“Kita pulang dulu, setelah ini baru kita pikirkan bagaimana ke depannya.” Rafan menyeka wajah Luna, merapikan rambut yang berantakan itu, baru kemudian menuntunnya masuk ke dalam mobil. Perjalanan kali ini benar-benar terasa sangat panjang. Selain lajunya pelan, juga Luna sering mabuk perjalanan sehingga harus berhenti dan berhenti lagi. Kadang terbesit rasa kasihan dan bersalah dalam diri Rafan sampai simpang siur dalam keputusannya. Satu sisi dia sangat menginginkan anak, tapi satu sisi lain dia tak tega melihat Luna harus menderita karenanya. Setelah dua jam lebih perjalanan, barulah mereka tiba di kampung Cibobrok. Dan betapa kagetnya mereka saat melihat para warga berdiri di depan rumah Rafan dengan spanduk. ‘Selamat datang calon bayi Pak RT dan Bu RT.’ Rafan bingung, siapa yang

