Wajah Amir terlihat tegang ketika dia melihat ayah angkatnya diperlakukan tidak manusiawi oleh orang-orang bersenjata. Pace diinjak kepalanya, sepatu dari salah satu anggota kelompok pemberontak itu menginjak pipi sang ayah angkatnya dan kepala Pace diletakan di atas tanah. Pipi ayah angkatnya mencium tanah. Wajah Amir memerah menahan marah saat melihat hal itu. Meskipun dia kecil dan nakal, namun dia memiliki rasa kasih sayang yang kuat antar keluarga dan sesama. Jingjing dan Cingcing yang berada bersamanya di dalam kamar Liben menggonggong dan mengeong. Mereka merasakan lapar karena satu hari ini tidak diberi makan. Bagaimana mereka bisa diberi makan saat semua orang disandera oleh kelompok pemberontak. Tidak ada satupun orang dewasa yang bisa memberi mereka makan. Sudah cukup

