bc

Sangkar Emas

book_age16+
280
IKUTI
1.2K
BACA
drama
tragedy
comedy
twisted
sweet
humorous
like
intro-logo
Uraian

Mega tidak pernah memiliki privasi atas hidupnya, dia bagai burung yang hidup dalam sangkar emas. Tidak ada rahasia yang dia miliki, tak ada boleh bantahan keluar dari bibir manisnya. Sedangkan semua teman sekolahnya bisa bergerak bebas berpendapat, sampai suatu hari dia bertemu dengan Bagas, lelaki yang bisa membuat dia merasakan indahnya kehidupan, bebas bersuara dan berpendapat. Lambat laun saling mengenal membuat rasa cinta hadir, akankah keduanya bersatu bersama?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
“Aku gak boleh buang-buang waktu, sebentar lagi mama bangun,” gumam seorang gadis perempuan yang bernama Savana Mega Shyam yang kerap dipanggil Mega. Gadis berusia lima belas tahun ini merupakan gadis yang sangat disiplin waktu. Ia bahkan bangun satu jam lebih awal ketimbang anggota keluarga yang lain untuk melaksanakan salat tahajud dan membaca ulang rangkuman yang ia buat semalam. Matanya begitu segar saat setelah wudhu. Jadi tidak ada alasan buruk untuk melaksanakan salat tahajud setiap hari. Mega juga menggunakan stopwatch supaya kegiatan lainnya tidak rusak hanya karena belajar terlalu lama. Sejak kecil, Mega selalu diajarkan untuk mengatur waktu dengan cara menuliskan kegiatan apa saja di sebuah buku kecil, tentunya disertai dengan seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukannya. Jika durasi tersebut kurang, Mega akan melanjutkannya besok karena jika ia melebihi batas yang ia buat itu akan merusak perencanaan yang Mega buat sebelumnya. “Mega, sudah bangun?” tanya Rinai Anggi—mama Mega yang kerap disapa Rinai. Dengan cepat Mega menjawab, “iya, aku sudah bangun, Ma.” Lalu Rinai tersenyum dan menyuruh Mega turun untuk sarapan bersama anggota keluarganya. Tidak ada percakapan yang menarik selama sarapan berlangsung. Semua fokus pada makanan masing-masing, hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar. Omong-omong, sarapan yang dimakan pagi ini adalah sandwich yang dibuat oleh koki keluarga karena seluruh anggota keluarga memiliki aktivitas produktif masing-masing, sehingga hanya untuk menyiapkan sarapan saja Rinai tidak sempat. “Gimana nilai kalian? Ada yang turun?” tanya kepala keluarga ini yang bernama Adhitiya Fikri Shyam. Seorang dokter yang memiliki penghasilan tinggi di bidang kesehatan. Baik Mega maupun Lintang—satu-satunya adik Mega menganggukkan. Tidak hanya produktif, mereka berdua merupakan siswa yang sering mendapatkan prestasi akademik. “Nilai Lintang bagus banget, Pa! Aku gak akan biarin temen-temen aku ngambil posisiku yang berharga ini!” seru Lintang dengan sifat cerianya yang tidak pernah hilang. “Bagus, Dek. Gak ada yang boleh rebut posisi kamu, kedua anak Papa harus jadi yang terbaik di sekolah,” ujar Adhitiya singkat. Tatapannya beralih pada Mega yang baru saja meneguk habis s**u rasa cokelat. Sifat Mega yang berkebalikan dengan Lintang itu membuatnya sangat tertutup sehingga Rinai harus menggunakan segala macam cara untuk mengetahui apa yang dialami Mega baik di rumah maupun di sekolah. Mega yang merasa ditatap oleh Adhitiya langsung berkata, “gak ada yang aneh. Semuanya normal-normal saja, kok.” Lalu Mega segera berangkat ke sekolah disusul dengan Lintang yang berlari membuntuti kakaknya. “Kak! Jangan ninggalin aku mulu, dong. Mana ada kakak yang suka ninggalin