Seorang gadis bersenandung kecil sambil menebang ranting ranting pohon besar yang sudah roboh dan mengering. Suara merdunya mendendangkan lagu tanpa judul yang dinyanyikan sesuka hati, tangannya yang lincah mengumpulkan ranting ranting yang sudah di potong dan mengikatnya jadi satu. Sesekali dia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. duduk diantara pohon tumbang sambil mendengarkan kicauan burung serimpi yang tiada henti.
Tak jauh darinya tampak wanita tua yang sedang menyabit rumput. Dia mengumpulkan rumput dan ditumpuk menjadi satu
"Sudah selsai, nduk(nak)?" Sapa nenek tua itu menghampiri gadis remaja nan jelita itu.
"Sampun(sudah), mbok. Embok sudah selsai mengumpulkan rumputnya?" Tanya gadis itu sambil mengangkat dan menggendong kayu dengan jarik (selendang panjang yang berfungsi untuk menggendong) di puggungnya.
"Uwes(sudah), nduk. Itu embok taroh di depan sana" katanya sambil menunjuk ke tumpukan rumput di depan mereka.
"Yo wes(ya udah), ayo kita pulang nanti keburu sore" ajak nenek itu ke gadis itu yang merupakan cucu satu satunya itu.
Gadis ayu itu bernama Sekar sedang nenek tua itu bernama Darmi. Mereka hanya tinggal berdua di rumah sederhana di desa Sumber Waras dikaki gunung Arjuno.
Bapaknya Sekar meninggal waktu Sekar baru di lahirkan, karna kecelakaan dihutan saat menebang pohon, konon katanya badannya tertindis pohon hasil tebangannya sendiri dan terlambat dibawa ke rumah sakit sehingga nyawanya tak tertolong dan tak berselang lama ibu Sekar menyusul suaminya meninggal bunuh diri karna depresi. Sehingga sekar kecil dibesarkan oleh mbok Darmi, ibu dari bapaknya Sekar yang hanya sebatang kara.
Dua puluh usia Sekar saat ini, seharusnya jika dia melanjutkan sekolahnya,dia sudah duduk di bangku kuliah bersama Ratih sahabatnya dikota. Tapi sayang karna ketidak adanya biaya impian itu harus Sekar pendam dalam hati, padahal Sekar termasuk siswi yang berprestasi saat sekolah. Dia selalu mendapat juara kelas dari tingkat Sekolah Dasar hingga Menengah Atas.
Sebenarnya Sekar di tawari beasiswa penuh jika melanjutkan studi, tapi tetap saja biaya sehari hari juga harus di tanggung mboknya jadi dia tak tega untuk mengambil beasiswa itu. Dia memilih menemani mboknya di rumah.
Sehari hari Sekar lebih banyak dihabiskan diladang bersama mbok Darmi ,untuk menanam jagung dan mencari kayu bakar seperti saat ini. Atau jika tidak pergi keladang, waktunya akan dihabiskan untuk menanam sayur mayur di perkarangan rumah.
Sebenarnya banyak gadis dikampungnya juga bernasib sama seperti Sekar, menghabiskan waktu di rumah atau di sawah dan tidak pergi sekolah, bahkan ada yang langsung kawin begitu lulus sekolah menengah atas. Jika tak beruntung mereka akan dikawinkan saat baru selsai sekolah menengah pertama.
Namun Sekar tidak mau menikah muda, dia masih mau sendiri dan menemani si mbok tanpa harus disibukkan dengan mengurus suami atau anak, padahal banyak pemuda kampung yang jatuh hati dan mengejar cinta Sekar, tapi Sekar selalu menolaknya.
Sekar adalah kembang desa Sumber Waras. Parasnya ayu campuran asia dengan barat, sehingga dulu disekolah dia sering dipanggil londo kampung. Konon katanya Sekar bukan anak biologis dari bapaknya. Ibunya Sekar sudah hamil ketika menikah dengan Saiful anak mbok Darmi.
Yang jelas wajah Sekar beda jauh dengan Saiful. Sekar memiliki hidung yang tinggi dan mancung dengan iris mata biru ciri khas orang barat. Sedang Wajahnya mungil mirip seperti Wulan ibunya, bodynya langsing dan kecil, kulitnya putih bersih serta rambut hitam bergelombang ciri khas orang asia, walau mbok Darmi menyadari kalau Sekar bukan cucu kandungnya tapi dia menyayangi Sekar seperti cucunya sendiri.
