Mas Guntur tertunduk mendengar ucapanku, satu kesalahan mas Guntur berhasil menjadi senjata sekaligus tamengku, mas Guntur tidak akan pernah berkutik lagi dengan diriku.
"Aku mau pulang, kepala ku pusing." Ku pijit kepalaku pelan karena mulai terasa berdenyut.
"Baiklah, tapi kita izin dulu sama ibu dan Kasih ya, Mas khawatir mereka akan terlalu lama menunggu." Ya, mereka harus di beri tahu.
Aku dan mas Guntur kembali masuk kedalam ruangan Kasih di rawat.
"Pokoknya dalam waktu dekat kamu harus hamil Kasih." Sebelum kami membuka pintu suara ibu sudah menyapa indera pendengaran kami.
kan
"Tapi Bu mana bisa, aku harus selesai empat puluh hari dulu kata ibu baru bisa melayani mas Guntur." Kasih keberatan atas saran ibu yang terdengar sangat gila.
"Alah, itu tradisi yang sudah kampungan, kita ini sudah zaman modern Kasih, mana pakai lagi petuah dulu, kalau darah nifas kamu sudah berhenti kamu bisa langsung melayani Guntur, kamu mau di tikung sama Syala, kalau kamu lambat hamil bisa-bisa kamu yang di ceraikan oleh Guntur." ucap ibu lantang sekali, aku sampai menelan ludah mendengarnya. Ternyata begitu besar keinginan ibu untuk menyingkirkan ku menjadi menantu, sampai dia harus menghasut menantunya yang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan.
Aku memandang pada mas Guntur yang hampir membuka daun pintu, ekspresi nya terlihat biasa saja, tidak ada raut terkejut ataupun cemas setelah mendengar ucapan ibunya.
"Bu, aku tidak mau di ceraikan sama Mas Guntur, aku cinta mas Guntur Bu, aku akan menuruti apa yang ibu sarankan kepadaku." Lanjutnya lagi.
Benar-benar di luar nalar, entah Kasih terlalu polos atau dia benar-benar telah cinta pada mas Guntur, sampai harus rela melayani mas Guntur walaupun habis melahirkan.
"Nanti ibu carikan obat agar darah nifas kamu segera berhenti." Tambah ibu mertuaku lagi.
"Ayo masuk." Mas Guntur menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya masuk kedalam ruangan.
Aku yang memang lemas dan pusing terpaksa mengikuti langkah mas Guntur, kali ini aku tidak bisa menolak.
"Assalamu'alaikum Kasih, Ibu." Mas Guntur memberikan salam sebelum masuk, aku tau mas Guntur sedang memberikan kesan bahwa kami tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Lho lho, kok kalian kembali lagi, gimana? Sudah selesai administrasinya? Kita bisa pulangkan?" Tanya ibu mertuaku dengan wajah pias, dia pasti sedang berusaha menutupi kegugupannya di depan aku dan mas Guntur.
"Aku mau izin antar Syala pulang dulu ya Bu, dia lagi tidak enak badan." Mas Guntur masih menggandeng tanganku erat di depan ibu dan Kasih.
Mata Kasih seperti ingin keluar saat melihat tangan kami bergandengan, aku yang menyadari hal itu segera merapatkan diri pada lengan mas Guntur dan menyandarkan kepalaku di sana.
Apa tujuanku, tentu saja membuat Kasih dan ibu cemburu, dari pembicaraan mereka tadi aku semakin penasaran senekat apa rencana mereka untuk menendang ku keluar dari kehidupan mas Guntur.
"Kami mau kamu kemana kan Gun, selesaikan administrasi rumah sakit kita sama-sama pulang nya." Tentu saja ibu tidak setuju.
"Ibu sama Kasih sabar dulu menunggu di sini, aku mau cari pinjaman dulu, sama teman-teman kantor atau kalau kalau kepepet gadai surat rumah sama rentenir."
Aku terkejut atas jawaban mas Guntur, dari sekian banyak solusi dia memilih menggadaikan sertifikat rumah kepada rentenir, ah! Benar-benar mas Guntur, rupanya dia belum matang, bantuanku soal keuangan di dalam keluarga ini rupanya tidak membuat dewasa, kekurangan uang yang ku tutupi selama ini membuat mas Guntur manja.
"Apa?" Ibu tidak kalah sama dengan aku, bahkan mukanya berlipat-lipat saat mendengar mas Guntur ingin menggadaikan sertifikat tanah. "Jangan bercanda kamu Gun, hanya mencari duit sepuluh juta kok sampai harus menggadaikan sertifikat rumah sama rentenir, gak, ibu tidak setuju!" Bukan saja terkejut kali ini ibu lebih nampak murka kepada mas Guntur.
"Tidak ada jalan lain Bu, zaman sekarang mana ada yang mau pinjamkan duit sebanyak itu tanpa jaminan Bu, ibu kira sedikit uang sepuluh juta, banyak Bu." Mas Guntur tidak kalah diam, mungkin karena dia pusing mencari uang sepuluh juta.
"Mas, aku pusing." Aku pun langsung mengambil peran untuk membuat mas Guntur bertambah pusing, dengan cara menyek-menyek manja semoga mas Guntur terpancing emosi lalu menalakku, aku berharap seperti itu.
"Sabar sayang, ayo kita pulang." Alih-alih emosi mas Guntur bicara dengan lembut padaku, sepertinya mas Guntur sangat ingin menjaga perasaanku.
Dulu aku sangat bahagia di perlakukan seperti ini, tapi itu dulu, sebelum mas Guntur menikahi Kasih sebagai istri keduanya.
"Guntur! Kamu benar-benar ya, yang sakit itu Kasih karena baru saja melahirkan, yang sedih itu Kasih karena baru saja kehilangan anaknya, kok kamu seperti tidak peduli sama dia!" Melihat kemesraan kami, ibu yang terpancing emosi, amarahnya meledak-ledak sampai menunjuk wajah kami.
"Bu sudah, hiks hiks hiks." sedangkan Kasih berusaha memeluk ibu sambil menangis, entah apa yang di tangisan wanita itu, semakin kesini karakternya semakin tidak jelas, entah dia wanita yang benar-benar dia cupu atau dia suhu.
Aku perlu mendalami karakter wanita itu, untuk melihat titik masalah yang terjadi di dalam keluarga ini! Siapa sebenarnya yang menjadi malaikat dan siapa yang menjadi setannya.