adeknya!” protes Lintang namun hanya mendapat lirikan dari Mega. Lintang dan Mega bersekolah di tempat yang sama yaitu SMP Negeri 13 Malang. Walaupun satu sekolah, Lintang dan Mega bahkan seperti dua orang asing yang sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Entah itu Lintang yang selalu berbaur dengan teman-temannya atau Mega yang terlalu banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Padahal tidak sedikit yang mengenal kedua kakak beradik yang sangat bertalenta di bidang apapun itu. Jika ada yang bertanya, tentu akan menjawab, “ya, kami kakak beradik.” Hanya sebatas itu lalu pertanyaan lain tidak akan mereka jawab. “Kak, nanti kalo mau ke tempat les, jangan tinggal aku. Tunggu aja di mobil, aku hari ini ada jadwal les juga,” pesan Lintang yang dibalas anggukan kecil dari Mega lalu mereka memasuki gerbang sekolah yang sudah dipenuhi dengan siswa-siswi yang baru saja datang. Tidak seperti Lintang yang disambut meriah oleh segerombol penggemar dan teman-temannya, Mega sama sekali tidak ada yang menyambutnya. Ia tidak memedulikan hal sepele itu, baginya terlalu norak dan tidak penting. Seorang laki-laki tiba-tiba muncul dan berjalan di sebelah kiri Mega. Dia adalah satu-satunya orang yang Mega anggap teman di sini. “Gue gak sengaja liat lo turun dari mobil bareng Lintang, jadi lo gue samperin, deh. Lumayan kan bisa ke kelas barengan,” celetuknya. Mega tersenyum tipis menanggapi celetukan temannya yang bernama Bagas itu. “Gue abis naroh tas mau ke kantin buat beli jus, lo ikut?” tawar Bagas yang langsung diangguki oleh Mega dengan semangat. Beberapa hari lalu ia melihat beberapa orang di kelasnya membawa sebuah cokelat keluaran terbaru, ia jadi tertarik untuk membelinya. Walaupun Bagas sudah berteman dengan Mega selama tiga tahun, Mega masih sering bersikap dingin. Terutama ketika ia marah atau pun ada masalah, Mega memilih untuk diam dan melampiaskannya dengan cara membaca atau pun mencatat sesuatu yang berguna. Setelah menaruh tas di bangku mereka masing-masing, dengan cepat segera melangkah menuju kantin sebelum menjadi sangat ramai. “Kok Bagas gak bosen-bosen ya sama cewek dingin gitu, jelas-jelas Mega gak ada apa-apanya dibanding gue,” bisik seorang siswa cantik yang tidak suka dengan kedekatan Bagas dengan Mega. Yah, tidak sedikit siswa di sekolah ini yang tidak menyukai kedekatan mereka. Terutama Bagas adalah cowok ganteng yang lumayan terkenal, banyak murid perempuan yang mengincar hatinya. Tapi tidak satu pun ada yang Bagas terima, walau dengan cara halus supaya tidak terlalu menyakiti hati mereka. Mega sama sekali tidak peduli dengan apa yang mereka katakan. Yang ia tahu, Bagas adalah laki-laki baik dan sudah menganggapnya sebagai teman, tidak lebih dan tidak kurang. Kantin pagi ini tidak terlalu ramai, Mega memutuskan untuk segera membeli cokelat yang ia mau. “Lo gak mau diem di sini dulu?” tawar Bagas. Tanpa ditanya pun Mega tidak akan pernah mau berdiam diri di kantin hanya untuk membuang-buang waktu. “Gue ke perpus aja.” Perpustakaan. Sebuah tempat paling tenang yang Mega temui setelah kamarnya, Mega bahkan rela menghabiskan berapa waktu pun untuk membaca buku-buku ini. Ada beberapa murid jalur beasiswa yang membaca buku sambil mendengarkan musik, ada juga murid yang hanya menumpang tidur. Dengan cepat, Mega segera mencari buku di bagian rak sains karena kebetulan ada ulangan, jadi sekalian saja me-review pelajaran