"Kemaren sore Sekar pergi ke acara?" Bayu memecah kesunyian
Sekar menoleh pada Bayu. Ada rasa tak enak dalam hatinya, walau dia tahu bahwa saat ini dirinya menganggap Bayu teman dan mungkin Bayu pun menganggap Sekar hanya sekedar teman juga seperti dirinya.
"Iya...bersama mas Bagas, kok tahu?" Sekar mengernyit penasaran.
"Aku tahu semua kegiatanmu karena aku bisa melihat semua yang kamu kerjakan walau kamu jauh dari aku, Sekar"
"Oh ya?kamu mengawasiku?" Sekar menutupkan kedua tangannya ke dadanya dan menjaga jarak. Wajahnya waspada sekaligus cemas. Jangan jangan Bayu diam diam mengintipnya saat melakukan aktifitas apapun. Sorot matanya penuh curiga.
Bayu tertawa melihat tingkah Sekar. "Aku bisa melihat semua kecuali saat kamu mandi dan buang hajat, itu pantangan buatku"
Sekar sedikit lega mendengar penjelasan Bayu. Tapi tetap dia masih merasa sedikit curiga.
" Kamu tak percaya?"
Sekar mengangguk dengan cepat.
" Percayalah padaku, walau aku bisa melihatmu dalam melakukan apapun tapi aku tak akan melewati batas. Aku bukan orang yang seperti itu"
"Oh ya... anggap saja aku percaya padamu. Emmm... apa Kamu tidak marah, melihat aku pergi dengan laki laki lain?" Entah kenapa pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya. Dia merutukki kebodohannya sendiri.
Bayu menoleh padanya. Dia meneliti setiap inci rupa gadis itu.
"Tidak..aku tidak akan mengganggu kehidupan manusiamu kecuali itu membahayakanmu"
"Syukurlah..." Entah kenapa hati Sekar merasa lega. Mengetahui kalau Bayu tak marah.
"Aku senang kamu mengawasiku, aku jadi punya pelindung, Jadi aku tak takut apapun lagi sekarang" lanjutnya bersemangat.
"Sekarang tidak marah"
"Maksudnya?" Sekar mengernyit
" Sekarang aku tidak marah kamu berjalan dengan laki laki lain, karena kamu belum menjadi milikku. Tapi kelak Aku akan marah jika kamu sudah menjadi milikku sepenuhnya, dengan kata lain jika kamu suka padaku dan kita menikah. Saat itu tidak ada laki laki yang boleh mendekatimu"
Bayu menatap Sekar dengan intens, membuat gadis itu terlihat kikuk.
"Apa kamu mulai menyukaiku, Sekar?" Lanjutnya serius
Sekar bergeming. Sebenarnya akhir akhir ini Wajah tampan Bayu memang selalu terbayang dipelupuk matanya tapi untuk sebuah cinta Sekar belum tahu.
"Aku menyukaimu, sejak pertama melihatmu aku menyukaimu dan sampai sekarang aku tetap memyukaimu, bagaimana denganmu?" Bayu menggenggam erat tangan Sekar.
"Entahlah...aku tak tahu, aku belum bisa menentukan apa yang aku rasa saat ini sebuah cinta atau bukan" Sekar sedikit ragu
"Apa kamu menyukai pemuda yang bersamamu tadi siang? Bagas bukankah itu namanya?"
"Tidak...aku hanya mengganggap mas Bagas kakak, tidak lebih"
"Hmmm... kalau begitu aku menunggu jawabanmu"
Sunyi. Kedua orang itu berjalan dalam diam dengan perasaanya masing masing.
*******
Pagi hari mbok Darmi dan Sekar pergi kepasar desa. Kebetulan kebutuhan dapur sedang habis.
Setelah belanja kebutuhan dapur, Sekar dan mbok Darmi mampir ke toko emas. Mereka memilih toko emas yang paling besar. Setelah melayani seorang pembeli, pelayan toko mendekati mbok Darmi dan Sekar.
"Ada yang bisa dibantu mbak?" Dengan ramah pelayan menyapa Sekar.
"Mau jual emas, nduk" mbok Darmi menimpali dan mengeluarkan satu butir telur emas yang dibawanya.
Pelayan itu menerima telur itu dan melihatnya dia sedikit heran, selama dia jaga toko belum ada orang yang jual emas yang berbentuk seperti telur. Sangat unik menurutnya.
