Jam tujuh malam mereka sampai di gedung tempat acara dilangsungkannya pernikahan teman Bagas. Ada beberapa wajah yang Sekar kenal juga hadir, bahkan Ratih sahabatnya pun ada. Dia berdiri menjadi pagar ayu untuk menyambut para tamu.
"Ratih..." Sekar terpekik senang demi melihat sahabatnya ada disana, wajahnya sumringah melihat teman bermainnya itu. "Sekar..., ya Allah cantiknya kamu, say..." Ratih berhambur ke arah Sekar. Dua gadis itu berpelukan melepas rindu. Ratih mengurai pelukan saat melihat Bagas ada disamping Sekar, "kamu kesini berdua mas Bagas, ya..?" Ratih berbisik kepada Sekar sambil melirik Bagas. "Iya kami datang berdua, hehehe..", sebenarnya Sekar tak enak pada Ratih, bagaimana tidak Ratih adalah penggemar berat Bagas.
Gadis itu sangat memujanya, bahkan beberapa kali dulu dia berkirim surat kepada Bagas saat masih sekolah dan Sekar adalah kurirnya tapi Bagas tidak pernah menanggapinya.
"Ciye...kayanya ada yang jadian, nih dan bentar lagi ada yang mau menyusul ke pelaminan ini" goda Ratih dengan wajah sedikit kecewa.
"Doain, ya" Bagas berucap sambil tersenyum.
"Apa an, sih...ini kebetulan aja Ratih, aku diminta untuk nemenin mas Bagas kondangan, itu aja ga lebih" seloroh Sekar manyun.
"Iya...iya percaya hehehe..., ayo sini aku temenin ambil makan" Ratih menarik Sekar ke tempat makanan dihidangkan, berbagai makanan tersaji diatasnya ada gulai, sate, soto, gado gado, bakso, rendang dan masih banyak makanan lainnya. Bagas mengikutinya dari belakang. "Makan gulai kambing nah, kamu kan suka mumpung masih ada" katanya lagi sambil menyendokkan gulai ke piring sekar banyak banyak. "Wah...enak enak, aku mau itu sama itu juga" Sekar menunjuk rendang daging dan telur balado. Ratih dengan sigap menambahkannya sambil cekikikan. "Udah ini dulu, nanti tak ambilin lagi kalo masih kurang, malu banyak yang ngantri" bisiknya pada Sekar. "Oke.." Sekar mengangkat jempolnya. Sementara Ratih membawakan nasinya, Sekar mengambil buah dan juga puding favoritnya.
Setelah mereka selsai mengambil makanan, Ratih mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk, "kita duduk di pojok sana, yuk. Sambil ngrumpi, lama kita ga ngegosip" Ratih berjalan menuju tempat kosong di pojokan, tangan satu memegang piring dan yang satu menarik Sekar. Bagas hanya diam mengikuti dari belakang sambil membawa piring makanan juga. Setelah sampai di tempat duduk Sekar langsung menyantap makanannya dengan lahap.
"Kamu kan dikota, tih? Kok ada disini" tanya Sekar dengan mulut penuh makanan.
"Yang nikah ini sepupu aku makanya aku dari kota langsung kesini, tau lah? aku bolos ini. hahaha"
"Mas Bagas tinggal sekripsi ya, kok jarang keliatan di kampus" lanjut Ratih beralih memandang Bagas.
"Iya, bentar lagi rampung jadi jarang ke kampus"
Ratih hendak melanjutkan bicaranya saat seseorang memanggil namanya.
"Ratih..." seorang gadis muda melambaikan tangan pada Ratih.
"Bentar ya aku tinggal, makan di kenyangin...Sekar kalo mau nambah suruh aja mas Bagas yang ambil hehehe...o ya kalo dah mau pulang panggil aku ya" katanya sambil berdiri dan meninggalkan mereka berdua.
"Ho'oh" Sekar memandang kepergian sahabatnya itu.
"uhuk...uhuk" karena mulutnya kepenuhan Sekar tersedak makanan, dengan sigap Bagas mengambilkan aqua gelas diatas meja dan memberikannya pada Sekar.
"Makasih, mas"
"Kalau makan hati hati, di telan dulu baru bicara"
"Iya, hehehe..."
