45. Bukan Permainan

2078 Kata

*Joana PoV* "Maaf." Aku tak tahu kenapa Putra meminta maaf. Aku masih terpaku karena ucapan maafnya. Kulihat Putra beranjak dari duduknya dengan wajah cemas. Apa yang sedang terjadi? "Putra!" Dia tak mau menoleh ke arahku. Dia terus saja berlari tanpa menghiraukanku. Ah, sial! Ada apa dengan tunanganku itu? Kulihat seluruh pengunjung kafe melihat ke arahku. s**t!! Aku bisa malu kalau begini. Segera kuatur nafas, agar emosiku yang hampir meledak tak memuntahkan amarahnya. Kuambil satu lembar uang berwarna merah dan kutaruh di atas meja, aku harus segera menyusul Putra. Sejak kapan aku memanggilnya Putra? Sejak pertunangan kami, aku memutuskan untuk memanggilnya Putra, bukan lagi Uta. Apakah aku mencintainya? Entahlah ... aku merasa dia mengisi kekosongan yang ada di hatiku. Sebuah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN