"Assalamualaikum" Sekar membuka pintu yang tak dikunci, sunyi didalam rumah tak ada jawaban.
Lampu dapur masih menyala, Sekar mengarahkan langkahnya menuju dapur. Mbok Darmi terlihat duduk dilantai beralaskan tikar dengan mata terpejam sambil memegang jagung kering yang hampir jatuh dari tangannya. Sekar mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Astaghfirullah" mbok Darmi terperanjat dan menoleh.
"Kue toh ,nduk(kamu kah, nak)?" dia kaget, tangannya menggosok gosok dadanya yang berdebar kencang.
Sekar cekikikan.
"Keget si mbok, untung ra jantungan"
"Mbok kalo sudah ngantuk ya tidur dikamar, kok malah tidur disini? dilanjutin besok aja mipil jagungnya"
"Dari pada diam sambil nungguin kamu, nduk"
Sekar mengeratkan pelukan, mbok Darmi adalah orang yang paling penting dalam hidupnya, Sekar amat mencintai wanita renta itu. Jika tidak ada mbok Darmi, dia tidak akan bisa hidup sampai sekarang. Diletakkannya dagunya di pundak mbok Darmi.
"Ini kenapa kesayangan mbok kok manja betul, pasti ada yang dimau?"
"Enggak lah..., emang kalau Sekar manja sama mbok harus ada maunya? Sekar tu sayang banget sama mbok"
"Lah biasa begitu..."
Sekar cemberut mendengarnya. Mbok Darmi tertawa melihat tingkah cucunya itu
"Iya..iya sayang mbok, lah kalo Sekar ga sayang sama mbok terus siapa yang bakal sayang sama si mbok yang sudah tua dan jelek ini?"
Sekar melonggarkan pelukan.
"Sampun dalu( sudah malam), tidur dikamar gih, nanti masuk angin" Sekar menuntun mbok Darmi ke kamar.
"Kamu kok ayu tenan, nduk( kamu kok cantik betul nduk), ini bajunya siapa yang kamu pake? kok Bagus"
"Bajunya bu lurah pas masih muda katanya, mbok, buat Sekar "
"Oalah....gitu toh" mbok Darmi sedih memandang Sekar, cucunya ini ga pernah neko neko, selalul nrima. Ga pernah minta ini itu kaya gadis lain.
"O ya nduk, di padusan(tempat mandi) mbok liat ada bungkusan daun, itu apa toh?"
"Ya Allah...Sekar lupa mbok, itu telur burung dari Bayu, bau kah mbok?"
" Bayu sopo, nduk? Kok ngasih telur burung segala"
"Embok belum kenal, nanti tak kenalin...bentar Sekar ambil dulu ya mbok mumpung ingat, besok bisa buat sarapan"
Sekar berlari menuju kamar mandi dan mengambil bungkusan telur itu, ternyata pas dibuka dalamnya ada emas berbetuk telur burung tujuh biji. Sekar kaget dan berlari lagi ke mbok Darmi.
"Mbok...mbok..." Sekar berteriak memanggil mbok Darmi
"Opo toh nduk? Ga ilok malem malem anak wedok teriak" mbok darmi datang menghampiri Sekar.
Sekar membuka bungkusan daun dan memperlihatkan telur emas itu ke mbok Darmi.
"MasyaAllah nduk, ini dari mana?" Mbok Darmi memegang butiran telur emas itu sambil menggigitnya.
"Iki emas betulan nduk, kamu dapat dari mana?" Suaranya sedikit meninggi.
Sekar bingung mau jawab apa, "emmm...Bayu yang ngasih mbok, katanya oleh oleh"
"Kok ada orang yang ngasih emas ke kamu, kamu kenal sudah lama? Orang mana si Bayu itu kok baik betul ngasih emas ke kamu Sekar?"
"Orang kota, mbok. Sekar ketemunya pas dihutan cari kayu, dia kesasar. Makanya kemaren Sekar pulang magrib, soalnya ngantar dia dulu. Dia ngasih ini, Sekar kira telur ga taunya emas" Sekar gugup karena dia berbohong.
Mbok Darmi terlihat manggut manggut.
"Coba besok kita jual kepasar sebiji,mbok. Sekarang embok yang simpan dulu ya" Sekar menyerahkan telur emas itu ke mbok Darmi.