yang sudah ia baca dipelajarinya di rumah. Walau hanya ditemani dengan sebatang cokelat yang baru saja dibeli, entah mengapa Mega tidak merasakan sebuah situasi yang bernama kesepian. Membutuhkan waktu lima belas menit untuknya membaca materi yang sudah dibacanya, ada beberapa latihan soal yang ia kerjakan dan hanya menghabiskan waktu tiga menit di tiap soalnya. Mega melirik jam tangan mahal yang ia kenakan, sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi, dengan segera ia bergegas keluar dari perpustakaan tanpa memedulikan mereka yang bermalas-malasan. *** “Baik anak-anak, kerjakan soal yang tersedia. Ibu tidak mau kalau ada satu soal kosong, ibu anggap langsung tidak mengikuti ulangan harian!” seru Bu Melati selaku guru IPA yang terkenal sangat galak dan tentunya pelit nilai. Mega tersenyum tipis ketika mendapati beberapa soal yang sama seperti yang ia pelajari, dengan lancar dikerjakannya tiga puluh soal uraian itu dengan tenang. Tidak seperti teman-temannya yang diam-diam mencari jawaban melalui situs web di kolong meja. Bukan hanya itu, ada juga yang berbicara melalui bahasa isyarat yang sama sekali Mega tidak mengerti apa maksudnya. “Pstt! Lo tau nomer lima belas gak?” bisik Olivia kepada rekannya yang duduk di bangku belakang Mega. “Ish, panjang banget jawabannya, tau. Search aja sendiri di web, gue copas dari sana kok,” jawab Usi. Terkadang, Mega juga terganggu dengan kegiatan contek-menyontek yang dilestarikan selama ini. Gunanya apa, sih? Lagi pula guru sudah menerangkan materi itu sebelum ulangan, bukankah sebaiknya mereka belajar bersama supaya hal ini tidak terjadi? “Gue males! Udah buruan bagi jawaban lo atau gue aduin ke guru,” ancam Olivia kesal. Dengan segera Usi menuliskan jawabannya di kertas HVS kosong. Dengan sangat terpaksa mengikuti kemauan Olivia karena Usi adalah murid yang masuk sekolah ini menggunakan jalur beasiswa. Terutama lagi, Olivia adalah murid dari kepala sekolah yang sekarang menjabat. Bisa-bisa beasiswanya ditarik dengan mudah jika sekali-kali mencari masalah dengannya. “Yang belakang, ada apa ribut-ribut itu?” tanya Bu Melati galak. Dengan spontan Olivia melemparkan penghapusnya ke arah Usi dan berkata, “enggak kok, Bu. Saya cuma mau ambil penghapus saya di bawah meja Usi.” “Jika ada yang menyontek, tidak segan-segan ibu keluarkan kalian dari kelas. Tentu saja rapot kalian di semester ini tidak akan ibu isi,” ungkapnya tajam membuat seluruh siswa ketakutan untuk menyontek. Tenang saja, walau Mega adalah anak paling pintar di sekolah ini, ia tidak akan mengadukan kepada guru, itu sama sekali bukan urusannya. Yang harus ia lakukan adalah menjadi lulusan terbaik dan bisa bersekolah di Tokyo seperti kemauan Rinai dan Adhitiya. Ada satu soal yang membuat Mega menghela napas lelah, yaitu soal yang memerintahkan bahwa ia harus menggambar organ pernapasan kucing. Mega ingat bagaimana bentuk dan bagaiannya. Tapi menggambar adalah salah satu hal yang tidak ia suka walau begitu Mega harus menggambarnya dengan baik dan benar sesuai apa yang ada di buku. “Sudah? Waktunya kurang lima menit lagi lalu cepat kumpulkan!” perintaah Bu Melati sembari berkeliling kelas untuk memastikan tidak ada satu kecurangan pun. Yah, mau seperti apa pun Bu Melati memeriksanya, anak-anak ini pasti memiliki cara untuk menyontek walau celahnya sangat kecil dan tidak memungkinkan. Dengan kemampuan Mega yang terbiasa membaca soal dengan