"Bentar ya nek saya tanya bos saya dulu karena saya ga tau harga beli emas ini" pelayan itu tersenyum sambil menuju kebelakang masuk kedalam sambil membawa emasnya.
Tak berselang lama pelayan itu keluar bersama bapak bapak keturunan cina, sepertinya dia pemilik toko emas itu.
"Ini, koh, orangnya" embak pelayan menunjuk pada mbok Darmi.
"Nek, ini emas murni ,sudah saya timbang dan beratnya seperempat kalau dijual harganya seratus dua puluh lima juta, kalau nenek mau jual, sekarang saya ga ada uang sebanyak itu" engkoh itu menjelaskan sambil sesekali melihat ke arah Sekar.
"Kalau nenek mau, sekarang saya ada cash lima puluh juta kurangnya besok sore baru ada" lanjutnya lagi
"Iya, koh sembarang kokoh aja baiknya gimana"
"Bentar ya saya tinggal ambil uangnya dulu, tolong buatkan kwitansinya ya" si engkoh menyuruh karyawannya lalu masuk kedalam.
Agak lama mbok Darmi dan Sekar menunggu. Sekitar setengah jaman bapak tadi keluar dengan tas kecil di tangannya. Dibukanya tas itu dan mengeluarkan uang lima gepok sepuluh jutaan.
"Ini nek uangnya, bisa dihitung dulu"
"Ga usah, koh. Saya percaya"
"Menek bawa tas?"
"Pake kresek hitam aja, koh"
Bapak itu menyuruh mbak pelayan mengambil kresek hitam dan menyerahkan uang beserta kwitansinya ke Mbok Darmi. Setelah mengucapkan terimakasih dan janjian besok jam tiga akan kembali mengambil sisa pembayarannya, mbok Darmi dan Sekar pergi dari toko emas itu.
"Banyak dapatnya ya, mbok?"
"Iya , nduk. Embok ga pernah pegang uang sebanyak ini, embok ndredek(deg degan)"
"Disimpen aja uangnya mbok, biar bisa buat baikin rumah, nanti kita mampir ke bank dekat situ mbok, buat buka tabungan. Jadi yang dipegang ga usah banyak banyak"
Mbok Darmi setuju dengan saran Sekar. Mbok Darmi khawatir uangnya malah hilang diambil maling, walaupun selama ini rumahnya tak pernah dibobol maling tapi rasa khawatir itu ada.
Sampai disebuah bank pemerintah Sekar dan mbok Darmi masuk.
Setelah tanya pada satpam dan diberitahu dia harus kemana untuk mebuka tabungan, mbok Darmi dan sekar menuju ke sebuah meja pelayanan yang kosong.
"Permisi" Sekar dan mbok Darmi duduk di depan mbak yang diatas mejanya ada tulisan customer service Rida.
"Silahkan mbak, ada yang bisa dibantu" dengan ramah mbak cantik yang bernama Rida itu menyambutnya.
"Begini mba, saya mau buka tabungan. Syaratnya apa ya?"
"KTP asli sama isi form ini mba" Rida menyodorkan selembar formulir ke hadapan Sekar.
"Mbok ada bawa KTP?" Sekar berbisik pada mbok Darmi.
"Ada, nduk" mbok Darmi mengeluarkan KTP dari dompet usangnya dan memberikan kepada Sekar. Setelah itu Sekar mengisi formulir, dan Rida menjelaskan masing masing jenis tabungan dan keuntungannya. Setelah selsai mengisi formulir Sekar menyerahkan formulir dan KTP mbok Darmi ke Rida.
"Silahkan nek tanda tangan disini" Rida menunjukkan tempat dimana Mbok Darmi harus tanda tangan.
"Saya ga bisa tanda tangan ,nduk"
"Bisa cap jempol aja kah ,mba?" Sekar menimpali
"Bisa bisa" Rida tersrnyum dan menyuruh mbok Darmi cap jempol.
Setelah satu jam Sekar dan mbok Darmi keluar dari bank. Sebagian uang di tabung dan sebagian di pegang. Sebelum pulang mereka membeli banyak makanan karena sore nanti Ratih mau datang bersama Bagas. kebetulan mereka dapat rezeki lebih hari ini.
Matahari sudah condong ke sisi barat Srkar dan mbok Darmi pulang kerumah dengan menggunakan ojek