Semilir angin yan berhembus membuat Sekar terlelap sebentar sambil duduk.
"Boleh aku meminta airnya?" suara seseorang terdengar menyapanya.
Sekar kaget dan tergagap seraya mendongak. Seorang pemuda tampan dengan pakaian ala keraton jaman dulu berdiri tepat didepannya. Gadis itu memandang pemuda didepannya dan terkesima. 'Wah...gantengnya' katanya dalam hati. Sekar mengerjab ngerjabkan mata. "Apa ini mimpi ya..." gumamnya lirih sambil mencubit kulit tangannya sendiri. belum pernah dia bertemu laki laki tampan nan rupawan seperti sosok didepannya ini.
Kulitnya kuning langsat, badannya tinggi proposional, rambutnya ikal hitam sebahu dengann sebuah mahkota diatas kepalanya. Ketampanannya mengalahkan bintang film yang sering Sekar tonton di layar kaca.
"Boleh aku meminta airnya?" Ulangnya, membuyarkan lamunan Sekar.
Sekar mengangguk dan meyodorkan botol minum yang ada disampingnya.
Pemuda itu meminum air dalam botol dengan tergesa.
"Habiskan aja airnya" ucap Sekar.
"Kamu dari mana dan mau kemana? Sepertinya kamu bukan orang sini?"berondong Sekar penasaran .
Laki laki itu menoleh dan menunjuk keatas gunung, Sekar mengikuti arah telunjuk pemuda itu.
"Asalku dari sana dan mau kesana"ujarnya.
"Kamu tersesat?" Sekar memandangi pemuda itu dari atas sampai bawah. ' Pakaian yang aneh' pikirnya, 'apa diatas lagi ada syuting film kolosal dan pemuda ini pemainnya ya' gumam Sekar dalam hati.
"Aku belum pernah keatas jadi aku tidak bisa mengantarmu kesana, kalau kamu mau ayo ikut aku kedesa biar Bapak Kepala Desa atau mas Muji yang mengantarmu ke jalur pendakian dan membawamu kembali keatas untuk menemui rombonganmu" lanjutnya lagi sambil bangkit berdiri, dikebas kebasnya pantatnya untuk membersikan rumput yang menempel.
"Tidak, aku tidak tersesat. Aku sengaja turun kesini untuk menemuimu, Sekar"
"Kamu mengenalku?" Sekar kaget saat pemuda itu menyebutkan namanya.
"Ya, aku mengenalmu. Aku sering melihatmu mencari kayu, menanam jagung di ladangmu bahkan saat kamu curi curi tidur di pondokan saat tak mau membantu embokmu, aku melihatnya"
"Betulkah?"Sekar tak percaya
"Tapi aku tak mengenalmu, bahkan ini kali pertama kita bertemu"kilahnya. Jika dia dari dulu mengenal pemuda tampan ini tentu sudah dia pacarinya dan dia bakal terlepas dari predikat ratu jomblo di kampungnya.
"Kamu memang tak melihatku, Sekar, tapi aku melihatmu karna kita berasal dari alam yang berbeda" jawab pemuda itu kemudian.
Sekar tertawa mendengar penjelasan tak masuk akal pemuda itu.
"Jika kamu tak percaya pegang tanganku dan pejamkan matamu, aku akan membawamu melihat pemandangan indah di atas sana" lanjutnya sambil mengulurkan tangan ke Sekar.
Walau tak percaya dan dengan keraguan hati Sekar menyambut uluran tangan pemuda itu dan mengikuti perintahnya untuk memejamkan mata. Baru sebentar dia pejam, terdengar bisikan lembut di sampingnya.
"Bukalah matamu, Sekar"
Saat Sekar membuka mata terlihat sebuah telaga biru didepannya, sangat indah dipandang mata. Burung burung berwarna putih bertengger di dahan ditepi danau. kupu kupu yang hinggap pada bunga yang tumbuh di tepi danau mempercantik pemandangan. Balum pernah dia kesini sebelumnya. Sekar kaget dan menoleh kesamping. Raut wajahnya menuntut penjelasan. Perasaan tidak ada lima menit dia menutup mata.
"Kamu benar benar membawaku ke atas bukit? Kamu siapa? jin,siluman atau hantu?" Sekar menjauh, sikapnya mulai waspada. Jika ada siluman yang menculiknya, entah dia tak bisa berbuat apa apa. Yang penting dia harus lari secepat mungkin dari sini jika itu yang terjadi.