Dari jauh Ratih melihat interaksi mereka berdua, ada rasa perih dihatinya. Dari dulu dia sangat menyukai Bagas, berbagai cara dia gunakan untuk menarik perhatian pemuda itu bahkan dia sekolah dikampus yang sama dengan Bagas hanya untuk bisa bersama, tapi laki laki itu selalu menolaknya. Bagas selalu mengacuhkannya. Ratih menunduk, sebutir air bening jatuh di pipinya, cepat dia hapus supaya tidak ada yang melihat. Dalam hati sebenarnya dia tahu kalau Bagas menyukai Sekar bukan dirinya.
Sering dia melihat, diam diam laki laki itu memandangi Sekar. Sakit sebenarnya hatinya tapi Ratih pantang menyerah untuk mendapatkan cinta Bagas.
Jam delapan malam Sekar dan Bagas pamit pulang, Ratih ikut pulang ke rumahnya.
Ratih dan Bagas duduk di depan dan Sekar duduk di belakang. Sebenarnya pemuda itu enggan jika Ratih yang disampingnya, tapi Sekar bersikeras ingin duduk di belakang, membuat Bagas mengalah.
"Hati hati mas nyetirnya, liat jalan nanti nabrak" tegur Ratih saat menyadari Bagas menyetir sambil melihat ke kaca depan terus.
Bagas nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Diliriknya lagi Sekar, yang dilirik malah melotot. Ratih tertawa melihatnya.
"Berapa hari kamu liburnya, tih?" Tanya Sekar.
"Pengennya lama tapi lusa sudah harus balik, biar cepet lulus seperti mas Bagas" ujar Ratih sambil melirik pemuda disebelahnya.
"Besok mas maen kerumah Sekar, boleh?" Bagas melihat sekar dari kaca depan.
"Aku juga mau maen kerumahmu, Sekar. Kangen sama si mbok" timpal ratih
"Boleh boleh, jam berapa?" jawab Sekar
"Hmmm....jam berapa enaknya, mas?" Ratih meminta pendapat Bagas
"Habis magrib aja gimana, mas?" Lanjutnya lagi . saat yang dimintai pendapat diam saja.
"Boleh" jawab Bagas dingin.
"Oke siap, nanti di rumah aku rebusin pisang sama kacang ya"
"Masakin sayur tewel juga yo, Sekar?" Pinta Ratih
"Eh nglunjak" Sekar dan Ratih tertawa.
Bagas mengantarkan Ratih pulang kerumahnya terlebihdulu, kebetulan Rumah Ratih yang pertama dilewati.
Setelah Ratih turun, mobil bejalan menuju rumah Sekar. Suasana sunyi didalam mobil, hujan rintik mulai turun.
"Sekar.. aku menyukaimu" ucap Bagas memecah kesunyian. Tangannya meremas setir menunggu respon Sekar, tapi hening tak ada jawaban. Terdengar dengkuran halus dibelakang, Bagas melirik kaca depan, terlihat Sekar tertidur dengan sangat pulas entah sejak kapan.
"Huft" Bagas memukul setir, dia memberanikan diri untuk mengutarakan rasa sukanya pada Sekar, tapi gadis itu malah tertidur.
Mobil memasuki perkarangan rumah mbok Darmi dan berhenti tepat didepannya, Bagas diam menunggu, tak berani membangunkan Sekar karna gadis itu tertidur sangat nyenyak. Bagas menghadap ke belakang dan memandang wajah gadis itu. "Cantik.." gumamnya. Tangannya menyentuh wajah gadis itu, menyingkirkan anak rambut yag menutupi wajahnya.
Sekar mengernyit saat ada rasa gatal di wajahnya, dia membuka mata dan terkejut saat tatapannya bertemu dengan manik hitam Bagas yang sedang memandanginya.
"Kita sudah sampai?" Sekar mengerjapkan matanya karena gugup
"Iya..dari tadi"
"Kok mas Bagas ga bangunin aku?"
"Habis kamu tidur nyenyak betul, sampe ileran gitu jadi ga tega ngebanguninnya"
"Hah...iya kah" Sekar segera mengelap mulutnya, "Ga ada kok"
Bagas tertawa, Sekar manyun karna tau kalau dia dikerjain.
"Sudah sana masuk, lanjutin tidur didalam nanti keburu larut, malah si mbok cemas lagi, dikira aku nyulik cucunya yang paling cantik ini"
"Iya..makasih ya sudah ngajak jalan dan ga usah mampir sudah malem hehehe" Sekar melambai dan berbalik menuju rumahnya.
Bagas melihat gadis itu sampai hilang di balik pintu. Setelahnya dia memutar mobil dan pulang menuju rumahnya.