cepat, ia bisa menyelesaikan ulangan ini saat waktu berakhir dalam waktu tiga menit lagi. “Harus diperiksa dulu,” gumamnya lalu membaca semua soal dan jawabannya dengan teliti untuk mengisi waktu yang semakin lama semakin menipis. “Tiga … dua … satu … ayo segera kumpulkan.” Murid-murid yang sedari tadi mengandalkan contekan hanya bisa pasrah dan segera mengumpulkan apa adanya. Berbeda dengan Mega yang takut jika nilainya turun satu angka dan ada yang lebih sempurna darinya. Walau pintar, Mega tidak pernah meremehkan teman-teman kelasnya. Dalam hatinya tertanam sebuah kalimat yaitu “Yang dipikirin itu soalnya, bukan saingannya” sehingga ia tidak pernah merasa bersaing dengan siapa pun termasuk ketika mengikuti olimpiade tingkat apa pun. Jika kita terlalu memikirkan lawan, kita tidak akan pernah bisa fokus kepada soal yang diberikan. Itu akan menghambat otak dan membuang waktu yang berharga. Mega melirik Bagas yang duduknya tak jauh darinya, ia juga salah satu siswa yang masuk sekolah ini menggunakan jalur beasiswa. Bagas terlihat tenang, sepertinya ia berhasil mengerjakan ulangannya dengan baik. Lagi-lagi Mega tersenyum tipis, bersyukur memiliki teman seperti Bagas. Walau Bagas adalah orang yang ceria dan mudah bergaul, ia tidak melupakan belajarnya. “Baik, untuk pembelajaran selanjutnya silakan buat makalah mengenai sel-sel hewan dan tumbuhan yang beranggotakan dua orang, dikumpulkan di pertermuan berikutnya, ya. Sekian jam IPA hari ini,” jelas Bu Melati lalu beliau segera pergi dari kelas IX A dan menuju kelas berikutnya. “Ribet banget, sih. Dikit-dikit makalah, dikira print ga pake duit, apa?” dumel Andy dan diangguki oleh siswa lainnya. “Tau tuh, awas aja pas rapotan nilainya pas-pasan,” sahut Mida ikut kesal. Jam berikutnya adalah Seni Budaya dan Keterampilan, Bu Endang yang menjadi guru sedang sakit dan tidak bisa mengajar hari ini, itu yang dikatakan Ari saat setelah mencari beliau. “Oh? Kalo gitu kita jamkos, dong?” tanya Olivia memastikan, dan Ari hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Seketika siswa yang merasa tidak memiliki tanggungan apa-apa segera keluar hanya untuk membeli makanan ringan atau sekedar air putih. Ada juga sekelompok perempuan yang bergosip ria, entah itu membahas kaum laki-laki atau pun bersikap nyinyir kepada seseorang. Bahkan Bagas pun ikut menimbrung hanya untuk membicarakan sesuatu yang tidak penting. Mega mengangkat pundaknya tidak peduli, lagi pula teman Bagas bukan hanya dia saja. Merasa bosan dengan keadaan jam kosong seperti ini, Mega mengeluarkan novel yang ia pinjam dari perpustakaan dan membacanya sejenak. Seringkali Mega diajak anak-anak kelas IX A untuk bermain atau pergi ke kantin bersama, tentu saja Mega tolak dengan halus ajakan mereka. Untuk apa? Buang-buang waktu saja. Saat sudah fokus ke dalam novel yang dibacanya, Bagas menepuk pundaknya sembari bertanya, “nanti kerja kelompok di mana?” Mega menimbang-nimbang keputusan untuk kerja kelompok, jika kerja kelompok di rumah Bagas tentu saja Mega akan diikuti oleh salah satu bodyguard yang bekerja di rumahnya. “Rumahku aja, kamu tau kan?” jawab Mega sembari memastikan bahwa Bagas tahu benar rumah Mega. “Tau, kok. Lagian rumah nenekku ada di deket rumahmu jadi ga susah nyarinya.” Dengan bangga Bagas menceritakan kakek neneknya yang tempat tinggalnya tak jauh dari rumah Mega, lebih tepatnya di kontrakan kecil yang berada di dekat pintu