Sekar masuk kekamarnya mengambil handuk dan kekamar mandi. Badannya terasa lengket karena berkeringat. Setelah mandi dia merebahkan tubuhnya di kasur menerawang mengingat kembali kejadian kemaren saat mengambil telur telur itu. Dengan jelas apa yang diambilnya adalah telur kenapa berubah menjadi emas. Dia tidak habis fikir.
Lama dia memandang langit langit kamar, terbayang kembali wajah Bayu Aji yang rupawan dan janjinya akan menemuinya saat dia tidur. Dipejamkan matanya dan dia mulai terlelap dalam mimpinya.
Dialam mimpi Sekar melihat Bayu Aji sedang berdiri menunggunya di depan sebuah bangunan, Bayu yang sekarang pakaiannya tidak seperti kemaren saat di temui.Dia menggunakan pakaian bangsawan berwarna putih dan di kepalanya tidak ada mahkota, sangat tampan menurut Sekar. Sepertinya sekarang mereka berada di sebuah pasar modern dengan bangunan yang sangat bagus. Sekar belum pernah kepasar seperti ini sebelumnya. Banyak pertunjukan di dalam pasar, Bayu Aji menggenggam tangan Sekar dan mengajaknya jalan jalan berkeliling.
Banyak jajanan yang dijual di sana, pertunjukan sulap pun ada. Sekar takjub melihatnya.
"Aku juga bisa" Bayu Aji melihat wajah Sekar yang terkagum kagum.
"Bisa apa?"
"Bisa seperti itu" Bayu menunjuk ke arah pesulap.
"Betulkah.." Sekar berfikir sejenak dan mengingat telur telur itu, pasti hal mudah buat Bayu untuk merubah sesuatu.
"Iya aku percaya" lanjutnya sambil menarik Bayu untuk berjalan lagi.
Melihat wajah Sekar, Bayu mengartikan bahwa dia tidak percaya padanya. Tiba tiba bayu berhenti berjalan. Sekar yang menyadari segera menoleh dan menghadap bayu tak mengerti.
"Kamu tidak percaya? Coba lihat ini" bayu menangkupkan kedua tangannya dan menggosok sebentar kemudian dia membuka telapak tangannya, terlihat sekuntum bunga mawar berwarna merah.
Dan menyodorkannya pada Sekar.
"Untukmu"
Sekar sangat senang dan tersenyum menerima bunga itu, wajahnya terlihat sedikit kemerah merahan mebuat dia semakin cantik.
"Aku bisa memberikan lebih banyak jika kamu mau"
"Tidak perlu, menurutku satu lebih istimewa dari pada banyak"
Dengan riang Sekar berjalan dan menarik tangan Bayu, tangan kecilnya terasa hangat saat menggenggam telapak yang besar itu.
Bayu mengikuti langkahnya dan tersenyum, hatinya terasa hangat saat melihat gadis itu tertawa.
Sekar melihat sebuah kerumunan orang orang yang membeli sesuatu. Ditariknya Bayu untuk mendekat kesitu.
"Kita beli itu juga yuk, kamu bawa uang kan? Aku ga bawa" Sekar menoleh pada Bayu
Bayu mengangguk dan mengikuti Sekar.
Setelah dekat Sekar melihat apa yang dibeli oleh orang orang tersrbut.
"Cenil? Lupis?...aku kira di pasar bagus seperti ini ga jual jajanan kampung kaya gini" Sekar heran itu jajanan yang sering di beli di pasar di kampungnya ternyata disini ada juga.
"Gimana? Masih mau?"
"Mau..."katanya semangat.
Bayu memesankan sebungkus cenil dan lupis dan memberikannya pada Sekar, gadis itumemakannya dengan lahap.
"Kamu suka?"
"He eh...ini lebih enak dari yang biasa aku beli"
"Mau lagi?"
"Enggak...ini udah cukup, porsinya sudah banyak " Sekar malu untuk mintanya lagi.
Mereka berjalan menyusuri penjual bunga. Banyak macam bunga dijual membuat Sekar penasaran dan bertanya jenis bunga bunga itu.
Dengan sabar Bayu Aji menjawab semua pertanyaan Sekar.
Sekar kelelahan karena berjalan cukup lama. " Kita duduk di situ yuk" dia menarik Bayu untuk mengikutinya.
Dibawah pohon mereka duduk berdampingan, memandang orang yang sedang berlalu lalang.
" Kemaren sore Sekar pergi ke acara?" Bayu memecah kesunyian