Hidupnya yang hanya sebatang kara membuat kehadiran Sekar sebagai pelipur lara, pengobat sepi. Mbok Darmi berusaha memberikan yang terbaik buat Sekar, menyekolah kannya hingga Sekolah Menengah Atas, walau dengan keterbatasan biaya. Sebenarnya mbok Darmi juga pengen menyekolahkan Sekar sampai perguruan tinggi seperti Ratih sahabat karib Sekar, tapi karna tidak punya uang terpaksa keinginan itu tidak terlaksana.
Hari ini mbok Darmi dan Sekar mencari kayu dan rumput agak jauh masuk kedalam hutan , karna rating pohon tumbang sudah jarang ditemui di pinggir hutan dan rumput hijau pun lebih banyak di dalam hutan.
Saat melewati jalan pulang, mbok Darmi berhenti sebentar untuk mengangkat tumpukan rumput dan memasukkannya ke dalam karung. Usianya yang menginjak enam puluh tahun lebih menyebabkan dia agak kesusahan mengangkat karung berisi rumput, sehingga Sekar berhenti dan menurunkan kayu yang digendognya untuk mebantu menganggkat rumput ke gendongan di puggung mbok Darmi.
"Kuat, mbok?" Tanya Sekar.
"Sudah Sekar bilang kalau ngisi rumput jangan banyak banyak" gerutu Sekar sambil mengangkat kayu dan menggendongnya lagi.
"Sayang, nduk. Rumputnya banyak , lumayan buat makan si ireng, bisa sampai tiga hari ga ngrumput lagi" jawab mbok Darmi sambil tertawa, memperlihatkan giginya yang tidak lagi utuh.
"Ya udah, embok jalan di depan biar saya dibelakang, nanti embok malah tertinggal kalau dibelakang" Sekar membuka jalan buat mbok Darmi.
"Ga usah, nduk. Kamu aja yang didepan, sambil nebas jalan biar tambah lebar"
Sekar diam tak menjawab , dia berjalan didepan mbok Darmi. Pandangannya lurus kedepan melihat jalan sambil sesekali tanganya mengayunkan parang yang dia pegang buat menebas rumput atau ranting kayu kecil yang menghalangi.
Cukup jauh sudah mereka berjalan, udara yang tadinya teduh sekarang sudah mulai terang. Rupanya mereka sudah sampai di pinggir perbatasan hutan dan ladang. Didepan hanya rumput ilalang yang menghalangi jalan. Tepat di samping sekar ada pohon beringin besar yang teduh.
"Mbok, kita istirahat disini dulu ya? Sekar capek" tanpa menunggu jawaban mbok Darmi, Sekar segera menurunkan kayunya dari gendongan dan menoleh kebelakang. Dibelakang ternyata tidak terlihat sosok mbok Darmi "Tu kan, embok ketinggalan lagi " gerutunya.
Sekar duduk bersandar di pohon dan mengambil botol minum yang dia selipkan diantara ikatan kayu, dia meminum airnnya hingga tertinggal separuh. Dikipas kipaskannya selendang yang dia kenakan ke depan wajahnya untuk menghalau udara yang panas. Sesekali kain selendangnya dipakainya buat mengelap keringat di wajah ayunya. Kulitnya yang putih terlihat memerah karena terpapar sinar matahari.
"Sekar, sek( masih) mau istirahat? mbok duluan ya nduk, nanti si ireng teriak teriak kelaparan" sapa mbok Darmi sambil memandang cucunya yang sedang leyeh leyeh(duduk istirahat sanatai) duduk bersandar di pohon beringin.
"Inggih, mbok. Bentar lagi Sekar nyusul"
Jawab Sekar sambil memejamkan matanya. Semilir angin membuat sekar menguap beberapa kali.
"Srek,srek" suara langkah mbok darmi menginjak dedaunan kering mulai menjauh meninggalkan Sekar seorang diri. Daun Beringin yang rimbun disertai angin yang bertiup sepoi sepoi membuat Sekar terlelap sambil duduk.