Bab 10

1013 Kata
Dua ojek tumpangan mbok Darmi dan Sekar berhenti di depan rumah, setelah barang belanjaan diturunkan dan ojek dibayar, mereka pergi meninggalkan kediaman Mbok Darmi. "Wah.. belanjanya banyak sekali mbok" mbak Sumi tetangga sebelah mengagetkan keduanya. "Ini buat kebutuhan sebulan, ada apa toh yuk Sumi kok kesini? Tumben" Sekar memyelidik. Tetangganya itu jarang datang kerumahnya kalaupun datang itu jika ada maunya. Yang paling Sekar ga suka yuk Sumi itu senang bergosip. "Mau minta talas, itu kang Ujang pengen sayur talas" "Betul, kan" gerutu Sekar. Mbok Darmi menyikut Sekar dan berbisik pelan "Ga boleh begitu, nduk" Sekar cemberut. "Iku nduk, nang mburi seng cidek sumur( itu nak, dibelakang yang dekat sumur) talasnya besar besar, cabut sendiri ya mbok masih sibuk ini" mbok Darmi menunjuk kebelakang. "Kalo gitu besok aja mbok aku mintanya kalo mbok bisa nyabutkan" Sumi beranjak meninggalkan Sekar dan Mbok Darmi yang melongo. "Tuh kan, mbok. Yuk Sumi itu kalo di baikin makin nglunjak, mbok. Sudah minta masih minta diambilkan segala ga mau ambil sendiri, mbok itu terlalu baik" Sungut Sekar . "Wes..ga boleh begitu sama tetangga, selama kita mampu ya ga papa toh, kan kita yang dapat pahala" Sekar menghentakkan kakinya dan berjalan masuk kerumah sambil menenteng belajaan. Mbok Darmi pun mengikutinya dari belakang dengan belanjaan di tangan. Menurut Sekar si mboknya itu terlalu baik sehingga dimanfaatkan oleh orang, bukan hanya Sumi ,tetangga tetangganya yang lain pun gitu kalau minta apa apa selalu minta disediakan tidak mau mengambil sendiri. Dengan manyun Sekar menyusun belanjaanya di dapur dan menaruh bumbu bumbu yang dibelinya tadi ketempatnya. Dapur mbok Darmi memang tak bagus,hanya dapur kecil dengan lantai semen yang belum diaci. Walau tak terlihat bagus tapi Sekar menatanya dengan rapi sehingga sedap di pandang mata. Sekar mengeluarkan ayam yang dibelinya tadi dipasar, memotong motongnya dan membersihkannya. Sementara mbok Darmi bertugas membuat bumbu. "Mbok, ayamnya di goreng aja ya? Soalnya Ratih minta dimasakin sayur tewel" Sekar menghampiri mbok Darmi yang sedang mengulek. "Berarti ngambil dulu tewelnya,nduk" "Siap mbok, biar sekar yang ambil" gegas sekar kebelakang dengan membawa arit. Setelah mengambil tewel dan membersihkan, sekar memotong motong tewel menjadi kecil kecil dan mencucinya. "Ni mbok, tewelnya. Sekar mau peras santan dulu ya" "Loh emang kamu beli santan tadi, nduk" "Iya dong, mbok" "Yo wes, bumbu uleknya di paruh buat bumbu ayam sama bumbu sayur, tadi si mbok bikinnya banyak kok" "Siap.." "O ya...nduk, besok kamu aja yang ambil sisa uangnya ya, soalnya mbok mau keladang liat jagung sama ngrumput. Persediaan rumput si ireng sudah habis" "Iya mbok, nanti langsung di tabungin aja ya, mbok? "Iya, nanti sekalian kamu beli baju beberapa setel gitu dipasar" "Baju Sekar kan masih bagus bagus, mbok" "Sudah beli aja ga usah ngeyel" Sekar mengangguk. Tangannya asik menggoreng ayam. Sedang di kompor sebelahnya tewel di masak dengan bumbu lengkap pakai santan, ceker dan sayap dimasukkan kedalam sayur tewel sehingga tambah sedap. Setelah hampir dua jam Sekar dan mbok Darmi masak akhirnya hidangan sederhana selsai juga. Sayur santan tewel, ayam goreng, tahu dan tempe goreng, sambel tomat dan es buah. Semua sudah tersaji di atas meja, Sekar