Pemuda itu tergelak dan terawa saat melihat ekspresi takut Sekar.
"Aku Bayu Aji, rumahku dihutan ini. Kamu jangan takut Sekar, aku tidak akan menyakitimu, aku hanya akan memberitahumu bahwa kelak aku akan sering mengunjungimu"
"Mengunjungiku? Tapi kenapa? Apa selama ini aku menggangumu karena aku mengambil kayu dan rumput dari hutan mu?"
"Tidak, bukan karena itu tapi karena Aku menyukaimu, Sekar" kata Bayu Aji lirih, sambil memandang wajah ayu Sekar.
"Menyukai Aku?" Kata Sekar tak percaya sambil telunjuknya menunjuk wajahnya sendiri.
"Iya..." .
Sejak melihat Sekar ikut mbok Darmi kehutan pertama kali, Bayu Aji sudah jatuh hati pada Sekar. Dan mulai Saat itu Bayu Aji selalu mengawasi Sekar. Bahkan saat Sekar beberapa waktu yang lalu akan dilecehkan oleh pemuda kampung, Bayu Aji mengirim ular weling untuk mematuk laki laki itu hingga mati.
"Kenapa musti aku" kata Sekar melanjutkan.
"Manusia tidak dapat memilih kemana hati akan berlabuh, Sekar" balas Bayu Aji sambil tersenyum memadang gadis disebelahnya.
Sekar menoleh dan memandang wajah Bayu Aji, dia terkesima dengan senyum itu, dihatinya seolah ada genderang yang bertabuhan. Cepat Sekar menundukkan pandangannya. Takut jika lama lama dia memandang wajah tampan di sebelahnya justru orang disebelahnya akan mendengar suara detak jantungnya.
"Terus bagaimana kamu akan mengunjungiku?" Ucapnya lirih seraya memandang telaga biru.
"Aku akan mendatangimu dalam mimpimu atau menemuimu saat kamu ke hutan mencari kayu" jawab Bayu Aji.
"Aku punya cara sendiri untuk datang padamu"
"O ya...." Sekar masih tak mempercayai ucapan pemuda itu.
Dia asik menikmati pemandangan hingga waktu sudah hampir senja. Sekar baru tersadar, dia segera berbalik menghadap Bayu.
"Aku harus pulang, si mbok pasti cemas karena aku belum pulang" katanya sambil memandang laki laki itu. Gurat kegelisahan tergambar di wajahnya.
"Baiklah, ayo aku antar kamu pulang. Oh Ya, sebelum pulang apa kamu melihat sesuatu di sana?" Tunjuk Bayu Aji ke sebuah tanting pohon.
Ditempat yang ditunjuk Bayu Aji,Sekar melihat ada tujuh butir telur burung didalam sarang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sekar mengangguk tanda dia melihat apa yang ditunjuk Bayu.
"Ambillah, sebagai oleh oleh dariku"ucap Bayu Aji sambil tersenyum.
Sekar menuruti perintah Bayu, dia berjalan ke arah sarang burung itu dan mengambil telur telur tersebut, setelahnya Bayu Aji menyuruh Sekar memejamkan mata seperti tadi. Saat membuka mata, Sekar sudah berada di kandang kambing di belakang rumahnya.
Tanpa sepatah kata bergegas Sekar menuju rumahnya, dia berlari dengan cepat menuju pintu dapur. Saat Sekar akan mengetuk pintu, tiba tiba pintunya terbuka dari dalam, muncul wajah mbok Darmi dengan obor di tangannya. Wajahnya terlihat kaget saat melihat Sekar di balik pintu.
"MasyaAllah, nduk. Kamu dari mana aja?si mbok khawatir dari tadi kok belum pulang? Ini embok mau nyusul kamu ke hutan" kata mbok Darmi cemas.
"Mulihe kok sampe surup toh, nduk(pulangnya kok sampai senja toh nak)?ayo cepet masuk, mandi dan makan sana, embok sudah masak" lanjutnya sambil menarik Sekar untuk masuk kedalam.
Sebelum masuk kedalam rumah Sekar sempat menoleh kebelakang sebentar untuk memastikan keberadaan Bayu Aji, tapi pemuda itu hilang tanpa jejak. Sekar mengernyitkan alis, 'apa dia sudah pergi' ujarnya dalam hati.