"Mau gak?" tanya Rafan sekali lagi. Dia menawarkan uang kepada Luna. Padahal sebelumnya sudah memberi mahar yang lumayan banyak, 2519 dinar, jika di rupiahkan sudah mencapai 124.595.000, uang dari hasil jerih payahnya sendiri. "Gak. Terlalu murah dan gue gak mau hamil." Lantang Luna memberi jawaban. Menikah saja sudah seperti mimpi, apalagi punya anak. "Kita udah nikah, apa salahnya punya anak." Menatap lamat-lamat manik mana Rafan oleh Luna. "Lo gak lagi kambuh kan?" "Gua sehat." "Enggak, lo sakit. Dulu rencana nikah gak sampai ke tahap ini loh. Dan ... dan untuk nganu pun karena penasaran terus keenakan. Sekarang lo mau gue hamil? Oh no, gue gak mau." "Meskipun begitu gua nikahi lu nyebut binti bokap lu, atas nama Allah, disaksikan semua orang dan tangan gua yang berjabat dengan bo