pamit mandi ke mbok Darmi yang sedang duduk santai meminum teh. Selsai mandi Sekar merebahkan badannya di atas kasur tipis di kamarnya, badannya terasa letih seharian ini. Baru dia terlelap dalam buaian mimpi saat mbok Darmi mengetuk pintu kamarnya. "Nduk, nak Bagas sama Ratih sudah datang itu" Sekar mengucek matanya dan turun dari ranjang menuju ke pintu. Saat membuka pintu dilihatnya Ratih dan Bagas diluar duduk di teras sambil sesekali suara Ratih terdengar cekikikan. Sekar kedepan dan menemui mereka berdua. "Anak gadis kok tidur magrib magrib toh" Ratih memandang Sekar sambil tertawa. "Iya...capek aku habis masakin pesenamu" Sekar pura pura cemberut. "Jadi aku dimasakin beneran, nih. Senengnya" Ratih berjingkrak ke girangan. Gadis itu dulu sering bermain kesini dari pagi hingga petang menjelang. Walau ibunya bu Susi tidak menyukai tapi Ratih tidak menggubrisnya. "Sekar itu anak haram jangan dekat dekat dia, nanti kamu berperilaku buruk sepertinya" selalu itu yang diucapkan pada Ratih membuat anak kecil itu jengah. Memang di kampung berhembus kabar kalau Sekar itu anak haram karena Sekar tidak ada mirip miripnya dengan Saiful bapaknya. Ada yang bilang kalau Wulan ibunya Sekar itu simpanan bule dan ditinggal pulang kenegaranya, ada yang bilang kalau Wulan jual diri dan Sekar anak bule pelanggannya. Gosip itu yang membuat ibunya bunuh diri saat Sekar masih kecil dan Sekar kecil dijauhin sama anak seusianya. Sekar yang tidak punya teman menyambut Ratih dengan suka cita, kadang sebenarnya dia kasian pada temenya itu kalau di susul ibunya dengan kayu kecil di tangan sehingga membuat anak keci itu berlari terbirit b***t ketakutan. "Kok malah melamun" Ratih menyenggol Sekar. "Hehehe..." Sekar hanya tertawa kecil. "O ya...ini bajumu kemaren yang ketinggalan" Bagas menyerahkan paper bag ke Sekar. Sekar menerimanya "Terimakasih, mas" "Eh..masuk yuk, diluar banyak nyamuk loh" Sekar berjalan kedalam diikuti Ratih dan juga Bagas. Ereka duduk di sofa butut di ruang tamu. Sekar dan Ratih asyik bercerita masa masa kecil mereka, saat mereka main hujan hujanan, saat mereka bolos sekolah. "Kalau Sekar mah enak banyak yang naksir, lah kalo aku ga ada satupun" Ratih manyun sambil melirik Bagas. "Kata siapa? Lah itu si Iwan dulu kan pernah naksir kamu toh, tih. Cuma kamunya aja yang tergila gila sama mas Bagas" Sekar tertawa cekikikan. "Kamu itu ngomong apa toh, Sekar?" Bagas memandang Sekar dengan raut muka tidak suka.Yang di pandang cuma nyengir kuda. Sebenarnya Sekar tau kalau Bagas menyukainya, malam itu dirinya belum benar benar tertidur saat Bagas mengutarakan isi hatinya, dia masih bisa mendengar jelas tapi dia tak berani mendengarnya dan memilih berpura pura tidur walau pada akhirnyaa dia terlelap sebentar. "Ayo makan dulu, nanti keburu malam" mbok Darmi memanggil mereka dari dapur. "Siap, mbok" seru mereka bebarengan. Ratih nerhambur ke dapur disusul Sekar dan Bagas di belakang. Di meja sudah ada hidangan yang di masak tadi oleh sekar. Satu kursi panjang dan dua kursi pendek dari kayu mengelilingi meja. Sekar memilih duduk di sebelah mbok Darmi dan Ratih duduk di sebelah Bagas. "Ayo dimakan! Ga seenak makanan di rumah kalian tapi harus dihabisin ya" ujar mbok Darmi sambil menyendokkan nasi ke piring Ratih dan Bagas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN