Naufal berjalan cepat ke arah suara jeritan keras dari para sandera. Dia mendengar tiga kali bunyi tembakan. Mungkin saja sudah ada korban jiwa di sana. Namun, setelah berjarak lima puluh meter dari arah sandera, dia mematung sedetik melihat objek anak manusia yang sedang meringis sakit sambil mengusap tangan dan badannya. Anak kecil itu tak memakai pakaian kain, hanya koteka. Mata Naufal tidak sedang berilusi, benar anak itu adalah anaknya. Tanpa pikir panjang Naufal berlari sekuat tenaga memasuki daerah musuh. Ketua kelompok pemberontak menekan pelatuknya dan …. Bugh! Dor dor dor "Tidak!" terdengar suara teriakan Lia. Askan yang sedang memberondong tembakan ke arah anggota kelompok pemberontak melirik ke arah di mana Amir berada. Jantungnya hampir copot setelah melihat peluru me