masuk perumahan yang dihuni keluarga Mega. “Ya udah, nanti setelah pulang sekolah jam tiga sore ke rumah, kalau ditanya satpam bilang aja kalo kamu temenku dan mau kerja kelompok pelajaran IPA, jangan lupa kasih tau kalau nama guru pengajarnya Bu Melati.” Setelah mengatakan kalimat yang super duper panjang itu, Mega langsung kembali pada bacaan novel yang sempat tertunda tadi. Sedangkan Bagas tercengang mendengar Mega yang berkata sepanjang itu. Memang hal ini adalah sesuatu yang termasuk kejadian langka, walau langka Bagas tidak akan membocorkannya kepada siapa-siapa supaya hanya Bagas saja yang tahu. *** “Eh, Tang! Tungguin gue dong!” teriak Melly, salah satu teman Lintang. Mereka berdua sedang menuju kantin karena suruhan dari Bu Ida tadi. “Lo yang kelamaan, anjir! Buruan makanya kalo jalan jangan kek siput!” semprot Lintang balik. Jalan menuju kantin tentu saja melewati kelas Mega yang terlihat ramai. Bahkan ada beberapa anak kelasnya yang bersantai-santaian di teras kelas tanpa takut ditegur oleh guru. “Permisi, Kak. Numpang lewat,” ucap Lintang sopan, walau kelakuannya saat bersama teman seangkatannya Lintang terkenal sebagai anak yang paling cerewet, ia tidak akan bertindak seperti itu apabila melewati angkatan diatasnya, terutama pada kelas Mega. “Oh? Lewat aja, Dek. Jalan umum kok.” Setelah mendapat respon, Lintang segera menarik tangan Melly untuk segera pergi dari sana. Supaya tidak menjadi bahan gosip. “Ish, gue mau liatin kak Bagas, tau. Tapi yang gue liat tadi malah kakak lo asyik baca novel,” papar Melly dengan wajah cemberut. “Yee … pikiran lo mah, Bagas mulu. Sekali-kali kek jangan pikirin tuh orang,” cibir Lintang kesal. Ia sangat heran dengan temannya yang satu ini, sangat terobsesi pada Bagas. Padahal melihatnya saja Lintang sudah tahu bahwa kakak kelasnya itu merupakan orang yang sangat pintar, yah walau tak sepintar Mega, sih. “Btw, kak Bagas itu temen deket kakak lo kan? Gimana kalo kita minta dia buat nyomblangin gue sama kak Bagas yang cogan itu?” tawar Melly dengan mata yang terlihat bersemangat. Lintang memutar bola matanya malas, jangankan Melly, ia saja sangat jarang berbicara dengan kakaknya. Itu pun jika Mega meresponnya walau dengan anggukan kepala, atau sepatah dua kata. “Gak, udahlah Mel jangan bucin terus. Pikirin juga tuh cowok-cowok yang ngejar elo.” Melly merupakan salah satu anak tercantik di angkatannya, jadi tidak heran berapa banyak siswa laki-laki yang mengejarnya. Mulai dari kakak kelas sampai angkatannya. Bahkan loker Melly juga dipenuhi surat, bunga, dan juga cokelat, itulah yang membuat Melly malas membuka lokernya. “Nggak, diliat dari sisi mana aja, kak Bagas emang cowok terbaik yang pernah gue kejar!” serunya bersikeras, jika sudah begini Lintang tidak bisa berbuat apa-apa selain terus menerus menolak jika Melly ingin Mega membantunya. Itu tidak akan pernah terjadi. “Terserah lo, intinya gue udah ngasih tau kalau kakak gue gak bakal mau ikut urusan kayak begini,” gumam Lintang pasrah. Ia sudah tidak peduli apakah Melly akan meminta bantuannya dan kakaknya atau akan bergerak sendiri.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
17.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.1K
bc

Kali kedua

read
222.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
47.3K
bc

Putri Zhou, Permaisuri Ajaib.

read
8.9K
bc

TERNODA

read
202.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook